Selalu Ada Cerita Tak Terlupakan pada Ramadan yang Pernah Dilalui dengan Keluarga

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Selalu ada cerita, pengalaman, dan kesan tersendiri yang dirasakan tiap kali bulan Ramadan datang. Bahkan ada kisah-kisah yang tak pernah terlupakan karena terjadi pada bulan suci ini. Tiap orang pun punya cara sendiri dalam memaknai bulan Ramadan. Tulisan kiriman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Berbagi Cerita tentang Indahnya Ramadan di Share Your Stories Bulan April ini pun menghadirkan makna dan pelajaran tersendiri.

***

Oleh: Pipiet Fitrianingsih

Ramadan selalu saja membawa cerita berbeda di setiap tahunnya. Aku bungsu dari dua bersaudara, kakakku perempuan. Ingatanku melayang jauh ketika kami masih anak-anak. Dulu yang dinantikan saat Ramadan adalah baju baru dan kue lebaran dari mamaku yang pulang mudik dari Jakarta, dan aku akan selalu ingin punya baju lebaran yang sama persis dengan kakakku sampai kami menginjak dewasa.

Ada cerita yang menarik di lebaran 2006-2007. Kami sudah sama-sama bekerja dan kami pun berencana untuk mudik dengan bus. Seperti biasa untuk bagian packing memang selalu kakakku termasuk packing baju dan kelengkapan lebaran kami.

Aku yang mendapatkan libur cuma 2 hari membuatku tak membawa banyak pakaian. Pokoknya bisa pulang saja kami sudah untung. Ternyata mudik waktu itu memang lagi ramai-ramainya. Kami cuma membawa tas pribadi dan satu kardus saja. Kami pulang pas di malam takbiran. Suasana di dalam bus bukan main sesaknya sehingga kami tak bisa meletakan kardus bawaan kami di bagasi bus. Kami pun meletakkannya hanya di kolong bangku bus, parahnya di kondisi yang padat ada saja yang mabuk kendaraan dekat dengan kardusku.

Kenangan yang Tak Terlupakan

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/prostock_studio
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/prostock_studio

Kami tiba di kampung halaman menjelang subuh, ketika kami hendak salat ied betapa terkejutnya aku ketika ingin mengenakan baju lebaran. Celana yang aku siapkan untuk hari raya yang kebetulan warna putih berbau dan membentuk pulau coklat. Orang pertama yang aku cari tentu saja kakakku. Aku marah, jantungku berdegup kencang, ingin rasanya aku maki-maki kakakku karena udah teledor dalam mengemas barang kami. Bagaimana bisa celana putih ada di urutan paling bawah kardus tanpa alas apa pun?

Di pagi buta hari raya aku sudah mulai cekcok cuma gara-gara celana. Aku sedih yang seharusnya hari raya aku pakai pakaian yang bersih aku harus pakai celana yang kotor dalam perjalanan. Di tengah khotbah salat ied kakakku meminta maaf dan aku pun luluh bagaimana pun itu di luar kuasanya.

Akhirnya aku salat ied dan silaturahmi dengan celana belel walaupun banyak orang yang memperhatikanku waktu itu tak mengurungkan niatku untuk merayakan Idulfitri di kampung halaman bersama keluarga dan saudara. Setiap ingat kejadian itu aku jadi rindu Ramadaan masa kecil yang bisa berkumpul dengan keluarga.

Walaupun Ramadan tahun ini berbeda karena tahun ini Ramadhan kedua tanpa mamaku yang sudah dipanggil Alloh SWT, aku bersyukur masih bisa diberi kesempatan untuk bertemu bulan Ramadan karna begitu banyak orang yang menginginkan tapi maut lebih cepat menjemputnya. Semoga pandemi ini cepat berlalu agar Ramadan berikutnya kita masih bisa berkumpul dengan teman dan keluarga. Amin.

#ElevateWomen