Sempat Merasa Insecure, Ini Kisah Inspirasi Anak Petani Gunung Lawu Kuliah di UGM

Merdeka.com - Merdeka.com - Siapapun punya hak sama dalam merasakan pendidikan tinggi, tak peduli tingkat ekonomi, status di masyarakat, atau bakat yang dimiliki. Begitu pula dengan Apia Dewi Agustin, perempuan 22 tahun yang tinggal di lereng Gunung Lawu, Magetan, Jawa Timur.

Mahasiswi yang berkuliah di prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) itu sebentar lagi akan menyelesaikan kuliahnya. Orang tua Dewi merupakan seorang petani sayur. Namun setahun lalu ayahnya dipanggil Yang Kuasa. Kini tinggal ibunya yang menyemangati Dewi untuk terus menyelesaikan kuliahnya.

"Ibu sekarang jadi pedagang kelontong sederhana di depan rumah. Rumahku di pedesaan. Rata-rata penghasilan mungkin sekarang Rp1 jutaan. Efek pandemi juga sih," kata Dewi dikutip dari Ugm.ac.id pada Senin (11/7).

Berikut kisah selengkapnya:

Suka Ekonomi dari SMP

anak petani gunung lawu yang bisa kuliah di ugm
anak petani gunung lawu yang bisa kuliah di ugm

©Ugm.ac.id

Dewi mengaku sudah suka dengan pelajaran ekonomi sejak SMP. Saat SMA, ia sudah masuk kelas IPS dengan guru pengampu pelajaran ekonomi yang sama selama tiga tahun berturut-turut.

Bagi Dewi, guru SMA nya itu sangat favorit dan inspiratif. Saat ujian kelulusan, nilai mata pelajaran ekonomi Dewi termasuk yang tertinggi se-Kabupaten Magetan.

“Jadi secara tidak langsung tersugesti dan termotivasi juga ya. Kemudian, dari lingkungan keluarga sendiri. Kakakku juga lulusan akuntansi. Jadi sedikit banyak dapat amunisi,” kata Dewi.

Sempat Merasa Insecure

Saat masa awal-awal kuliah di UGM, Dewi mengaku merasa belum percaya diri karena merasa teman-temannya dari daerah lain banyak yang lebih pintar darinya. Apalagi Dewi berasal dari desa sehingga merasa insecure bertemu teman-teman lain yang menurutnya keren-keren.

“Selain itu aku juga sendirian. Gak ada teman 1 SMA yang seangkatan di FEB. Jadi mulai dari nol banget buat teman kenalan di FEB. Tapi Alhamdulillah lama-lama terbiasa. Enjoy aja sama keadaannya,” kata Dewi.

Walaupun harus berjuang demi menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, ia merasa terbantu dengan adanya dukungan dari para dosen dan tenaga pendidik untuk bisa beradaptasi belajar dengan baik. Akhirnya secara perlahan Dewi bisa berbaur dengan lingkungan barunya.

Pentingnya Beasiswa

ilustrasi beasiswa
ilustrasi beasiswa

bp2munnes.com ©2013 Merdeka.com

Dewi mengaku adanya beasiswa bidikmisi sangat membantu kelancaran kuliahnya. Apalagi kondisi ekonomi keluarganya cukup pas-pasan dan tidak bisa membiayai keperluannya selama kuliah.

Ia masih ingat, orang tuanya sempat tidak mengizinkannya kuliah di Jogja. Namun ia tetap bersikeras padahal saat itu ayahnya sedang jatuh sakit.

Selama kuliah, Dewi tidak hanya duduk manis mengikuti perkuliahan saja. Namun juga aktif di luar kelas dengan mengikuti organisasi baik di dalam maupun luar kampus.

Ia pun beberapa kali mengikuti kegiatan non akademik seperti lomba akademis, proyek sosial, volunteer, internship, dan kegiatan lainnya. Kini, ia tengah menyelesaikan skripsinya yang dikerjakan bersamaan dengan proyek dosen FEB yang dibiayai LPDP.

“Aku jadi asisten penelitian di sana sembari mengerjakan skripsi. Kemarin sempat magang di beberapa tempat. Doakan semoga segera lulus,” pungkas Dewi dikutip dari Ugm.ac.id. [shr]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel