Seminggu di Tarakan, Tim JKW-PWI akhirnya tiba di Tolitoli

·Bacaan 2 menit

Setelah penantian panjang disertai usaha keras, tim Jelajah Kebangsaan Wartawan-Persatuan Wartawan Indonesia (JKW-PWI) akhirnya merapat di Tolitoli, Sulawesi Tengah.

Sebelumnya, tim dikabarkan sempat susah payah mencari informasi jadwal penyebrangan dari Tarakan, Kalimantan Utara. Namun pada 3 Januari lalu, akhirnya tim berhasil menumpang KM Sabuk Nusantara 116 untuk tiba di Tolitoli.

Tim yang terdiri dari Yanni Krishnayanni, Agus Blues Asianto, Sonny Wibisono, dan Indrawan Ibonk juga sempat tertahan di Tarakan selama 7 hari sejak 28 Desember 2021 hingga melewati pergantian tahun di sana.

Sebelum meninggalkan Tarakan, Indrawan Ibonk, Yanni Krishnayani dan Sonny Wibisono menyempatkan diri untuk mengunjungi Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB). Menurut keterangan petugas konservasi, di dalam kawasan ini terdapat dua kawanan Bekantan yang berhasil ditangkar dalam satu kawasan seluas 9 ha dengan luas total 23 ha.

Baca juga: Ketua PWI: Ekspedisi JKW-PWI bentuk penyaluran bakat dan hobi wartawan

Baca juga: Tim JKW-PWI masuki wilayah etape pertama dalam turing kebangsaan

Usai dari lokasi KKMB, tim pun langsung menuju Pelabuhan Malundung Tarakan untuk memastikan informasi kedatangan kapal KM Sabuk Nusantara 116 yang akan menyebrang ke Tolitoli pukul 16.00 WITA.

Akan tetapi kendala kembali dialami oleh Agus Blues Asianto. Dalam perjalanan ke pelabuhan, motor KLX 230 yang dikendarai Agus tiba-tiba terjatuh karena kehilangan keseimbangan. Agus sendiri juga diketahui sedang dalam kondisi yang kurang sehat saat itu.

Oleh sebab itu, tim pun memutuskan untuk meninggalkannya di Tarakan Agus mendapatkan perawatan medis yang lebih intensif sampai kondisinya pulih kembali.

Kendati demikian, motor KLX 230 milik Agus pun tetap disebrangkan. Posisi Agus untuk sementara digantikan oleh Aji Tunang Pratama yang merupakan sesama rekan wartawan yang membantu tim JKW-PWI. Bikers pengganti ini akan mulai berkendara bersama tim JKW PWI dari Tolitoli menuju kota di provinsi berikutnya hingga Agus bisa kembali bergabung dengan tim.

Menurut keterangan dari salah seorang pegawai Pelindo di Pelabuhan Malundung, KM Sabuk Nusantara 116 ternyata tidak seperti KM Sabuk Nusantara milik PT Pelni yang tidak mengangkut kendaraan roda 2 atau roda 4. Kalaupun diizinkan, calon penumpang harus mengeluarkan dana besar karena harus membayar ongkos packing kendaraan.

Menurut seorang petugas agen tiket, pengelolaan KM Sabuk Nusantara 116 diserahkan ke pihak swasta yang melayani rute penyebrangan bersama KM Sabuk Nusantara yang dikelola oleh PT Pelni.

Di tengah perjalanan, tim JKW-PWI sempat mendapati beberapa ABK (Anak Buah Kapal) KM Sabuk Nusantara 116 melakukan pembuangan sampah atau limbah penumpang ke laut. Diantaranya adalah sampah plastik dan stirofoam pembungkus mie instan.

Menurut salah seorang ABK, kegiatan pembuangan sampah rutin dilakukan untuk mengurangi tumpukan sampah rutin dilakukan untuk mengurangi tumpukan sampah penumpang sebelum kapal sandar di pelabuhan tujuan.

Tim JKW-PWI sempat meminta ABK untuk tidak membuang sampah ke laut, namun tidak diindahkan oleh mereka. Padahal, tindakan itu dapat membahayakan ekosistem di laut dan berdampak kerusakan lingkungan secara keseluruhan.

Baca juga: Menpora dukung Ekspedisi JKW Nusantara

Baca juga: Tim JKW-PWI pusat jelajah alam Indonesia sambangi PWI Sumut

Baca juga: Tim JKW-PWI bagi kisah terjang banjir di Medan

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel