Selain Salat Ied, Ini 7 Amalan Sunah di Hari Iduladha yang Baik Dikerjakan Umat Muslim

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Iduladha atau sering pula disebut dengan hari raya kurban dirayakan oleh umat Islam pada setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Ada beberapa amalan sunah di hari raya Iduladha yang baik dikerjakan oleh umat Muslim sebagai salah satu ibadah tahunan.

Rangkaian ibadah Iduladha sendiri dimulai sejak malam sebelum hari 10 Zulhijah, yakni dengan melafalkan takbir dan mengumandangkannya di masjid, musala atau rumah masing-masing. Kemudian, pada 10 Zulhijah pagi, umat Islam akan melaksanakan salat Idul Adha.

Salat sunah dua rakaat tersebut biasanya digelar secara berjamaah di masjid, lapangan, maupun tempat terbuka lainnya yang menampung jamaah dalam jumlah banyak. Kemudian, setelah salat Idul Adha, dilanjutkan pemotongan hewan kurban yang sudah disiapkan. Selain, melaksanakan salat Ied dan menyembelih hewan kurban, umat Islam juga dianjurkan agar melakukan sejumlah amalan sunah lain saat Iduladha.

Berikut Liputan6.com rangkum dari laman islam.nu dan sumber lainnya, Senin (12/7/2021) tentang amalan sunah di hari raya Iduladha.

Membaca Takbir dan Mandi Sebelum Salat Idul Adha

Ilustrasi Mandi (Foto oleh Armin Rimoldi dari Pexels)
Ilustrasi Mandi (Foto oleh Armin Rimoldi dari Pexels)

1. Membaca atau Mengumandangkan Takbir

Amalan sunah di hari raya Idul Adha yang pertama adalah membaca atau mengumandangkan takbir. Membaca takbir bisa dilakukan pada malam hari raya Idul Adha, dari mulai tenggelamnya matahari hingga sebelum imam salat Id naik ke mimbar untuk memulai kutbah salat Id. Umat Islam juga disunahkan untuk mengumandangkan takbir setelah salat Idul Adha hingga saat waktu Ashar pada tanggal 13 Zulhijah alias hari akhir untuk Tasrik.

Hal ini dikarenakan pada waktu tersebut, umat manusia dianjurkan untuk memuliakan, mengangungkan, dan menghidupkan nama Allah SWT. Anjuran ini sesuai yang tertulis dalam kitab Raudlatut Thalibin, yakni:

"Disunahkan mengumandangkan takbir pada malam hari raya mulai terbenamnya matahari, dan sangat disunahkan juga menghidupkan malam hari raya tersebut dengan beribadah."

2. Mandi Sebelum Salat Idul Adha

Amalan sunah di hari raya Idul Adha yang selanjutnya adalah mandi sebelum salat Idul Adha. Waktu sunah untuk mandi yakni pada dini hari sebelum Subuh, atau setelah salat Subuh pada tanggal 10 Zulhijah. Namun, yang lebih utama adalah mandi sesudah Subuh di hari Idul Adha agar badan dalam kondisi bersih dan segar sebelum berangkat menunaikan salat Id. Sayyidina ‘Ali bin Abu Thalib serta Abdullah bin Umar diceritakan sudah membiasakan diri untuk mandi sebelum melakukan Salat Id. Bahkan, kesunahan mandinya sama dengan ketika mandi sebelum salat Jumat.

Memakai Wangi-wangian dan Pakaian yang Baik

Ilustrasi memakai wangi-wangian. (dok cottonbro/pexels.com)
Ilustrasi memakai wangi-wangian. (dok cottonbro/pexels.com)

3. Memakai Wangi-wangian

Amalan sunah berikutnya adalah memakai wangi-wangian, memotong rambut, memotong kuku, serta menghilangkan bau tidak sedap. Hal ini dilakukan demi mendapatkan keutamaan pada hari raya Idul Adha. Seperti yang tertera dalam kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab terdapat keterangan mengenai amalan sunah ini, yaitu:

"Disunahkan pada hari raya Id membersihkan anggota badan dengn memotong rambut, memotong kuku, menghilangkan bau badan yang tidak enak, karena amalan tersebut sebagaimana dilaksanakan pada hari Jumat, dan disunahkan juga memakai wangi-wangian."

4. Memakai Pakaian yang Paling Baik

Amalan sunah di hari raya Idul Adha yang selanjutnya adalah memakai pakaian yang baik. Mengenakan pakaian terbaik, bersih sekaligus suci sangat dianjurkan pada saat Idul Adha. Namun, pakaian yang bersih dan suci juga sudah cukup. Dalam Kitab Raudlatut Thalibin dijelaskan:

"Disunahkan memakai pakaian yang paling baik, dan yang lebih utama adalah pakaian warna putih dan juga memakai serban. Jika hanya memiliki satu pakaian saja, maka tidaklah mengapa ia memakainya. Ketentuan ini berlaku bagi kaum laki-laki yang hendak berangkat salat Id maupun yang tidak. Sedangkan untuk kaum perempuan cukuplah ia memakai pakaian biasa sebagaimana pakaian sehari-hari, dan janganlah ia berlebih-lebihan dalam berpakaian serta memakai wangi-wangian."

Berangkat dengan Jalan Kaki ke Masjid dan Makan Setelah Salat Id

Ilustrasi Makan. Credit: pexels.com/Gerald
Ilustrasi Makan. Credit: pexels.com/Gerald

5. Melewati Jalan yang Berbeda saat Pergi dan Berangkat Salat

Amalan sunah di Hari Raya Idul Adha selanjutnya adalah berangkat dengan berjalan kaki, dan pulang melalui jalan yang berbeda. Hal ini seperti yang diriwayatkan dari Muhammad bin Ubaidillah bin Abi Rafi’ dari ayahnya dari kakeknya, bahwasanya Nabi Muhammad SAW mendatangi salat Id dengan berjalan kaki dan beliau pulang melalui jalan lain dari yang dilaluinya ketika pergi. (HR. Ibnu Majah)

6. Makan Setelah Salat Idul Adha

Tidak makan sejak fajar sampai dengan selesai salat Idul Adha juga merupakan amalan sunah yang baik dilakukan di hari raya Idul Adha. Seperti yang diriwayatkan dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya (yaitu Buraidah bin al-Husaib) ia berkata:

Rasulullah saw pada hari Idul Fitri tidak keluar sebelum makan, dan pada hari Idul Adha tidak makan sehingga selesai salat. (HR. At-Tirmizi)

Hikmah dari tidak dianjurkannya makan sebelum berangkat salat Idul Adha adalah agar daging kurban bisa segera disembelih dan dinikmati setelah salat Idul Adha.

7. Wanita Haid Tetap Menuju ke Tempat Salat Idul Adha

Hal ini sesuai denga hadis riwayat Bukhari yang berbunyi:

Dari Ummi 'Athiyah katanya: "Kami diperintahkan pergi salat hari Raya, bahkan anak-anak gadis keluar dari pingitannya. Juga perempuan-perempuan yang sedang haid (datang bulan) tetapi mereka hanya berdiri saja dibelakang orang banyak, dan turut takbir dan berdoa bersama sama dan mereka mengharapkan keberkahan dan kesucian hari itu."

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel