Selain Nakes, Pakar Sebut Kelompok Ini Prioritas Vaksin COVID-19

Rochimawati, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 1 menit

VIVA – Sempat viral sosok Helena Lim, sosialita yang mendapatkan vaksin COVID-19 lebih dulu bersamaan dengan kelompok tenaga kesehatan (nakes). Sebagian masyarakat mempertanyakan alasan sang sosialita diprioritaskan untuk vaksin COVID-19.

Pemerintah RI menetapkan bahwa nakes menjadi kelompok prioritas untuk diberi vaksin COVID-19. Hal itu sejalan dengan pemberian vaksin pada tokoh publik, termasuk presiden dan jajaran menteri lain. Yang cukup mengagetkan, sosok Helena Lim yang mendokumentasikan momen saat divaksinasi, menjadi viral dan dipertanyakan perannya atas kelompok prioritas.

Perempuan yang disebut sebagai Crazy Rich Pantai Indah Kapuk (PIK) itu dianggap sebagai pemilik salah satu apotek sehingga termasuk dalam kelompok prioritas. Lantas, siapa saja sebenarnya yang masuk ke dalam kelompok prioritas vaksin COVID-19?

Guru Besar Penyakit Paru FKUI Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama menyebut ada tiga fakta penting terkait kelompok priorotas vaksin COVID-19. Ia menjelaskan, perlu adanya pentahapan dalam program vaksinasi lantaran jumlah vaksin belum mencukupi untuk keseluruhan.

"Semua orang tahu, vaksin baru ada dan enggak bisa langsung semua dapat. Jadi sejak awal harus ada pentahapan. Begitu Desember dibikin dan langsung ada, masalahnya jumlah vaksin di dunia enggak cukup untuk semua orang," ujarnya dalam acara VIVATalk, Rabu 10 Februari 2021.

Prioritas pertama, yakni nakes yang memang paling berisiko tertular. Sebab, nakes yang menangani pasien COVID-19 sehingga dengan vaksinasi dapat cegah penularan dan memaksimalkan pelayanan kesehatan.

"Kedua, biasanya usia lansia. Karena lansia ada risiko lebih tinggi untuk sakit berat maka harus ada perlindungan lebih awal," tuturnya.

Terakhir, mereka yang harus bekerja dengan bertemu banyak orang seperti pedagang pasar atau kasir. Dengan begitu, penularan bisa diminimalisasi atau mencegah sakit yang parah jika terinfeksi.

"Ketiga, orang yang berhubungan dengan orang lain secara masif. Walau bukan nakes, tapi perlu diberikan karena bertemu orang banyak sehingga risiko penularannya besar," kata Prof Tjandra.