Selama Pandemi COVID-19, Tiga Layanan Ini Selamatkan Bisnis Grab

Lazuardhi Utama
·Bacaan 2 menit

VIVA – Keputusan Grab melakukan diversifikasi bisnis sehingga menjadi super app sejak 2018 telah membantu rival Gojek itu mengatasi krisis dan bangkit akibat dampak dari pandemi COVID-19.

"Awal tahun 2020 adalah tahun sulit kami. Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diterapkan di banyak kota termasuk Jakarta menyebabkan lini bisnis transportasi kami sangat terdampak. Namun, sejak itu pendapatan kami berangsur pulih karena melihat peluang besar di layanan antar makanan dan logistik," kata Country Managing Director Grab Indonesia, Neneng Goenadi, seperti dikutip dari situs Channel News Asia.

Baca: Merger Gojek dengan Tokopedia untuk Menggembosi Grab dan Shopee

Ia melanjutkan bahwa kedua layanan ini mencakup 50 persen dari bisnis Grab saat ini sehingga akan menjadi fokus di masa mendatang. Apa yang diungkapkannya sekaligus menanggapi permintaan yang sangat tinggi dari konsumen akan layanan last mile delivery.

Pandemi COVID-19 bahkan telah mendorong berbagai bisnis masuk ke ranah online. Jika tidak beradaptasi dengan cepat, mereka akan mengalami kesulitan untuk mempertahankan bisnisnya.

"Selama pandemi ada lebih dari setengah juta mitra baru di seluruh Asia Tenggara yang bergabung dalam platform Grab. Banyak di antaranya merupakan usaha kecil dan tradisional. Kami bersyukur dan bangga menjadi bagian dari proses transformasi digital UMKM di Indonesia," ujar Neneng.

Kemampuan UMKM untuk bertahan sangat penting bagi pemulihan ekonomi Indonesia karena perannya yang penting sebagai penyumbang produk domestik bruto (PDB). Sepanjang 2019, menurut data yang dikutip oleh Asosiasi UMKM Indonesia (AKUMINDO), UMKM menyumbang 60,34 persen dari PDB dan 14 persen terhadap total ekspor nasional.

Data lain juga menunjukkan bahwa UMKM menyerap 97 persen tenaga kerja. Bukan hanya antar makanan dan logistik, layanan keuangan digital mengalami pertumbuhan signifikan selama pandemi COVID-19.

"Fokus kami adalah menyediakan layanan keuangan digital untuk menjembatani kesenjangan inklusi keuangan masyarakat Indonesia. Melalui bank digital atau tidak, misi kami tetap sama, yakni memberikan akses yang setara pada produk dan layanan perbankan," tuturnya.

Dengan bauran layanan yang komprehensif, Neneng mengklaim Grab telah berhasil bertransformasi selama pandemi COVID-19. "Kami bukan lagi perusahaan ride-hailing atau transportasi online tapi sepenuhnya menjadi perusahaan aplikasi super," jelas dia.