Sempat Bikin Ferdy Sambo Marah, Ini Isi CCTV yang Dilihat Penyidik Polres Jaksel

Merdeka.com - Merdeka.com - Mantan penyidik Polres Metro Jakarta Selatan Ipda Arsyad Daiva Gunawan menyebut, DVR CCTV di kawasan Komplek Perumahan Polri, Duren Tiga, masih aktif. Dia mendapatkan DVR CCTV itu dari Chuck Putranto setelah insiden penembakan Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J terjadi.

Arsyad mengungkap hal itu saat menjadi saksi dalam perkara dugaan obstruction of justice atas kasus kematian Brigadir J.

Dia mengatakan, DVR CCTV yang terbungkus plastik hitam itu diserahkan Chuck dan langsung dibawa ke salah satu ruangan Polres Metro Jakarta Selatan untuk dicek. Padahal Ferdy Sambo tak memerintahkan hal tersebut. Ini yang sempat membuat Sambo naik pitam kepada Chuck.

"Masih terbungkus plastik hitam," kata Arsyad saat sidang untuk terdakwa Irfan Widyanto di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Kamis (10/11).

"Kemudian dibawa kemana?" tanya lagi hakim.

"Dibawa ke ruangan," jawab Arsyad.

"Tahu proses pengambilan CCTV diambil dari mana?" tanya kembali hakim.

"Kami tidak mengetahui yang mulia," sahut Arsyad.

"Sempat dibuka?" tanya hakim memastikan.

"Kami buka plastiknya, kami lihat," ucap Arsyad.

Arsyad mengaku kalau perangkat DVR CCTV yang terbungkus plastik hitam itu dimasukkan ke dalam tiga kotak yang masing-masingnya tidak dilakban.

Namun dalam penyerahan itu, dia tak melihat ada harddisk yang seharusnya tersedia di dalam perangkat tersebut.

"Selain DVR ada apalagi?" tanya hakim kepada Arsyad.

"Hanya DVR yang mulia, ada 3," jawab Arsyad.

"Harddisknya?" timpal Hakim.

"Gak lihat, yang saya lihat hanya DVR," ucap Arsyad.

Setelah mendapatkan DVR CCTV yang sebelumnya diambil oleh Irfan di beberapa titik komplek sekitar rumah dinas Ferdy Sambo dari Chuck. Arsyad lalu membuka dan melakukan pengecekan.

Dimana ketika dicek oleh Arsyad dalam rangka penyelidikan, disebut jika DVR CCTV tersebut masih dalam kondisi menyala atau aktif saat dicek oleh tim penyidik.

"Terus?" tanya hakim memastikan.

"Tidak lama kami terima, kami buka, lalu kami diperintahkan Kanit kami AKP Rifaizal Samual untuk mengecek apakah CCTV tersebut masih menyala," kata Arsyad.

Namun meski berfungsi, kata mantan anak buah Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan Ridwan Soplanit itu, CCTV yang diserah Chuck hanya menampilkan gambar blank atau gelap.

"Terus dites nyala?" tanya hakim lagi.

"Nyala tapi gambarnya hitam," jawab Arsyad.

"Menurut saudara itu rusak atau berfungsi?" tanya hakim memastikan.

"Berfungsi," tegas Arsyad.

"DVR-nya tampilkan gambar?" tanya lagi hakim.

"Tidak ada. Tapi ketika di-klik muncul username dan password. Kemudian kami laporkan pada Kanit kami, dibutuhkan username dan password," tukas Arsyad.

Bikin Ferdy Sambo Marah

Sebelumnya dalam dakwaan, Pihak Polres Metro Jakarta Selatan yang diwakili Rifaizal Samual sempat bertanya untuk meminta decoder CCTV kepada Arif Rahman Arifin yang lantas disauti Chuck Putranto bahwa decoder CCTV ada di mobilnya.

