Selain Kemo, Pengobatan Ini Perpanjang Harapan Hidup Pasien Kanker

Rochimawati, Sumiyati
·Bacaan 2 menit

VIVA – Penyakit kanker kolorektal (KKR) atau kanker usus tidak bisa dianggap remeh. Berdasarkan data Globocan 2012, insiden kanker kolorektal di Indonesia, yaitu sebesar 12,8 per-100.000
penduduk usia dewasa, dengan mortalitas 9,5 persen dari seluruh kasus kanker.

Saat ini, kanker kolorektal di Indonesia menempati urutan ketiga. Faktor penyebab KKR, sekitar 70 persen dipengaruhi oleh lingkungan, termasuk kebiasaan makan, aktivitas fisik, merokok dan konsumsi alkohol.

Sementara 25 persen dari kasus KKR memiliki kecenderungan genetik, dan 5 persen dari pasiennya memiliki faktor keturunan yang terkait dengan perkembangannya.

Namun, jangan khawatir. Konsultan Hematologi Onkologi Medik FKUI-RSCM, Dr. dr. Ikhwan Rinaldi, Sp.PD-KHOM, M.Epid, FINASIM, FACP, mengatakan, terapi untuk kanker, termasuk kanker kolorektal saat ini telah berkembang dengan sangat pesat baik dalam diagnosis maupun pengobatan.

Salah satu yang dikembangkan dalam KKR selain kemoterapi dan imunoterapi, yaitu personalised medicine, dengan tujuan memberikan ketahanan hidup yang lebih panjang bagi pasien kanker kolorektal yang bermetastasis.

"Akibatnya terjadi perubahan besar-besaran dalam diagnosis dan pengobatan kanker pada umumnya dan pengobatan kanker kolorektal pada khususnya. Pengobatan kanker kolorektal dapat dibagi menjadi 3 klasifikasi pengobatan, yaitu pengobatan pada kondisi lokal (awal), lokal lanjut (menengah) dan metastasis (lanjut)," ujarnya saat virtual media breafing, belum lama ini.

Dokter Ikhwan melanjutkan, kondisi lokal dan lokal lanjut ini didekati melalui tindakan operasi dilanjutkan dengan kemoterapi tambahan, atau pada kanker rektum juga seringkali ditambahkan radioterapi atau penyinaran.

"Sedangkan pada kondisi metastasis, didekati melalui tindakan kemoterapi sebagai pengobatan utama. Operasi hanya dilakukan pada kondisi penyebaran kanker di satu lokasi dan tidak banyak dan berukuran kecil, serta bisa dioperasi atau hanya untuk membuat kantong penampung feses di sekitar perut, dengan mengeluarkan kolon atau usus besar ke perut untuk mendiversi atau mengalihkan aliran kotoran ke kantong (kolostomi)," lanjut dia.

Menurut Ikhwan, dalam dekade terakhir ini, kemoterapi bukan satu-satunya obat yang diberikan untuk pasien kanker kolorektal stadium lanjut. Muncul obat-obatan lain yang dikelompokkan dalam terapi target sebagai tambahan pada kemoterapi yang diberikan untuk menambah efektivitas pengobatan, yang pada akhirnya diharapkan memperpanjang ketahanan hidup pasien kolorektal yang sudah bermetastasis jauh.

"Pasien kanker kolorektal yang sudah bermetastasis jauh semestinya mendapatkan pengobatan dalam rangka paliatif dan memperpanjang ketahanan hidup yang berkualitas. Oleh karena itu, dunia kedokteran berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan berbagai obat yang dapat mencapai tujuan tersebut," kata dr. Ikhwan Rinaldi.