Semeru, daya tarik puncak abadi para dewa

MERDEKA.COM. Secara geografis, Indonesia dikelilingi oleh gunung-gunung berapi yang masih aktif. Mata dunia kerap berdecak kagum dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang terbiasa hidup berdampingan dengan gunung berapi yang kapan saja bisa meletus. Salah satunya adalag Gunung Semeru yang hingga saat ini masih aktif mengeluarkan gas dari kawah Jonggring Saloko (Puncak Mahameru).

Meski masuk dalam daftar gunung berapi aktif, Semeru selalu dijadikan salah satu tujuan pendakian oleh para pecinta alam dari berbagai daerah di Indonesia. Wajar saja mengingat gunung ini merupakan gunung tertinggi yang ada di pulau Jawa dengan ketinggian hingga 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl). Jauh lebih tinggi dibandingkan gunung lain di Pulau Jawa semisal Gunung Slamet, Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, atau Gunung Gede Pangrango.

Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang terletak di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur ini sudah tidak asing lagi di telinga para pecinta alam. Tidak hanya pecinta alam lokal, nama besar Gunung Semeru juga terdengar ke telinga pecinta alam internasional. Seolah ada kepuasan tersendiri jika berhasil berdiri di Puncak Mahameru (Puncak Gunung Semeru).

Tidak dipungkiri, Mahameru seolah seperti magnet yang memiliki daya tarik sangat kuat bagi para pecinta alam. Dulu, salah satu pegiat alam bebas yang juga aktivis mahasiswa, Soe Hok Gie punya alasan kuat untuk mendaki Mahameru. "Di gunung kita akan menguji diri dengan hidup sulit, jauh dari fasilitas enak-enak. Biasanya akan ketahuan, seseorang itu egois atau tidak. Juga dengan olahraga mendaki gunung, kita akan dekat dengan rakyat di pedalaman. Jadi selain fisik sehat, pertumbuhan jiwa juga sehat. Makanya yuk kita naik gunung. Ayo ke Semeru, sekali-kali menjadi orang tertinggi di Pulau Jawa," kata Gie kala itu.

Mahameru memang fenomenal. Salah satunya karena Mahameru dikenal sebagai 'puncak abadi para dewa'. Disebut demikian karena konon menurut legenda kepercayaan masyarakat Jawa yang ditulis pada kitab kuno Tantu Pagelaran di abad 15, para dewa memutuskan memaku pulau Jawa yang mengambang di lautan luas, dengan cara memindahkan Gunung Meru di India ke atas Pulau jawa.

Gunung Meru sendiri dianggap sebagai tempat bersemayam para dewa dan penghubung manusia dan kayangan.Masyarakat Jawa dan Bali sampai saat ini masih mengganggap gunung sebagai tempat kediaman dewata. Maka jangan heran jika berkunjung ke Gunung Semeru, masih ada sesaji di pinggir jalan.

Sebutan puncak abadi para dewa itulah yang mengundang Yusuf, salah seorang pecinta alam asal Makassar. Rombongan Yusuf berjumlah tujuh orang. Mereka rela menyeberang pulau hanya untuk bisa lebih dekat dengan puncak para dewa.

"Biar jauh, kami rela asal bisa sampai ke puncak Semeru," kata Yusuf kepada merdeka.com saat pendakian menuju puncak Mahameru beberapa waktu lalu. Dia tidak menampik kuatnya daya tarik Semeru yang akhirnya membawa mereka ke Pulau Jawa.

Lain halnya dengan tiga orang pendaki asal tanah pasundan. Abri, Andi, dan Yoga baru kali pertama menapakkan kaki di Semeru. Ketiganya mengaku beberapa kali mendaki gunung, namun hanya gunung-gunung di wilayah Jawa Barat. Alasan yang menarik mereka untuk mencapai puncak Mahameru adalah jalur pendakian yang konon cukup menantang.

Yang tidak bisa dikesampingkan, Mahameru semakin terangkat setelah munculnya film layar lebar 5cm yang memang mengambil lokasi di kawasan Gunung Semeru hingga puncak Mahameru. Hal itu diakui oleh Tyas, salah seorang pendaki asal kalimantan. Dia tak segan mengakui bahwa film tersebut menambah kuat daya tarik Gunung Semeru. Padahal, harus diakui bahwa mendaki Semeru tidak semudah yang ada di film.

"Ya memang saya ke sini (Semeru) karena penasaran setelah nonton film itu," kata Tyas. Dia yang datang hanya berdua dengan rekannya, akhirnya menggabungkan diri dengan rombongan pendaki lain. Meski terengah-engah menapaki tanjakan pasir berbatu yang merupakan jalur akhir menuju puncak Mahameru, Tyas akhirnya berhasil sampai ke puncak tertinggi di Tanah Jawa.

Terlepas dari seberapa besar kekuatan film 5cm, nyatanya kawasan TNBTS kini semakin ramai dikunjungi. Di sepanjang jalur pendakian dari Ranu Pani menuju Ranu Kumbolo, tim merdeka.com kerap berpapasan dengan rombongan anak muda yang ramai-ramai terkena demam naik gunung. Dengan berbekal peralatan seadanya, mereka justru tampak seperti ingin rekreasi ketimbang ingin mendaki gunung. Mereka berjalan diiringi suara musik yang keluar dari telepon genggam yang dibawanya.

Beberapa di antaranya nampak seperti kurang mempersiapkan diri untuk berjalan jauh dengan medan yang cukup menguras tenaga. Alhasil, di antara rombongan tersebut ada yang hampir pingsan kehabisan tenaga. Pendakian menuju Mahameru memang membutuhkan stamina dan fisik yang memadai. Tanpa itu, keinginan untuk bisa berbagi waktu dengan alam dan menikmati matahari terbit di puncak Mahameru hanya sebuah mimpi.

Banyak pula pendaki yang menempuh jalur pendakian akhir yakni tanjakan pasir berbatu menuju puncak Mahameru, terpaksa memutuskan turun karena kehabisan tenaga atau persediaan air minum. Persiapan matang menjadi salah satu syarat wajib, tapi banyak pendaki yang hanya berbekal keinginan atau larut dalam heroiknya film 5cm. Hal itu juga diakui salah seorang porter Gunung Semeru yang biasa mengantar para pendaki.

"Banyak yang akhirnya turun lagi mas, ga sampai atas karena kayak kurang persiapan. Memang makin ramai yang kesini, mungkin gara-gara film itu," kata Suhartono sambil tertawa.

Daya tarik Mahameru dan keindahan Ranu Kumbolo tentu tidak akan hilang. Bisa jadi daya tariknya semakin besar dan seabadi para dewa.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.