Sempoyongan Bawa Ransel, Prajurit Raider Kena Amuk Jenderal Kopassus

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Tak banyak orang tahu perihal sosok Letnan Jenderal (Letjen) TNI (Purn.) Hotmangaraja Panjaitan, mantan anggota satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus) putra Pahlawan Revolusi, Mayjen TNI (Anumerta) D. I. Panjaitan. Sebagai seorang pemimpin, Hotmangaraja dikenal tegas dan punya visi membentuk pasukannya menjadi prajurit TNI yang profesional.

Dirangkum VIVA Militer dari berbagai sumber, Hotmangaraja menghabiskan sebagian besar karier militernya bersama Korps Baret Merah. Bahkan, Hotmangaraja adalah anggota pasukan paling elite di Kopassus, Detasemen 81 Penanggulangan Teror (Sat-81/Gultor).

Seoanjang kariernya di Kopassus, jebolan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) 1977 ini pernah menjadi Wakil Komandan (Wadan) Sat-81/Gultor, Asisten Intelijen Kopassus, hingga menjadi Komandan Grup 3 Sandhi Yudha/Kopassus.

Tak hanya itu, Hotmangaraja juga pernah menjadi Komandan Pusat Teritorial TNI Angkatan Darat (Danpusterad), Asisten Teritorial Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Aster Kasad), hingga Panglima Komando Daerah Militer IX/Udayana (Pangdam IX/Udayana).

Sebuah momen memperlihatkan bagaimana sosok Hotmangaraja begitu tegas dan keras terhadap pasukannya. Hal ini terlihat saat pria kelahiran Palembang 14 Oktober 1953 ini meninjau langsung latihan tempur satuan elite Batalyon Infanteri Raider 900/Satya Bhakti Wirottama (Yonif Raider 900/SBW), Kodam IX/Udayana.

Momen itu terjadi saat Hotmangaraja menjabat sebagai Pangdam IX/Udayana, sekitar 26 Juni 2008 hingga 1 April 2010. Dengan tegas Hotmangaraja menyatakan, prajurit Raider harus memiliki standar tinggi sebagai pasukan tempur. Jika ada prajurit yang kualitasnya di bawah standar, maka dipersilahkan untuk angkat kaki dari satuan elite itu.

Tak hanya itu, Hotmangaraja juga memastikan bahwa pihak penyelenggara latihan tempur Yonif 900/SBW bertanggung jawab penuh kepada staf operasi Kodam IX/Udayana.

Hotmangaraja mengancam, jika ada pelatih yang tidak mendidik prajurit dengan keras sesuai kualifikasi Raider, maka pihak penyelenggara akan berhadapan dengan tim staf operasi Kodam IX/Udayana.

"Saudara tidak boleh berada di bawah itu. Kalau saudara berada di bawah tersebut maka saudara dipertimbangkan untuk meninggalkan satuan Raider. Dan jangan dikira penyelenggara ini di bawah pengawasan," tegas Hotmangaraja.

"Penyelenggara ini berada di bawah pengawasan staf operasi. Kalau ada pelatih yang terlihat memberikan toleransi, atau memberikan belas kasihan kepada pelaku, maka penyelenggara akan berhadapan atau berurusan dengan tim dari staf operasi," katanya.

Sebagai Perwira Tinggi (Pati) TNI Angkatan Darat yang pernah memegang posisi intelijen Kopassus, pengamatan Hotmangaraja terhadap prajuritnya sangat tinggi. Terbukti, Hotmangaraja melihat ada sejumlah anggota berpangkat Prajurit Dua (Prada) TNI yang kelelahan memikul ransel.

Bukannya memberi toleransi, Hotmangaraja malah semakin berbicara dengan nada tinggi. Baginya, seorang prajurit Raider seharusnya mampu berdiri tegak dengan perlengkapan lengkap termasuk ransel dan senapan serbu, tanpa bergeming sedikit pun.

"Usahakan kamu pakai ransel setiap hari, di mana pun. Sudah meleot kanan, meleot kiri. Ransel itu beratnya berapa kilo? Ada yang tahu? Saya lihat Prada (Prajurit Dua) ada yang miring kanan, miring kiri, gatal atau apa kamu?" ujar Hotmangaraja kepada para prajurit Yonif Raider 900/SBW.

"Ransel itu makanan, dipikul! Tahan, sudah mulai pegel kiri, pegel kanan. Saya tahu bagaimana perasaan kamu, karena saya berbicara di sini bukan hanya bicara, karena saya pernah melalui," katanya.

Menurut Hotmangaraja, jika seorang prajurit Raider merasa kelelahan berdiri berjam-jam dengan peralatan lengkap seharusnya sadar diri. Itu berarti, setiap prajurit harus meningkatkan kualitas dirinya sendiri.

"Kalau kamu merasa pegel dua jam berdiri pakai ransel harusnya kamu menyadari. Bahwa seharusnya ke depan, kamu harus melatih diri kamu," ucap Hotmangaraja.