Selamatkan Anak-anak dari Konten Negatif Media Sosial

Lazuardhi Utama, BBC Indonesia
·Bacaan 4 menit
Child on phone
Child on phone

Anak-anak akan semakin mudah menemukan hal-hal tentang depresi dan aktivitas melukai diri sendiri akibat alogritma rekomendasi konten media sosial.

Sophie Parkinson masih berusia 13 tahun ketika dia memutuskan mengkakhiri kehidupannya. Saat itu ia mengalami tekanan mental dan memiliki dorongan untuk bunuh diri.

Ibunya, Ruth Moss, yakin Sophie akhirnya bunuh diri setelah menonton sejumlah video di internet. Seperti banyak anak seumurannya di Inggris, orangtua Sophie memberinya ponsel pintar saat dia berusia 12 tahun.

Setelah kepergian Sophie, Ruth baru menyadari bahwa putrinya selama ini mengakses konten-konten yang tidak pantas di dunia maya.

"Bagian yang paling sulit bagi keluarga setelah kematiannya adalah menemukan beberapa gambar dan panduan yang mengusik hati tentang cara dia mengakhiri hidup," kata Ruth.

Hampir 90?ri anak berusia 12 hingga 15 tahun memiliki ponsel, menurut organisasi swadaya yang meneliti isu komunikasi, Ofcom. Mereka memperkirakan, tiga perempat anak-anak di kelompok umur itu memiliki akun media sosial.

Sejumlah aplikasi yang banyak digunakan publik sebenarnya membatasi akses media sosial mereka untuk anak-anak di bawah 13 tahun.

Namun, ternyata justru banyak anak yang bisa mendaftarkan diri. Di sisi lain, perusahaan pemilik media sosial disebut tidak berbuat banyak untuk menghentikan tren tersebut.

Perkumpulan Nasional untuk Pencegahan Kekejaman terhadap Anak (NSPCC), sebuah organisasi amal di Inggris, menilai mesti ada peraturan yang mengharuskan perusahaan teknologi memikirkan dampak media sosial terhadap anak.

"Selama lebih dari satu dekade, keselamatan anak belum dianggap sebagai bagian dari sistem bisnis inti perusahaan teknologi besar," kata Andy Burrows, kepala bidang kebijakan internet untuk keselamatan anak di lembaga itu.

"Sistem dalam aplikasi mereka justru mendorong anak yang rentan, yang ingin bunuh diri, atau yang ingin melukai diri sendiri, untuk menonton lebih banyak konten sejenis itu," ujar Burrows.

Pahami dan hapus

Baru-baru ini, video seorang laki-laki muda yang bunuh diri diunggah ke Facebook. Rekaman itu kemudian menyebar ke media sosial lain, termasuk TikTok. Video itu bertahan dan dapat disaksikan selama berhari-hari.

TikTok mengakui bahwa pengguna media sosial akan lebih terlindungi jika perusahaan seperti mereka bekerja sama lebih erat.

Tapi Ruth berpandangan, perusahaan media sosial seharusnya tidak diizinkan untuk mengawasi diri mereka sendiri.

Ruth berkata, beberapa materi yang diakses putrinya enam tahun lalu saat ini masih bisa disaksikan. Dengan mengetik kata tertentu ke Facebook atau Instagram, konten itu akan muncul.

Pekan lalu Facebook mengumumkan upaya memaksimalkan sistem otomatis untuk mengenali dan menghapus konten berisi aktivitas melukai diri sendiri dan bunuh diri. Alat itu akan diaplikasikan ke Instagram.

Namun undang-undang privasi data di Eropa membatasi ruang gerak sistem tersebut. Perusahaan rintisan kecil lainnya juga mencoba menggunakan teknologi untuk mengatasi masalah tersebut.

SafeToWatch mengembangkan perangkat lunak untuk secara langsung memblokir adegan yang tidak pantas, antara lain tentang kekerasan dan ketelanjangan.

SafeToWatch
SafeToWatch didesain untuk menemukan konten negatif di media sosial.

Perangkat ini menganalisis konteks materi visual apa pun, sekaligus memantau audio. SafeToWatch menyebut perangkat ini memberikan keseimbangan bagi orangtua untuk melindungi anak tanpa mengganggu privasi mereka terlalu dalam.

"Kami tidak pernah membiarkan orang tua melihat apa yang dilakukan anak itu, karena kami perlu mendapatkan kepercayaan dari anak, hal yang sangat penting untuk proses keamanan dunia maya," kata pendiri SafeToWatch, Richard Pursey.

Percakapan yang jujur

Ruth menilai publik seringkali secara mudah menyalahkan orang tua atas dampak negatif media sosial terhadap anak. Dia bekata, sistem keamanan teknologi hanya bisa efektif dalam keadaan tertentu, terutama terhadap anak sudah lebih dewasa.

"Kebanyakan orang tua tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di ponsel anak mereka atau memantau apa yang telah dilihat oleh anak," kata Ruth.

Dan banyak ahli tidak memungkiri bahwa sebagian besar anak akan menemukan konten yang tidak pantas di internet. Sebagai solusinya, mereka mengajukan sebuah "ketahanan digital".

"Keamanan dalam berselancar di internet harus diajarkan dengan cara yang sama seperti keterampilan lain yang membuat kita tetap aman di dunia nyata," kata Linda Papadopoulos, psikolog yang bekerja dengan organisasi nirlaba, Internet Matters.

"Orang tua harus melakukan percakapan yang jujur ​​tentang jenis konten yang mungkin ditemui anak-anak secara online dan mengajari mereka cara melindungi diri mereka sendiri," tuturnya.

Menurut Papadopoulos, anak-anak rata-rata terpapar pornografi ketika berusia 11 tahun. Ketika ini terjadi, dia menyarankan agar orang tua mencoba mendiskusikan masalah itu dengan anak. Menyita ponsel agar anak tak dapat mengakses konten negatif itu disebutnya bukan solusi yang tepat.