Selalu Hadir Saat Lebaran, Bagaimana Sejarah Ketupat?

·Bacaan 2 menit

VIVA – Perayaan Idul Fitri selalu diidentikan dengan kehadiran ketupat. Ya, ketupat menjadi hidangan wajib ada di meja makan.

Ketupat yang terbuat dari beras dan dibungkus dengan daun kelapa ini akan dipadukan dengan rendang, opor hingga sayur daun pepaya. Tapi pernahkah kalian menyadari asal muasal dari ketupat lebaran?

Dilansir dari berbagai sumber berikut ini sejarah asal usul dari Ketupat. Ketupat pertama kali muncul di Tanah Jawa sejak abad ke-15, pada masa pemerintahan Kerajaan Demak.

Kala itu, Sunan Kalijaga yang memperkenalkan ketupat pertama kali. Sunan Kalijaga memperkenalkan ketupat kepada masyarakat dalam rangka untuk berdakwah menyebarkan agama Islam ke Tanah Jawa.

Dalam menyebarkan agama Islam, Sunan Kalijaga menggunakan pendekatan budaya. Ketupat merupakan salah satunya yang dipilih karena dianggap bisa dekat dengan kebudayaan masyarakat Jawa saat itu.

Dalam penyebarannya, Sunan Kalijaga memperkenalkan istilah yang dikenal dengan Bakda. Bakda sendiri memiliki arti setelah. Ada dua buah Bakda yang dibudayakan, yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat.

Bakda Lebaran adalah saat Hari Raya Idul Fitri, di mana seluruh umat Islam diharamkan untuk berpuasa. Sedangkan Bakda Kupat adalah hari raya bagi orang yang melaksanakan puasa syawal selama enam hari. Biasanya, Bakda Kupat dilaksanakan satu minggu setelah Lebaran.

Seiring dengan berjalannya, waktu tradisi ketupat (kupat) lebaran menurut cerita adalah simbolisasi ungkapan dari Bahasa Jawa ku = ngaku (mengakui) dan pat = lepat (kesalahan). Atau secara kata berarti mengakui kesalahan.

Adapun mengakui kesalahan ditandai dengan adanya tradisi sungkeman (bersimpuh di hadapan orangtua sambil meminta maaf atas kesalahan yang mungkin pernah dilakukan).

Selain itu, Ketupat juga merupakan simbolisasi ungkapan Bahasa Jawa Laku Papat yang berarti empat tindakan yaitu lebaran, luberan, leburan, dan laburan.

Lebaran yang berasal dari kata lebar yang berarti adanya pintu pengampunan yang terbuka lebar. Kemudian, Luberan artinya melimpah yang dijadikan sebagai simbol ajaran sedekah yang diidentikan dengan membayar zakat fitrah.

Lalu leburan itu artinya habis atau melebur yang bermakna perayaan Idul Fitri adalah kesempatan di mana manusia kembali menjadi fitrah. Kemudian, laburan yang mengandung makna bahwa manusia sebaiknya senantiasa menjaga kesucian lahir dan batinnya.