Sempat Tertunda, Johnson & Johnson Lanjutkan Pengiriman Vaksin ke Eropa

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Produsen vaksin COVID-19 Johnson & Johnson pada Selasa (20/4/2021) mengungkapkan bahwa pihaknya akan melanjutkan pengiriman vaksin ke Eropa setelah regulator kesehatan Eropa, European Medicines Agency (EMA) mengatakan manfaat suntikan vaksin tersebut lebih besar daripada risiko pembekuan darah yang langka.

"Ini peristiwa yang sangat langka. Kami berharap dengan membuat orang-orang sadar serta menerapkan pedoman diagnostik dan terapeutik yang jelas kami dapat memulihkan kepercayaan pada vaksin kami," kata Kepala Bidang Ilmiah Johnson & Johnson Paul Stoffels dikutip dari Reuters.

EMA merekomendasikan Johnson & Johnson untuk menambahkan peringatan tentang pembekuan darah langka dengan jumlah trombosit darah rendah ke label produk vaksin. Johnson & Johnson pun kini menyertakan label peringatan tentang risiko efek samping yang jarang terjadi pada produk vaksinnya ditambah instruksi tentang cara mengenali dan mengobatinya.

Johnson & Johnson akan memulai kembali pengiriman ke Uni Eropa, Norwegia dan Islandia, dan sedang bekerja untuk memulai kembali uji klinis.

Sempat Dihentikan Sementara

Seorang karyawan di distributor McKesson Corporation memindai sekotak vaksin Johnson & Johnson saat mengisi pesanan di Shepherdsville, Kentucky, Senin (1/3/2021). Vaksin Covid-19 Johnson & Johnson menjadi vaksin corona ketiga yang sah digunakan di AS. (AP Photo/Timothy D. Easley, Pool)
Seorang karyawan di distributor McKesson Corporation memindai sekotak vaksin Johnson & Johnson saat mengisi pesanan di Shepherdsville, Kentucky, Senin (1/3/2021). Vaksin Covid-19 Johnson & Johnson menjadi vaksin corona ketiga yang sah digunakan di AS. (AP Photo/Timothy D. Easley, Pool)

Pengiriman vaksin Johnson & Johnson ke Eropa harus tertunda setelah pekan lalu penggunaan vaksin tersebut sempat dihentikan sementara oleh otoritas Amerika Serikat. Hal ini merupakan imbas dari adanya kejadian pembekuan darah otak yang langka dikombinasikan dengan jumlah trombosit darah rendah dilaporkan pada enam wanita.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) dan Badan POM AS (FDA) ikut meninjau kasus pembekuan darah langka yang dilaporkan pada orang-orang yang menerima suntikan.

"Hasil dari tinjauan vaksin penting untuk upaya vaksinasi global secara keseluruhan, mengingat vaksin Johnson & Johnson tidak memiliki persyaratan penyimpanan dingin yang ekstrim dari vaksin mRNA," kata analis Edward Jones Ashtyn Evans, mengacu pada vaksin dari Moderna dan Pfizer dengan mitra BioNTech.

Pembekuan Darah Juga Terjadi Dari Penggunaan Vaksin Lain

Departemen kesehatan Filipina menangguhkan penggunaan vaksin COVID-19 AstraZeneca pada 8 April 2021 untuk orang di bawah 60 tahun setelah adanya laporan pembekuan darah di luar negeri. (Foto: AFP / Jam Sta Rosa)
Departemen kesehatan Filipina menangguhkan penggunaan vaksin COVID-19 AstraZeneca pada 8 April 2021 untuk orang di bawah 60 tahun setelah adanya laporan pembekuan darah di luar negeri. (Foto: AFP / Jam Sta Rosa)

Kasus pembekuan darah tersebut tidak hanya terjadi pada pemakaian vaksin Johnson & Johnson. Menurut EMA ada lebih dari 300 insiden pembekuan darah langka yang dikombinasikan dengan jumlah trombosit yang rendah setelah penggunaan vaksin COVID-19 di seluruh dunia.

Kepala Analisis Data EMA Peter Arlett menyebut ada 287 kejadian dengan vaksin AstraZeneca, 25 untuk Pfizer, delapan dengan suntikan Johnson & Johnson, dan lima untuk Moderna.

Penulis: Abel Pramudya Nugrahadi

Infografis Benarkah Sudah Divaksin Masih Bisa Kena Covid-19?

Infografis Benarkah Sudah Divaksin Masih Bisa Kena Covid-19? (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Benarkah Sudah Divaksin Masih Bisa Kena Covid-19? (Liputan6.com/Abdillah)

Simak Juga Video Berikut