Selama Pandemi, Antam Berhasil Optimalkan Catatan Kinerja Positif

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta PT Aneka Tambang Tbk (Antam) tetap mencatatkan kinerja keuangan unaudited yang positif dengan membukukan laba bersih Rp835,77 miliar selama masa pandemi. Demikian dikatakan Sekretaris Perusahaan Antam, Kunto Hendrapawoko.

"Antam terus melakukan inovasi dalam bidang produksi dan penjualan dengan fokus pada peningkatan nilai tambah produk. Perusahaan juga mengoptimalkan tingkat produksi dan penjualan di tengan adaptasi kebiasaan baru, serta mengelola biaya dengantepat dan efisien," ujar Kunto.

Pada periode sembilan bulan pertama 2020, Antam mencatat laba usaha Rp1,44 triliun, naik 16% dibandingkan periode yang sama pada 2019. Antam juga mencatatkan EBITDA sebesar 2,14 triliun. Kunto memaparkan, performa solid Antam didukung oleh kestabilan operasi.

"Kami maksimalkan kinerja operasi dan tingkatkan penjualan sehingga berujung pada biaya tunai operasional yang optimal," paparnya.

Dalam keterbukaan informasi, komoditas emas masih menjadi penyumbang terbesar penjualan Antam senilai Rp12,98 triliun atau 72% dari total penjualan sebesar Rp18,04 triliun. Perusahaan yang memiliki tambang emas di Pongkor dan Cibaliung ini mencatatkan volume penjualan emas sebesar 14.882 kg dengan volume produksi sebesar 1.280 kg.

Menurut Kunto, adaptasi pasar menjadi kunci meningkatnya pertumbuhan bisnis emas khususnya logam mulia. Di tahun ini, Antam fokus dipasar domestik dan menerapkan transaksi online untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

"Dengan fokus penjualan di dalam negeri, pada kuartal ketiga 2020 ini Antam membukukan laba usaha sebesar Rp558,51 untuk segmen operasi logam mulia, tumbuh 186% dibandingkan periode kuartal dua lalu sebesar Rp195,49 miliar,” ungkap Kunto.

Di segmen komoditas nikel, Antam mencatat penjualan feronikel sebesar 19.507 ton nikel dalam feronikel (TNi) dengan volume produksi sebesar 19.133 TNI. Penjualan feronikel merupakan kontributor terbesar kedua dari total penjualan Antam selama periode sembilan bulan pertama tahun 2020.

Kunto menjelaskan, dengan pengelolaan biaya tunai produksi feronikel yang dilakukan, Antam memperkokoh posisi sebagai salah satu produsen feronikel global berbiaya rendah. Bahkan hinga September 2020, cash cost feronikel Antam tercatat USD3,34 per pon nikel.

"Jumlah yang lebih efisien 15% dibandingkan biaya tunai rata-rata feronikel perusahaan tahun 2019 sebesar USD3,95 pon," jelasnya.

Untuk komoditas bijih nikel, Kunto menyebut perusahaannyatahun ini akan fokus pada pasar domestik. Tercatat pada hingga September 2020, Antam memproduksi 2,86 juta wet metric ton (wmt) bijih nikel yang digunakan untuk bahan baku pabrik feronikel Antam dan penjualan kepada pelanggan domestik.

ANTM juga optimis penetapan Harga Patokan Mineral dalam negeri oleh kementerian ESDM, akanmemberikan tingkat harga jual mineral dalam negeri yang lebih kompetitif.

"Ini membuka peluang untuk meningkatkan jangkauan pemasaran bijih nikel di dalam negeri seiring outlook positif penyerapan bijih nikel domestik," ujarnya.

Sementara itu pada komoditas bauksit, Antam mencatatkan volume produksi sebesar 1,30 juta wmt untuk mendukung produksi Pabrik Chemical Grade Alumina Tayan dan penjualan kepada pihak ketiga.

Selain adaptasi pasar dan penyesuaian operasi, di tengah Pandemi Antam juga melaksanakan protokol kesehatan dengan pengawasan yang ketat untukmenjaga keberlangsungan operasional perusahaan.

"Kinerja positif sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2020 tidak terlepas dari penerapan protokol kesehatan yang tepat dan konsisten di area kerja tambang, pabrik pengolahan dan perkantoran guna menjaga kesehatan pekerja dalam melakukan aktivitas pekerjaan bebas Covid-19," tutup Kunto.

(*)