Selaparang Mataram olah sampah organik jadi biogas

Pemerintah Kecamatan Selaparang, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, berhasil melakukan uji coba pengolahan sampah organik menjadi biogas dan saat ini sudah dapat dimanfaatkan untuk memasak oleh enam keluarga penerima manfaat (KPM) di Kelurahan Rembiga.

Camat Selaparang Kota Mataram Zulkarwin di Mataram, Kamis, mengatakan pengolahan sampah organik menjadi biogas tersebut dilaksanakan di Kelurahan Rembiga yang memiliki program inovasi teknologi dan budaya.

"Program pemilihan sampah rumah tangga disinergikan dengan Biogas Mini Rumahan (BioMiru), sebagai solusi pengolahan limbah sampah rumah tangga menjadi energi," katanya.

Baca juga: Pemkot Mataram bangun tiga TPST modern

Pernyataan itu disampaikan Zulkarwin usai melakukan penandatangan komitmen dengan sejumlah pemangku kepentingan untuk mendukung Diseminasi Program Kecamatan Selaparang Inklusi yang dihadiri Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana serta sejumlah pihak terkait lainnya.

Ia mengatakan, melalui program BioMiru tersebut diharapkan mampu mengubah pola pikir masyarakat, bahwa dengan sampah organik yang mereka miliki bisa diproses menjadi biogas dan dimanfaatkan untuk kebutuhan masak rumah tangga.

"Kalau sampah plastik dan lainnya sudah ada pangsa pasar sendiri. Kita fokus untuk sampah organik," katanya.

Terkait dengan hal itu, lanjut dia, melalui program Kecamatan Selaparang Inklusi yang disinergikan dengan lingkungan sampah nihil melalui pemilihan sampah rumah tangga (Lisan Panutan), dilaksanakan melalui berbagai program pengolahan sampah organik.

Baca juga: Selaparang Mataram kembangkan maggot kurangi sampah rumah tangga

"Sembilan kelurahan di Kecamatan Selaparang memiliki program berbeda dalam mengolah sampah organik," katanya.

Misalnya, di Kelurahan Dasan Agung Baru, memiliki program membuat pupuk organik cair dengan menggerakkan kalangan lanjut usia (lansia) yang menjadi program inklusi di kelurahan tersebut.

Kemudian di Kelurahan Monjok Timur, fokus menangani masalah pemuda dengan menggerakkan pemuda mengolah sampah organik melalui budidaya maggot dan membuat kompos.

"Monjok Timur bahkan sudah berhasil melakukan uji coba membuat batako dari sampah kresek dan bungkus makanan yang tidak terpakai," katanya.

Baca juga: DLH Mataram apresiasi gerakan pengolahan sampah jadi pupuk cair

Begitu juga di kelurahan-kelurahan lainnya, mereka bergerak bersama berinovasi dan berkreasi mengolah sampah organik menjadi sesuatu yang dapat dimanfaatkan kembali.

"Dengan demikian, diharapkan ke depan sampah yang dibuang setiap rumah tangga hanya sampah sisa yang sudah tidak bisa terurai atau dimanfaatkan," katanya.