Seluk Beluk Apokaliptik, Teori Penyebab Tewas Sekeluarga Kalideres

Merdeka.com - Merdeka.com - Pakar Kriminolog Universitas Indonesia (UI), Adrianus Meliala memiliki teori terkait penyebab kematian satu keluarga di Perumahan Citra Garden Satu Extension, Kalideres, Jakarta Barat.

Salah satu dari teori tersebut adalah keempat anggota keluarga tersebut merupakan penganut apokaliptik.

"Keempatnya adalah penganut keyakinan menyimpang tentang hidup setelah mati. Tindakan melaparkan diri adalah bagian untuk mencapai kesempurnaan hidup," ungkap Adrianus dalam keterangannya, Senin (14/11).

Hal tersebut diungkapkannya berdasarkan temuan sementara hasil Laboratorium Forensik (Labfor) yang menyebutkan bahwa kondisi mayat dalam keadaan tidak terlihat ada sisa makanan dalam lambung jenazah. Serta beberapa buku yang disita kepolisian dan beberapa video.

Lantas apa yang dimaksud dengan Apokaliptik dari Adrianus.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun oleh merdeka.com, menurut Cambridge Dictionary, apokaliptik adalah kata sifat yang menunjukkan atau menggambarkan kehancuran total dan akhir dunia, atau peristiwa masa depan yang sangat buruk.

Sementara itu menurut Britannica, apokaliptik adalah sesuatu yang berkaitan dengan, atau melibatkan kekerasan dan perusakan yang mengerikan. Sedangkan menurut Longman, apokaliptik adalah sifat dari sesuatu yang memperingatkan orang-orang tentang peristiwa mengerikan yang akan terjadi di masa depan; terhubung dengan kehancuran terakhir dan akhir dunia, atau dengan kehancuran besar apa pun.

Kata apokaliptik biasanya juga disandingkan dengan kata sastra, yang mengacu pada jenis karya sastra, yakni sastra apokaliptik. Sastra apokaliptik adalah genre tulisan kenabian yang berkembang dalam budaya Yahudi pasca-Pembuangan dan populer di kalangan orang Kristen awal milenium. Sebagai sebuah genre, sastra apokaliptik merinci visi penulis tentang akhir zaman seperti yang diungkapkan oleh seorang malaikat atau utusan surgawi lainnya.

Dari sejumlah penjelasan tersebut, baik pengertian secara umum maupun yang terkait dengan sastra, dapat dipahami bahwa apokaliptik adalah sifat dari sesuatu yang terkait dengan peringatan atau gambaran tentang kehancuran besar di akhir zaman.

Pengertian Apokaliptik

Apokaliptik merupakan bentuk kata sifat dari kata benda apokalips. Apokalips sendiri merupakan kata yang berasal dari kata dalam bahasa Yunani "apokalyptein," yang berarti mengungkapkan sesuatu yang jauh.

Kata tersebut kemudian diserap dalam bahasa Inggris menjadi apocalypse (apokalips dalam bahasa Indonesia) yang artinya kehancuran akhir dunia yang lengkap, seperti yang dijelaskan dalam kitab Wahyu Alkitab; sebuah peristiwa yang melibatkan kehancuran atau kerusakan pada skala yang mengagumkan atau bencana.

Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa apokalips adalah gambaran, atau bayangan tentang sesuatu yang jauh di masa depan, tentang akhir zaman atau kehancuran dunia. Sedangkan apokaliptik adalah sifat yang menunjukkan tentang gambaran kehancuran dunia di masa depan. Sederhananya bisa dipahami bahwa apokalips adalah gambaran tentang kiamat atau kehancuran dunia di akhir zaman.

Apokaliptisisme

Selain istilah apokalips dan apokaliptik, ada satu istilah lain yang berkaitan dengan dua hal tersebut, yakni apokalitisisme. Apokaliptisisme adalah sebuah keyakinan bahwa akan ada apokalips, suatu istilah yang awalnya mengacu pada pewahyuan kehendak Allah, tetapi sekarang umumnya mengacu pada keyakinan bahwa dunia akan segera berakhir, bahkan dalam kehidupan seseorang.

