Semprot Disinfektan di Jalanan, Dr Faheem Younus: Buang-Buang Waktu, Uang, dan Energi

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Dokter asal Amerika Serikat, Faheem Younus MD, kembali 'bersuara'. Kali ini mengenai penyemprotan disinfektan di jalanan dan ruang terbuka, yang dipercaya dapat mencegah penyebaran COVID-19.

Lewat Twitter pribadinya, @FaheemYounus, dokter yang akhir-akhir ini sering berkicau menggunakan Bahasa Indonesia, menggunggah empat buah foto yang memerlihatkan proses penyemprotan disinfektan di jalanan.

"Benar-benar buang-buang waktu, uang, dan energi," tulis Faheem Younus dikutip Health Liputan6.com pada Selasa, 6 Juli 2021.

Menurut Faheem Younus, menyemprotkan disinfektan di jalan dan ruang terbuka tidak diperlukan. "Rumah sakit dan kamar dengan pasien COVID adalah cerita lain," lanjutnya.

Hal senada pernah disampaikan Ketua Umum PP Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) dan Komite Ahli PMKL Kementerian Republik Indonesia, Prof Arif Sumantri SKM M Kes.

Arif menekankan bahwa disinfektan bukanlah segalanya. Prosesnya mungkin selesai dalam satu jam, tapi residunya bisa menimbulkan dampak lain.

"Sebab sumber penyakit kita tidak pernah tahu. Jangan-jangan masalahnya ada pada kita yang sehat atau sakit, atau pura-pura sehat ternyata di dalam tubuh ada agen penyakit yang bisa menularkan penyakit," katanya.

Apa Itu Disinfektan?

Sebelumnya, Arif menjelaskan bahwa disinfektan merupakan proses dekonteminasi yang menghilangkan atau membunuh segala hal terkait mikroorganisme---baik virus maupun bakteri---pada objek permukaan benda mati.

"Ini yang membedakan disinfektan dengan antiseptik. Kalau antiseptik, membunuh atau menghambat mikroorganisme pada jaringan hidup," katanya.

Sebelum melakukan disinfektan, orang-orang perlu tahu bahwa proses ini memiliki dampak kesehatan, seperti menimbulkan bau dan mengiritasi tangan bahkan mengganggu pernapasan.

"Sehingga agar efektif biasanya petugas harus mencuci tangan yang bersih, menggunakan sarung tangan, dan menggunakan pakaian khusus untuk melindungi tubuh," katanya.

Jadi Apa yang Harus Dilakukan?

Prof Arif menuturkan, hal yang paling penting dalam mencegah penularan virus ataupun bakteri adalah tren hidup bersih dan sehat.

"Jika memang berada di zona merah mungkin diperlukan (disinfeksi) dengan berkonsultasi dengan para ahli seperti HAKLI. Tapi yang terpenting mengetahui cuci tangan pakai sabun. Sabun seperti apa? Sabun dengan antiseptik," katanya.

Selain itu, lanjut Arif, gunakan air bersih,"Air yang bersih bukan hanya sehat dan aman tapi juga bisa memberantas jentik nyamuk yang balap-balapan dengan virus corona. Kasus kematian DBD juga tinggi. Persoalannya di air."

Dan yang tak kalah penting, ia melanjutkan, penggunaan jamban yang sehat dan menjaga rumah tetap bersih. Juga menjaga kesehatan mental.

"Kita juga punya ikhtiar dengan pendekatan keluarga. Dengan menjaga kesehatan pola pikir. Jangan panik karena kita telah melakukan sesuatu tindakan pencegahan dengan cara tadi, menjaga kebersihan dan cuci tangan," Arif menekankan.

Infografis Boleh dan Tidak Boleh Sebelum - Setelah Vaksinasi Covid-19

Infografis Boleh dan Tidak Boleh Sebelum - Setelah Vaksinasi Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Boleh dan Tidak Boleh Sebelum - Setelah Vaksinasi Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)

Simak Video Berikut Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel