Selandia Baru naikkan suku bunga terbesar untuk kendalikan inflasi

Bank sentral Selandia Baru, Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) pada Rabu menyampaikan kenaikan suku bunga terbesarnya dan menguraikan jalur pengetatan moneter yang lebih hawkish dalam beberapa bulan mendatang sebagai upaya mengendalikan inflasi yang sangat tinggi.

Bank sentral menaikkan suku bunga acuan official cash rate (OCR) sebesar 75 basis poin menjadi 4,25 persen, tertinggi sejak Januari 2009.

RBNZ juga meningkatkan proyeksi puncak untuk suku bunga menjadi 5,5 persen pada September 2023 di mana diharapkan tetap hingga 2024.

"OCR perlu mencapai level yang lebih tinggi, dan lebih cepat dari yang diindikasikan sebelumnya, untuk memastikan inflasi kembali ke dalam kisaran targetnya dalam jangka menengah," kata RBNZ dalam sebuah pernyataan.

Lima belas dari 23 ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan komite kebijakan bank sentral akan menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin, tetapi ada beberapa perbedaan tentang di mana suku bunga akan mencapai puncaknya dan apakah perlu memangkasnya tahun depan.

Pasar dengan cepat memperkirakan perubahan ekspektasi suku bunga.

Puncak yang diproyeksikan sebesar 5,5 persen untuk suku bunga jauh di atas bahkan taruhan pasar yang paling hawkish dan melihat suku bunga swap utama dua tahun melonjak 29 basis poin menjadi 5,285 persen, lompatan harian terbesar sejak 2009.

Dolar kiwi naik 0,6 persen menjadi 0,6178 dolar AS menuju level tertinggi tiga bulan baru-baru ini di 0,6204 dolar AS.

RBNZ tetap lebih hawkish daripada mitranya di Australia, yang telah memperlambat kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan terakhir.

Kenaikan kesembilan berturut-turut pada Rabu berarti suku bunga kini telah naik 400 basis poin sejak Oktober 2021 dan merupakan pengetatan paling agresif oleh bank sentral sejak 1999 ketika suku bunga diperkenalkan.

Tetapi dengan inflasi tepat di bawah tertinggi tiga dekade dan bank sentral mengejar apa yang disebut sebagai "path of least regrets", beberapa ekonom memperkirakan suku bunga bisa mencapai 5,25 persen pada semester pertama tahun depan.

Mengkhawatirkan bank adalah inflasi nontradeable atau harga barang-barang yang tidak terekspos ke pasar global yang mencapai rekor. Ada juga tanda-tanda tekanan upah memanas sementara ekspektasi inflasi tidak menunjukkan tanda-tanda melambat.

"Bank sentral menemukan dirinya menghadapi risiko nyata dari spiral inflasi - situasi yang diharapkan dapat dicegah dengan kenaikan suku bunga yang relatif lebih awal," kata penjabat kepala ekonom Westpac Michael Gordon dalam sebuah catatan.

Baca juga: KBRI promosi wisata, produk Indonesia di Wellington Lantern Festival
Baca juga: Pemerintah Selandia Baru akan perkenalkan "perbankan terbuka"
Baca juga: Inflasi kuartal III Selandia Baru lampaui ekspektasi, capai 7,2 persen