Selawat Tibbil Qulub Hingga Burdah Keliling, Tradisi Madura Cegah Corona Covid-19

Liputan6.com, Bangkalan - Tiap malam Jumat, Halimah tak lupa Arebbe, sebuah tradisi bersedekah makanan. Dalam kultur masyarakat Madura pahala tradisi ini dikhususkan bagi para mendiang.

Bedanya, pada malam Jumat (19/3) lalu, wanita 39 tahun itu melantunkan doa khusus tolak bala dan penyakit pada kiai di kampungnya. Ketakutan akibat pandemi virus corona Covid-19 juga terasa ke Desa Jaddih, tempat tinggal Halimah di Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan.

"Nonton TV berita Corona, buka Facebook isinya Corona (Covid-19) semua, bikin ngeri," kata ibu dua anak itu.

Hingga 21 Maret 2020, total kasus Corona di Indonesia telah menjangkiti 450 orang. Dari jumlah ini 20 orang dinyatakan sembuh. Tapi Indonesia pun disorot karena jumlah yang meninggal tertinggi di kawasan Asia Tenggara mencapai 38 orang.

Sorotan itu tak terlalu membuat Halimah risau karena dia adalah ibu rumah tangga yang jarang bepergian. Sikap perempuan kelahiran 1982 ini, jamak dijumpai di Desa Jaddih. Warganya tetap ke ladang, Ngarit rumput, kongkow di warung dan anak-anak belajar seperti biasa ke madrasah. Dan tak seorang pun memakai masker.

"Dulu pernah ada SARS, MERS dan Ebola. Tak pernah sampai ke sini. Jadi saya tak terlalu risau," ujar dia.

Yang justru ia risaukan adalah dampak Corona Covid-19 pada ekonomi. Kerajinan sangkar burung perkutut macet karena pasar terbesar kerajinan yang ditekuni warga Jaddih ini adalah Surabaya dan Malang, dua daerah yang kini ditetapkan dalam kawasan zona merah Corona.

"Sementara sembako mulai naik. Terutama gula, biasanya dua belas ribu, sekarang delapan belas ribu," ucap dia.

Salawat Tibbil Qulub

Ilustrasi Arebbe, sebuah tradisi bersedekah makanan di Bangkalan Madura.

Ketua PC GP Ansor Bangkalan, Hasani bin Zuber juga kerap bersedekah makanan untuk keselamatan keluarga. Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Cholil Bangkalan ini sering meminta santrinya membeli puluhan nasi bungkus lalu dibagikan pada peziarah di Pasarean Syaikhona Kholil Bangkalan.

"Sedekah adalah sebuah ikhtiyar, setelah itu baru tawakal, berserah diri," kata pemuda 35 tahun ini.

Ketika virus Corona mewabah pertama kali di Wuhan China dan dalam tiga bulan menyebar ke lebih 100 negara termasuk Indonesia, Hasani menambah satu amalan pencegah penyakit dengan rutin membaca salawat Tibbil qulub.

Tak hanya diamalkan sendiri, Hasani yang kini padat undangan jadi pembicara sejak lolos ke Senayan pada Pemilu Legislatif 2019, selalu mengakhiri kegiatan dengan membaca salawat tibbil qulub bersama-sama.

Seperti saat berbicara dihadapan 1.000 mahasiswa penghuni asrama Universitas Trunojoyo Madura (UTM) beberapa waktu lalu. Hasani yang didaulat berbagi kisah hidupnya hingga lolos ke senayan lewat Partai Demokrat. Menutup acara itu dengan membaca salawat nabi.

"Selain hidup sehat dan bersih, amalkan salawat ini secara rutin, minimal sekali dalam sehari, insyaallah tak rohani, fisik juga akan sehaf," Kata Alumnus Pesantren Lirboyo ini.

Yang tak penting, menurut Hasani, mahasiswa harus bijak bermedsos dengan tidak menjadi penyebar hoax. Kementrian Informasi setidaknya menemukan 156 hoax perhari terkait pandemi corona.

"Dengan ilmu yang dimiliki mahasiswa harus menjadi penangkal hoax yang meresahkan masyarakat," Kata Anggota Komisi VIII DPR RI ini.

Burdah Keliling

Suasana Burdah keliling cegah corona yang digelar PKB dan PAC GP Ansor Bangkalan

Selain tibbil qulub. Sabtu malam (21/3), Pengurus Anak Cabang GP Ansor Kecamatan Kamal dan PKB mencegah virus Corona dengan berjalan kaki keliling desa sambil membaca Salawat Burdah bersama warga.

Mereka juga membagikan selebaran tentang bahaya dan cara agar tak tertular virus yang berasal dari kelelawar ini.Burdah keliling juga dilakukan warga kampung Timur Pasar, Kota Bangkalan.

"Rutin cuci tangan dan pakai masker adalah 'pagar fisik' agar tak tertular corona. Agar lebih kuat diperlukan 'pagar batin' lewat amalam salawat Burdah," Kata Muhammad, peserta Burdah Keliling.

Imam Al-Bushiri kelahiran Maroko namun besar di daerah Bushir, Mesir. Pujangga bernama lengkap Imam Syafaruddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid Al-Bushiri ini wafat 1296 M.

Al-Bushiri merupakan murid seorang Sufi Besar, Imam Abu Hasan As-Syadzili, pendiri tarekat Syadziliyah. 

Simak video pilihan berikut ini: