Selain Warga Tebet, Siap-Siap 'Minggir' dari Tebet Eco Park

Merdeka.com - Merdeka.com - Tebet Eco Park masih ditutup sejak pertengahan Juni lalu. Taman di bilangan Jakarta Selatan itu ditutup untuk pembenahan. Pembenahan dilakukan menyusul membeludaknya pengunjung sehingga sejumlah fasilitas Tebet Eco Park rusak.

Selain sarana dan prasarana yang rusak, masalah parkir liar dan parkir liar ikut menjadi perhatian. Pemprov DKI juga tengah menyiapkan sejumlah regulasi guna memberikan kenyamanan bagi pengunjung.

Terbaru, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berencana membatasi pengunjung Tebet Eco Park. Taman yang semula bernama Taman Honda Tebet itu hanya boleh dikunjungi oleh warga Kecamatan Tebet.

"Nanti diharapkan yang masuk di kawasan itu adalah yang memang tinggal di situ. Atau punya urusan di situ," kata Anies kepada wartawan di Balai Kota, Jakarta, Jumat (22/7).

Sedangkan, warga di luar kawasan Tebet akan disiapkan di lokasi lain. Pembatasan ini dilakukan demi mengurangi penumpukan yang sebelumnya terjadi di taman tersebut.

Kawasan Rendah Emisi

Pembatasan pengunjung Tebet Eco Park itu juga untuk menuju kawasan rendah emisi atau Low Emission Zone. Dengan demikian, kendaraan yang bisa melintas hanya yang bertempat tinggal di sekitar lokasi tersebut. Kebijakan ini hanya berlaku pada akhir pekan dan libur nasional.

Dengan aturan tersebut, menurut Anies berkata warga yang ingin mengunjungi Tebet Eco Park bisa menggunakan transportasi umum. Di sisi lain, pihaknya bakal menyiapkan parkir khusus, sehingga tak ada kendaraan yang masuk kawasan tersebut.

"Jadi bukan hanya di dalam tamannya saja, karena kan kawasan," kata Anies.

Kebijakan zona rendah emisi seiring ledakan jumlah pengunjung Tebet Eco Park selama libur lebaran 1443 hijriah. Para pengunjung kebanyakan datang ke taman tersebut menggunakan kendaraan pribadi, namun kapasitas kantong parkir yang disediakan di taman Tebet tidak cukup menampung jumlah kendaraan yang ada. Akibatnya, banyak parkir liar muncul di sepanjang jalan, dan arus lalu lintas juga mengalami kepadatan.

Anies Baswedan juga menyampaikan bahwa Tebet Eco Park diproyeksikan sebagai zona rendah emisi seperti Kota Tua. Dalam instagramnya @aniesbaswedan, dia menceritakan sejak Tebet Eco Park dibuka, warga Jakarta dan luar Jakarta berbondong-bondong datang ke taman. Tingginya jumlah warga yang datang melebihi kapasitas taman.

Anies menuturkan, kapasitas taman 8-10 ribu, pernah kedatangan 60 ribu warga dalam satu hari di akhir pekan. Sehingga, kesempatan menikmati taman menjadi sangat berkurang karena kepadatan yang ekstrem.

"Tebet Eco Park dibangun untuk warga menikmati suasana taman dan hutan kota, mendapatkan wawasan lingkungan hidup yang asri dan lestari. Tujuan ini sulit tercapai bila kepadatan begitu esktrem yang membuat suasana taman lebih menyerupai festival daripada taman kota. Maka, kami harus menata ulang pengelolaan Tebet Eco Park," imbuhnya.

Daftar Online Dulu

Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta menerapkan kebijakan kunjung Tebet Eco Park, harus melalui aplikasi JAKI. Dengan demikian, sebelum berkunjung ke taman, warga terlebih dahulu mendaftarkan waktu kunjungan secara online melalui aplikasi JAKI.

"Nantinya teman bisa mengunjungi Tebet Eco Park dengan mendaftar melalui JAKI," demikian informasi yang dipublikasi melalui akun Instagram @tamanhutandki, dikutip pada Senin (4/7).

Selain itu, pengelola Tebet Eco Park akan memberikan kartu merah bagi pengunjung taman yang tertangkap merusak fasilitas taman. Pelanggar juga dilarang mengunjungi Tebet Eco Park selama tiga bulan sejak menerima kartu merah.

"Kita berikan kartu merah ke pengunjung kan sudah terawasi karena dengan adanya jumlah yang dibatasi maka mudah untuk diawasi dan yang melanggar itu selama 3 bulan tidak boleh masuk taman Tebet," ujar Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Suzi Marsitawati.

Dia mengungkapkan, material yang banyak mengalami kerusakan adalah rumput dan toilet. Hal ini disebabkan ketidaktertiban pengunjung saat piknik. Namun ia memastikan saat Tebet Eco Park kembali dibuka untuk umum, pengunjung tetap boleh berpiknik di atas rumput namun dilarang merusak.

"Boleh boleh saja asalkan tertib, masyarakat itu bisa disiplin walaupun jangan merasa karena taman itu gratis, tapi harus rusak, kan tidak begitu, walaupun gratis tetap harus dijaga," ujarnya. [yan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel