SemInar nasional PUR-PLSO Universitas Sriwijaya hadirkan ratusan pakar

Sebanyak 182 pemakalah dan 400 peserta dari berbagai provinsi di Tanah Air mengikuti seminar nasional yang digelar Pusat Unggulan Riset Pengembangan Lahan Suboptimal (PUR-PLSO) Universitas Sriwijaya Palembang.

Seminar nasional ke-10 yang digelar secara daring oleh PUR-PLSO Universitas Sriwijaya (Unsri) di Palembang, Sumatera Selatan, Kamis, mengusung tema 'Revitalisasi Sumber Pangan Nabati dan Hewani Pascapandemi dalam Mendukung Pertanian Lahan Sub Optimal Secara Berkelanjutan'.

Dalam seminar itu menghadirkan beberapa pembicara kunci yang berasal dari sejumlah perguruan tinggi di Tanah Air, antara lain Prof Dr Benyamin Lakitan, M.Sc. (Universitas Sriwijaya) membahas lahan basah Indonesia yang selama ini belum dimanfaatkan secara aktif, sehingga sekarang saatnya untuk dikelola secara intensif, ekologis, dan inklusif dalam upaya peningkatan produksi pangan pada lahan basah tropika.

Kepala PUR-PLSO Unsri Prof Dr Ir Siti Herlinda, M.Si menyampaikan tema salah satu organisme yang berperan penting dalam ekosistem terkait perannya sebagai sumber pangan dalam meningkatkan produksi berkelanjutan tanaman baik tahunan maupun musiman.

Kemudian Prof. Mohammad Basyuni, S.Hut., M.Si., Ph.D. (Universitas Sumatera Utara), memaparkan mengenai mangrove sebagai salah satu lahan basah yang upaya rehabilitasinya menjadi penting baik secara ekologis maupun secara ekonomis.

Kegiatan rehabilitasi mangrove, kata dia, merupakan contoh nyata keberhasilan dari biodiversitas jenis, jumlah individu tanaman, dan stok karbon.

Pembahasan mengenai revolusi industri 5.0, disampaikan Prof Dr Ir Adriani, M.Si., CIQaR (Universitas Jambi) agar ketersediaan pangan berkualitas menjadi prioritas sehingga kualitas hidup manusia meningkat, aman dan nyaman.

Untuk itu, penanganan, pengolahan dan pengawasan bahan pangan baik tanaman, ternak dan ikan menjadi hal penting untuk menjamin ketersediaan bahan pangan yang sehat, aman dan berkelanjutan.

Terkait dengan keamanan pangan, Dr. Nuning Vita Hidayati, S.Pi., M.Si., Ph.D (Universitas Jenderal Sudirman) menyoroti lahan basah sebagai penyedia jasa ekosistem penting yang memberikan manfaat lingkungan sebagai perangkap polutan, termasuk logam berat, plastik, dan pestisida.

Seminar ini juga menghadirkan makalah penunjang dengan tema budi daya tanaman, ikan dan ternak, pengelolaan lingkungan, sosial, ekonomi dan budidaya, pengolahan dan pengawasan pangan (tanaman, ikan dan ternak), sumber pangan fungsional dan tanaman rempah dan obat herbal, teknologi pertanian, sistem informasi digital innovation in smart farming industry.

Rektor Unsri Prof. Anis Saggaf, ketika membuka seminar nasional tersebut menyampaikan apresiasi kepada 182 pemakalah dan lebih dari 400 peserta dari berbagai provinsi antara lain Sumatera Utara, Bengkulu Lampung, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Sulawesi Utara, D.I. Yogyakarta, Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DKI Jakarta yang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Seminar nasional lahan suboptimal yang telah berlangsung selama 10 tahun ini merupakan bukti keseriusan dan konsistensi PUR-PLSO dalam menyelenggarakan kegiatan seminar dengan fokus pada riset unggulan di lahan sub optimal.

Untuk itu, Universitas Sriwijaya senantiasa mendukung penuh pelaksanaan kegiatan ini berlangsung secara terus menerus atau sesuai agenda tahunan PUR-PLSO Unsri, kata Rektor Unsri.

Sementara Ketua Panitia Seminar Nasional PUR-PLSO Unsri ke-10 Prof. Siti Herlinda menjelaskan tema 'Revitalisasi Sumber Pangan Nabati dan Hewani Pascapandemi dalam Mendukung Pertanian Lahan Suboptimal secara Berkelanjutan' merupakan kelanjutan dari tema sebelumnya pada awal masa pandemi.

Baca juga: LPPM Unsri fasilitasi penelitian dosen di tujuh kabupaten Sumsel

Baca juga: Dosen-mahasiswa Unsri edukasi masyarakat olah biji lotus jadi tempe

Baca juga: Mahasiswa Universitas Kagoshima Jepang kunjungi "urban farming" Unsri

Baca juga: Universitas Sriwijaya siap bertransformasi dari BLU menjadi PTN-BH

Persoalan pangan menjadi masalah mendasar bagi kehidupan manusia.

Persoalan ketersediaan sumber pangan nabati dan hewani pascapandemi secara kualitas dan kuantitas seiring dengan bangkit dan pulihnya semua aspek kehidupan, demikian Siti Herlinda.