Sembunyi di Kebun Tebu, Anak Pembunuh Ayah Kandung Ditangkap

Ezra Sihite, Lucky Aditya (Malang)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Polisi menangkap Adi Pratama (25) yang merupakan pembunuh ayah kandungnya Tamin (49). Dia ditangkap saat bersembunyi di sebuah perkebunan tebu Desa Bumirejo Kecamatan Dampit Kabupaten Malang, Jawa Timur sekira pukul 08.30 WIB pada Rabu, 24 Maret 2021.

Kepala Desa Bumirejo, Sugeng Wicaksono mengatakan, perkebunan tebu itu berjarak 500 meter dari rumahnya sekaligus tempat kejadian perkara (TKP). Lokasi persembunyian Adi diketahui oleh seorang warga yang melihat sebuah motor terparkir di daerah kebun tebu.

"Waktu itu sebenarnya sudah dilakukan pengejaran ada warga yang melihat. Polisi pun langsung membuntuti Adi hingga ke pekarangan. Dan sesampainya di pekarangan langsung dikepung," kata Sugeng.

Sugeng mengatakan, setelah melihat pelaku, warga dan polisi lantas melakukan pengepungan. Adi kemudian ditangkap tanpa perlawanan. Kini pelaku pembunuhan kepada ayah kandungnya itu dibawa ke Polres Malang untuk mempertanggungjawabkan perbuatanya.

"Tidak ada perlawanan sama sekali. Langsung ditangkap dengan cara mengepung di pekarangan tebu dan bambu itu. Warga dan pihak Polres Malang yang menangkap. Sekarang prosesnya kami serahkan ke Polres Malang," ujar Sugeng.

Sebelumnya, Adi Pratama tega membunuh ayah kandungnya Tamin pada Selasa, 23 Maret 2021 pada pukul 01.00 WIB yakni dini hari. Adi adalah anak sulung dari korban. Dia diduga depresi sehingga tega menghabisi nyawa orangtuanya.

Dia membunuh ayahnya di rumahnya di Desa Bumirejo Kecamatan Dampit Kabupaten Malang. Korban ditemukan tewas pada pukul 11.00. Saat itu seorang warga melihat pintu rumah terbuka. Warga itu pun memasuki rumah dan menemukan Tamin sudah bersimbah darah.

"Ada warga pukul 01.00 itu mendengar suara teriakan. Tetapi biasanya memang Adi itu sering teriak-teriak. Warga pun langsung menelpon istri pak Tamin. Katanya pak Tamin sudah di rumah anaknya (TKP)," kata Sugeng.

Sugeng mengungkapkan, warga tidak menyangka jika teriakan itu merupakan suara Tamin meminta tolong. Selama ini Tamin yang bekerja sebagai petani memang sering mendatangi rumah Adi untuk menengok kondisi anaknya itu. Kebetulan lokasi rumah mereka berdekatan.

"Ada luka di kepalanya di tangannya dan di kakinya. Seperti terbakar dan diduga dilakukan menggunakan senjata tajam. Jadi biasanya memang pak Tamin ke sana menengok anaknya yang depresi. Rumahnya kan ada dua," ujar Sugeng.