Sementara itu menurut Britannica, apokaliptisisme adalah pandangan dan gerakan eskatologis (akhir zaman) yang berfokus pada wahyu samar tentang campur tangan Tuhan yang tiba-tiba, dramatis, dan dahsyat dalam sejarah, tentang penghakiman semua orang dan keselamatan orang-orang pilihan yang setia.

Britannica juga menyebutkan bahwa apokaliptisisme dikembangkan lebih lengkap dalam spekulasi dan gerakan eskatologis Yahudi, Kristen dan Islam.

Apokaliptisisme Versi Yahudi

Apokaliptisisme Yahudi berpegang pada suatu doktrin bahwa terdapat dua era sejarah: masa sekarang yang dikuasai oleh kejahatan, dan dunia yang akan datang yang diperintah oleh Allah. Pada waktu era mendatang, akan ada seorang mesias yang akan mengantarkan umat beriman ke dalam era baru.

Karena insiden-insiden yang timbul sangat dini dalam sejarah Yahudi, prediksi mengenai waktu kedatangan mesias Yahudi sangat diperlemahkan, agar jangan ada orang yang kehilangan imannya ketika prediksi tersebut tidak terwujud selama masa hidupnya.

Musa dari Kreta, seorang rabi pada abad ke-5, mengklaim sebagai mesias dan berjanji untuk memimpin orang-orang, sama seperti Musa zaman dahulu, melintasi suatu lautan yang terbelah untuk kembali ke Palestina. Para pengikutnya meninggalkan harta milik mereka dan menantikan hari yang dijanjikan itu; kemudian, atas perintahnya, banyak orang melemparkan diri ke laut, beberapa ditemukan meninggal dan lainnya diselamatkan oleh para pelaut.

Apokaliptisisme Versi Kristen

Beberapa akademisi meyakini bahwa ajaran-ajaran apokaliptik Yesus merupakan pesan utama yang Ia sampaikan, bahkan lebih utama dari mesianisme Yesus.

Injil menggambarkan Yesus sebagai seorang nabi apokaliptik, dideskripsikan oleh diri-Nya sendiri dan oleh orang-orang lain sebagai Putra Manusia—diterjemahkan sebagai Putra Umat Manusia—untuk mengadakan pemulihan bagi Israel.

Yesus sendiri, sebagai Putra Allah, yakni suatu deskripsi yang digunakan oleh diri-Nya sendiri dan orang lain terhadap-Nya, ditetapkan untuk memerintah kerajaan ini sebagai Tuhan atas Kedua Belas Rasul, para hakim kedua belas suku.

Apokaliptisisme Versi Islam

Dalam pandangan Islam, hari kiamat atau akhir zaman merupakan sesuatu yang wajib diimani dan pasti akan datang. Ada berbagai ayat yang menggambarkan tentang apa yang terjadi ketika datangnya akhir zaman. Allah berfirman dalam QS. At Takwir 1-14 yang artinya,

"Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dipanaskan, dan apabila roh-roh dipertemukan (dengan tubuh), apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh, dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila neraka Jahim dinyalakan, dan apabila surga didekatkan, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya."

Di dalam Alquran Surah At Takwir dijelaskan bahwa nanti matahari akan digulung, bintang-bintang akan berjatuhan, terbayangkan bahwa besok di akhirat semua sumber cahaya dipadamkan.

Sedangkan saat itu, sangat banyak manusia yang dikumpulkan dan tentunya sangat sulit untuk bergerak maupun berjalan. Ketika kita berjalan sendiri melewati jembatan yang sangat gelap dan jembatannya hampir tidak kelihatan. Apakah terbayang kita bisa melewati jembatan tersebut kalau tidak ada lampu atau senter dengan banyak risiko menyebabkan terjatuh. [cob]