Seluk Beluk Pengelolaan DAS Berbasis Desa

Syahdan Nurdin, rizkysulaimansalim-289
·Bacaan 3 menit

VIVA – Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan satu kesatuan sungai dan anak dua sungainya yang menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami.

Perubahan tata guna lahan di daerah hulu disertai kegiatan pengolahan lahan dan peningkatan pembangunan mendorong peningkatan aktivitas manusia di dalam DAS, akan memberikan dampak seperti perubahan jumlah debit air serta kandungan sedimen/kandungan material di daerah hilir.

DAS bagian hulu (watershed) seharusnya menjadi fokus pengelolaan DAS. Pengelolaan DAS pada prinsipnya adalah pengaturan tata guna lahan atau optimalisasi penggunaan lahan untuk berbagai kepentingan secara rasional dan menggunakan pendekatan ramah lingkungan.

Tujuan dari pengelolaan DAS ini yaitu untuk memanfaatkan sumber daya alam di dalam DAS secara berkelanjutan dan tidak membahayakan lingkungan di sekitarnya.

Agar pengelolaan DAS dapat berlangsung secara "manusiawi" dan ramah lingkungan, ada pendekatan baru yang dikenal sebagai bottom up. Apa itu pendekatan bottom up?

Pendekatan bottom up memposisikan masyarakat lokal, para pemilik lahan menjadi pegiat kegiatan untuk mencegah kerusakan hutan dan lahan. Masyarakat lokal/desa merupakan orang-orang yang paling tahu asal usul status lahan, pola penggunaan lahan, serta cara mengelolanya berdasarkan kearifan lokal.

Dengan memberikan kesempatan bagi masyarakat desa untuk ikut menangani pengelolaan DAS, mereka mampu untuk mulai merencanakan, melaksanakan, merawat, memantau, dan mengevaluasi keseluruhan proses pengelolaan sampai memanen hasilnya untuk keberlangsungan hidup masyarakat tersebut.

Masyarakat penuh kesadaran merawat DAS
Masyarakat penuh kesadaran merawat DAS

Masyarakat penuh kesadaran merawat DAS

Rofiah Rengganis, alumni beasiswa S2 Bakrie Graduate Fellowship tahun 2015, memiliki kepedulian terhadap isu pengelolaan DAS. Ia tergabung ke dlam Forum Koordinasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (FKPDAS) wilayah Jawa Barat.

Ia aktif dalam pengelolaan DAS Citanduy. Pengelolaan DAS Citanduy dimulai dari tingkat tapak (mikro) dan ini menjadi tanggung jawab bersama dengan Pemerintah Desa.

Menurut Rofiah, pada umumnya DAS Citanduy masih cukup sehat. Aliran DASnya sepanjang Priangan Timur.

Bagaimana mempertahankannya agar tetap sehat? Alumni Ilmu Lingkungan Universitas Mulawarman ini menjelaskan supaya DAS tetap sehat diperlukan gerakan-gerakan lokal yang bisa mengglobal.

Pada dasarnya masyarakat sudah tahu bahwa dampak lingkungan akibat pengelolaan DAS yang kurang baik akan berdampak langsung pada lingkungannya, seperti gagal panen, banjir, longsor, konflik satwa dengan manusia, dan sebagainya. Untuk itu perlu dibangun kesadaran bersama untuk menjaga DAS tetap sehat.

"Kita bergerak melakukan Training of Trainers Mikro DAS Berbasis Desa, mengkomunikasikan dengan beberapa pihak, membangun KTA (Konservasi tanah dan Air) yang akan bermanfaat untuk konservasi vegetatif ribuan pohon sudah di KBD (Kebun Milik Desa). Ke depan akan mencoba membuat anakan sehingga ada sertifikasi pembibitan yang bisa di kelola Bumdes (Badan usaha milik desa) untuk berkembang,” jelas Rofiah.

Selain itu, lanjut Rofiah, ada pula beberapa pendekatan ke arah kearifan lokal seperti membuat biopori bambu, menanam bibit asli, hingga menyediakan pangan di habitat macan tutul.

Pelestarian lingkungan menjadi salah satu fondasi pengelolaan DAS berbasis desa
Pelestarian lingkungan menjadi salah satu fondasi pengelolaan DAS berbasis desa

Pelestarian lingkungan menjadi salah satu fondasi pengelolaan DAS berbasis desa

'DAS Sehat Desa Terlibat, DAS Lestari Desa Mandiri', begitulah semboyan pengelolaan DAS berbasis desa yang dilakukan oleh Rofiah bersama FKPDAS Jawa Barat. Ketika masyarakat desa diperlakukan sebagai subjek bukan objek, secara otomatis akan berkelanjutan karena masyarakat setempat merasa memiliki wilayahnya sendiri.

Ini adalah sebuah model gerakan yang bisa diaplikasikan di mana saja. Dengan begitu, desa diberikan kewenangan untuk mengatur kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, adat istiadat, serta nilai sosial budaya yang berlaku.

"Desa tidak lagi dianggap sebagai objek pembangunan, melainkan ditempatkan menjadi subjek dan ujung tombak pembangunan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat," tutur Rofiah.

Mengingat betapa pentingnya menjaga DAS untuk kelestarian alam menjadi salah satu alasan mengapa alumni Ilmu Lingkungan Universitas Mulawarman ini tertarik untuk ambil peran serta mengimplementasikan ilmunya dalam masyarakat.

Anggota FKPDAS Jawa Barat
Anggota FKPDAS Jawa Barat

Anggota FKPDAS Jawa Barat

"Saya berkomitmen karena panggilan untuk terlibat menjaga alam. Kebetulan basis ilmu di spasial dan lingkungan. Dengan turun langsung ke lapangan, mampu memperkuat sudut pandang saya sebagai bagian dari alam," tegasnya.