Sempat Ingin Mengakhiri Hidup, Perempuan Ini Bersyukur Bisa Pulih dari COVID-19

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Katy Anderson berkali-kali berpikiran ingin menyelesaikan hidupnya di tahun 2020, sejak pertama kali menyaksikan COVID-19 menyebar dengan cepat di China. Bahkan sebelum virus ini dilaporkan masuk ke Amerika Serikat, Katy memberi tahu suaminya bahwa orang-orang jelas abai, tidak memperhatikan.

Suaminya bahkan mengira Katy sedikit paranoid, namun sebagai seseorang dengan penyakit kronis, Katy merasa penting untuk mengawasi perkembangan virus ini. Sekarang, sudah lebih dari setahun dan Katy berharap dirinya bisa melewati, serta mengobati penyakit rheumatoid arthritis yang dideritanya.

Ketakutan Katy terjadi, tidak ada yang mempersiapkan dirinya untuk mengalami gejala sedang dari COVID-19. Bagi beberapa orang, tertular virus ini tidak bisa dihindari, namun di komunitas sekitar Katy, ia masih sering mendengar orang-orang mengira bahwa COVID-19 hanya flu biasa.

Mereka berpendapat bahwa mereka tidak perlu mengikuti protokol kesehatan karena menurut mereka, virus ini hanya memengaruhi orang-orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu dan orang tua. Katy mendengar bahwa orang-orang di sekitarnya lebih takut pada vaksin, daripada tertular COVID-19.

Sikap ini tersebar luas di Utah, di mana teori konspirasi menyerbu berbagai sudut. Tidak mengherankan jika kasus COVID-19 di Utah melonjak dan rumah sakit telah mendekati batas atas kapasitasnya selama beberapa minggu.

Orang-orang di sekitar Katy tidak percaya COVID-19 adalah penyakit mematikan

Ilustrasi koma. Sumber foto: unsplash.com/Daan Stevens.
Ilustrasi koma. Sumber foto: unsplash.com/Daan Stevens.

Meskipun beberapa orang diberkati dengan gejala ringan, COVID-19 tetap menakutkan dan traumatis. Katy sendiri tidak pernah mengira COVID-19 adalah flu, ia telah melakukan penelitian yang cukup untuk mengetahui kerusakan yang dapat ditimbulkan pada tubuh, termasuk kerusakan organ, risiko mengalami long COVID-29, dan kondisi psikosis pada beberapa individu.

Katy sendiri telah mengalami perkembangan penyakitnya dalam setahun terakhir, tanpa pengobatan, tubuhnya telah menunjukkan tanda-tanda kerusakan sendi permanen, yang tidak dapat dipulihkan. Inilah sebabnya mengapa Katy sempat ingin mengakhiri hidupnya.

Sayangnya, walaupun ia telah berhati-hati dan melakukan yang terbaik untuk mengikuti protokol kesehatan, Katy akhirnya tertular COVID-19 pada pertengahan Desember. Memerangi COVID-19 benar-benar berbeda dari yang ia bayangkan karena gejalanya tidak seperti yang pernah ia alami.

Memang ada demam, batuk, nyeri otot yang ekstrem, dan kelelahan, namun lebih dari itu, Katy merasa ini tidak seperti flu. Apa yang tidak diduga oleh Katy dan tidak dipersiapkannya adalah nyeri dan tekanan di dada yang tidak berhenti, menyebabkan ia tidak mendapatkan cukup oksigen.

Terkadang, Katy khawatir ia tidur dan tidak bangun lagi. COVID-19 bagi Katy bukan hanya penyakit fisik, namun juga bisa menimbulkan banyak kecemasan.

Katy bersyukur bisa pulih dari COVID-19

Ilustrasi koma. Sumber foto: unsplash.com/Olga Kononenko.
Ilustrasi koma. Sumber foto: unsplash.com/Olga Kononenko.

Tubuh Katy berperang habis-habisan, bahkan ia mengembangkan herpes zoster sekitar 2 minggu setelah dinyakan positif COVID-19. Herpes zoster memang menyedihkan, namun tidak menakutkan, seperti COVID-19.

COVID-19 tidak boleh dianggap sebagai flu atau seperti penyakit lain yang biasa dialami manusia. Katy bersyukur ia masih hidup, walaupun belum sepenuhnya pulih.

Sampai hari ini, 8 minggu setelah ia dinyatakan positif COVID-19, Katy masih mengalami sakit di dadanya per 10 sampai 15 menit. Daya tahan tubuhnya menurun drastis, ia berjuang dengan nyeri dada yang berkepanjangan, sesak napas, kelelahan, dan gejala aneh lainnya, seperti mulut kering dan insomnia.

Sayangnya, sembuh dari COVID-19 bukan berarti kembali sehat. Bagi Katy, COVID-19 adalah hal yang sangat nyata.

#Elevate Women