Selain Vaksin, RI Banyak Impor Jeruk Mandarin dari China Maret 2021

Raden Jihad Akbar, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kinerja impor Indonesia mengalami pertumbuhan yang sangat solid pada Maret 2021. Pada bulan itu, impor Indonesia dari mancanegara mencapai US$16,79 persen naik 26,55 persen dibanding Februari 2021 dan dibanding Maret 2020 naiknya 25,73 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengungkapkan, tumbuh pesatnya impor tersebut disebabkan naiknya impor di seluruh penggunaan barangnya. Mulai dari barang konsumsi, bahan baku atau penolong hingga barang modal.

Baca juga: Harga Minyak Mentah Indonesia di Pasar Dunia Meroket

Untuk impor barang konsumsi, pada bulan itu tercatat senilai US$1,41 miliar. Nilai ini naik 15,51 persen secara bulanan dan 13,40 persen secara tahunan. Kenaikannya dipicu oleh sejumlah komoditas seperti vaksin untuk manusia dari China hingga jeruk mandarin.

"Yang tinggi diantaranya vaksin kita impor dari Tiongkok kemudian milk and cream in powder dari Selandia Baru, raw sugar dari India, mesin AC dari Thailand dan satu lagi jeruk mandarin dari Tiongkok," kata dia saat konferensi pers, Kamis, 15 April 2021.

Adapun untuk bahan baku atau penolong impornya senilai US$12,97 miliar atau tumbuh 31,10 persen secara bulanan dan tumbuh 25,82 persen secara tahunan. Sedangkan untuk barang modal senilai US$2,41 miliar atau tumbuh 11,85 persen dan 33,70 persen.

"Yang meningkat tajam malay oil kick and other solid reducer, pulp transmission apparatus dari Tiongkok. Tentu kita harap kenaikan dua digit bahan baku dan barang modal menunjukan geliat manufaktur dan investasi mulai naik," tegas dia.

Berdasarkan HS 2 digit, impor para Maret 2021 terbesar kenaikannya adalah besi dan baja (HS 72) sebesar US$398,4 juta, mesin dan peralatan mekanis (HS 84) sebesar US$283,1 juta dan kapal, perahu dan struktur terapung (HS 89) mencapai US$205,5 juta.

Sementara itu, untuk asal negara barang impor, kenaikan paling pesat yang terjadi pada Maret 2021 adalah berasal dari Korea Selatan sebesar US$461,5 juta, India US$357,3 juta dan Jepang hingga mencapai US$281,1 juta.

"Kenaikan impor dari korsel terjadi karena beberapa barang mengalami kenaikan seperti tankers dengan gross storage yang lebih besar dari 50 ribu, India karena ada kenaikan raw sugar dan Jepang ada kenaikan beberapa komoditas diantaranya besi baja," ucapnya.