Sempat Dibully, Remaja Berusia 17 Tahun Asal Korea Selatan Sukses Memiliki Dua Bisnis dengan Mozet Menakjubkan

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Memasuki usia 17 tahun segala hal dicoba untuk menemukan passion hingga impian yang akan diraih. Mulai mencari jurusan kuliah sesuai minat, atau bahkan sudah memilih pekerjaan yang akan dijalani.

Namun, bagi Sukone Hong usia 17 tahun justru sudah membuka jalan kesukses dengan mewujudkan mimpinya menjadi seorang pengusaha.

Pria asal Korea Selatan ini diusia muda sudah menjalankan dua bisnis sekaligus. Dilansir CNBC, Kamis (8/9/2021) Hong menjadi CEO merek fashion Korea Selatan, Olaga Studios, dan telah menghasilkan lebih dari USD 1 juta dalam penjualan tahun ini serta memenangkan pengakuan dari Universitas Harvard.

Selain itu, ia juga bergerak di bisnis produk jam tangan pintar Braille untuk tunanetra yang ia jual, telah dipesan dalam jumlah ribuan.

Pengalaman buruk membuahkan hasil baik

Sukone Hong/Foto: paradox-computer
Sukone Hong/Foto: paradox-computer

Hong mengungkapkan ia sebelum sukses ia mengelami kesulitan dalam bersosialiasi. Bahkan ia mengaku sempat mengalami pembullyan di sekolanya. Hingga akhirnya ia berpikir untuk mencari cara mengubah hidupnya lebih baik lagi.

"Sulit bagi saya untuk bergaul di sekolah. Aku seperti di-bully. Aku harus menemukan sesuatu yang dapat mengubah hidupku," ungkap Hong kepada CNBC Make It.

Dari tekat itulah, di bangku kelas delapan, Hong memulai perjalanan masuk ke dunia bisnis. Akhirnya, Hong memutuskan untuk menjual kembali pakaian bermerek di platform belanja online Korea Selatan, Naver.

Hanya bermodalkan USD 150 di sakunya, yang dengan cepat "habis," Hong menyadari bahwa dia harus mengubah caranya memulai bisnis.

Hong membutuhkan nilai jual yang unik. Jadi, dengan pinjaman USD 5.000 dari kakek-neneknya dan bantuan bisnis percetakan, dia mulai bekerja membuat situs pakaiannya sendiri yang menawarkan pakaian kasual berukuran unisex dengan desain sederhana namun menarik.

Brand Olaga Sudios dan jam tangan lahir.

(Ilustrasi: Via Shutterstock).
(Ilustrasi: Via Shutterstock).

"Tidak ada yang terjadi selama seminggu. Namun, kemudian, Senin pagi, ada sekitar 15 pesanan. Lima puluh pesanan saat jam makan siang. Delapan puluh pesanan menjelang malam. Pekan itu, saya menjual 300 kaos," ceritanya.

Merek pakaian berusia tiga tahun ini telah mencapai kesuksesan secara regional, mengumpulkan uang sebesar USD 1,2 juta dalam penjualan tahunan di enam pasar Asia dan menempati peringkat No. 1 dalam kategori kaos Style Share.

Pencapaian tersebut telah memungkinkan Hong mempekerjakan tim yang terdiri dari 12 orang untuk membantu menjalankan situs tokonya.

Hingga ia mampu melunaskan hutang pinjamannya kepada orang tuanya untuk biaya masuk sekolah di sekolah internasional Amerika di Seoul, tempat dia menempuh pendidikan terbarunya.

Sekolah inilah yang membuatnya dirinya terinspirasi menciptakan bisnis terbarunya, yang menurutnya adalah panggilannya yang sebenarnya.

"Sebelumnya, saya pikir bisnis hanya tentang menghasilkan banyak uang. Tapi setelah pindah sekolah, saya mendapat pendidikan yang bagus. Guru saya mengatakan bahwa pengalaman saya dapat digunakan untuk membuat bisnis untuk membantu orang lain," beber Hong.

Dari perkataan guru tersebut, Hong membuat Paradox Computers, perusahaan di balik jam tangan pintar braille buatan Hong, bertujuan untuk membantu tunanetra.

#elevate women

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel