Selandia Baru tetap dukung Taiwan di WHO kendati China marah

Wellington (Reuters) - Menteri luar negeri Selandia Baru pada Selasa mengatakan negara itu mempertahankan pendiriannya setelah China memperingatkan bahwa dukungan Selandia Baru atas partisipasi Taiwan di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dapat merusak hubungan bilateral.

Taiwan, dengan dukungan kuat Amerika Serikat, telah meningkatkan lobi untuk diizinkan mengambil bagian sebagai pengamat di Majelis Kesehatan Dunia (WHA), badan pembuat keputusan WHO, minggu depan. Langkah itu telah membuat China marah.

Taiwan dikeluarkan dari WHO atas keberatan dari China, yang menganggap pulau itu sebagai salah satu provinsinya.

Para menteri senior di Selandia Baru pekan lalu mengatakan Taiwan harus diizinkan untuk bergabung dengan WHO sebagai pengamat atas keberhasilannya dalam membatasi penyebaran virus corona baru. Pernyataan itu mengundang kemarahan dari China, yang kemudian meminta negara Pasifik itu untuk "berhenti membuat pernyataan yang salah".

"Kita harus mempertahankan pendirian kita," kata Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters. Ia memberikan pernyataan itu pada konferensi pers ketika ditanya tentang tanggapan China terhadap posisi Selandia Baru soal Taiwan.

"Dan persahabatan sejati didasarkan pada kesetaraan, didasarkan pada kemampuan dalam persahabatan ini untuk tetap tidak setuju."

Peters mengatakan menurutnya masalah itu tidak akan merusak hubungan diplomatik dengan China, yang merupakan mitra dagang terbesar Selandia Baru.

Taiwan hanya melaporkan 440 kasus virus corona dan tujuh kematian terkait virus. Angka yang relatif rendah itu dikaitkan dengan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit yang awal dan efektif.

Peters memuji penanganan Taiwan terhadap COVID-19, penyakit yang disebabkan oleh virus corona baru. Ia mengatakan ada banyak hal yang dapat dipelajari oleh negara-negara lain.

"Sikap Selandia Baru soal Taiwan adalah tentang keberhasilannya yang luar biasa melawan COVID-19," kata Peters.

Ketika ditanya tentang tanggapan China pada kemudian hari, Perdana Menteri Jacinda Ardern mengatakan posisi Selandia Baru atas Taiwan hanya terkait dengan respons kesehatannya terhadap COVID-19.

"Kami selalu mengambil kebijakan 'Satu China', dan itu terus berlaku," kata Ardern.

Hubungan negara tetangga Selandia Baru, yaitu Australia, dengan China menjadi buruk dalam beberapa bulan terakhir setelah Canberra menyerukan penyelidikan internasional tentang asal-usul dan penyebaran virus corona, yang pertama kali dilaporkan muncul di Kota Wuhan, China, akhir tahun lalu.

China menolak penyelidikan seperti itu karena dianggapnya tidak berdasar. China mengatakan negara itu selama terbuka dan transparan tentang wabah tersebut.


(Dilaporkan oleh Praveen Menon; Disunting oleh Christopher Cushing)