"Kemudian penyidik Polres Jakarta Selatan mengambil dari mobil saksi Chuck Putranto," tulis dakwaan jaksa penuntut umum (JPU).

Sehari setelahnya Senin tanggal 11 Juli 2022 sekira pukul 10.00 WIB ketika Chuck Putranto, sedang berada di dalam ruangan DIV Propam. Dia dipanggil Ferdy Sambo untuk bertanya CCTV yang nyatanya telah diserahkan ke Polres Metro Jakarta Selatan.

"Ferdy Sambo bertanya 'CCTV dimana?' dan dijawab oleh Chuck Putranto, 'CCTV mana jenderal? Kemudian Ferdy Sambo, menjawab 'CCTV sekitar rumah’. Kemudian dijawab lagi oleh Chuck Putranto, sudah saya serahkan ke Polres Jakarta Selatan'. Kemudian Ferdy Sambo, katakan 'siapa yang perintahkan?' Kemudian dijawab oleh Chuck Putranto 'siap'," ujarnya.

Kalimat 'Siap' yang dikatakan Chuck seraya merespon kesalahan yang telah dilakukannya. Sehingga membuat Ferdy Sambo dengan nada tinggi seperti marah atas tindakannya menyerahkan decoder CCTV ke Polres Metro Jakarta Selatan.

"Selanjutnya Ferdy Sambo, meminta Chuck Putranto, dengan berkata 'kamu ambil CCTV-nya kamu copy dan kamu lihat isinya'. Kemudian Ferdy Sambo, melanjutkan kata-katanya dengan nada marah 'Lakukan jangan banyak tanya, kalau ada apa-apa saya tanggung jawab' dan dijawab oleh Chuck Putranto, 'siap jenderal'," bebernya.

Setelah itu, Chuck Putranto, meninggalkan ruang kerja Ferdy Sambo, dan menghubungi saksi Rifaizal Samual untuk mengambil DVR CCTV yang kala itu telah dipegang Polres Metro Jakarta Selatan.

"Dan pada saat itu Rifaizal Samual menanyakan 'kok diambil bang. 2 kan sudah diserahkan'. Namun dijawab oleh Chuck Putranto, 'perintah bapak'. Selanjutnya Chuck Putranto, menuju ke Polres Jakarta Selatan dan bertemu dengan Penyidik Polres Jakarta Selatan untuk mengambil DVR CCTV yang masih terbungkus plastik hitam," sebutnya.

Dalam perkara ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah mendakwa total lima tersangka yakni, Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Richard Eliezer alias Bharada E, Ricky Rizal alias Bripka RR, dan Kuat Maruf.

Mereka didakwa turut secara bersama-sama terlibat dengan perkara pembunuhan berencana bersama-sama untuk merencanakan penembakan pada 8 Juli 2022 di rumah dinas Komplek Polri Duren Tiga No. 46, Jakarta Selatan.

"Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan turut serta melakukan perbuatan, dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain," ujar jaksa saat dalam surat dakwaan.

Terancam Hukuman Mati

Atas perbuatannya, kelima terdakwa didakwa sebagaimana terancam Pasal 340 subsider Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 KUHP yang menjerat dengan hukuman maksimal mencapai hukuman mati.

Sedangkan hanya terdakwa Ferdy Sambo yang turut didakwa secara kumulatif atas perkara dugaan obstruction of justice (OOJ) untuk menghilangkan jejak pembunuhan berencana.

Atas hal tersebut, mereka didakwa melanggar Pasal 49 juncto Pasal 33 dan/atau Pasal 48 ayat (1) juncto Pasal 32 ayat (1) UU ITE Nomor 19 Tahun 2016 dan/atau Pasal 221 ayat (1) ke 2 dan 233 KUHP juncto Pasal 55 KUHP dan/atau Pasal 56 KUHP.

"Timbul niat untuk menutupi fakta kejadian sebenarnya dan berupaya untuk mengaburkan tindak pidana yang telah terjadi," sebut Jaksa. [rnd]