Semuanya berada di tangan Tuhan: Pengungsi gunung berapi Filipina pasrah

Oleh Neil Jerome Morales

SANTO TOMAS, Filipina (Reuters) - Abu halus yang melayang ke ruang olah raga sekolah itu karena hembusan angin adalah pengingat setia untuk para pengungsi di Filipina mengenai gunung berapi yang mengancam mengubur rumah mereka untuk selamanya.

Saat mereka duduk di ruang berpagar tas-tas dan kotak-kotak barang yang sebisanya mereka bawa, para pengungsi bertanya-tanya tentang berapa lama mereka harus menunggu untuk mengetahui apakah gunung berapi Taal akan menghancurkan daerahnya atau kembali reda.

"Kini semuanya berada di tangan Tuhan. Kami tak yakin apakah kami bakal memiliki rumah untuk kembali," kata Leonita Gonzales (52) yang mengungsi bersama dengan seisi rumahnya dari zona berbahaya di sekitar Taal.

Kebun pisangnya dihancurkan abu yang jatuh setelah gunung berapi itu menyemburkan asap pada Minggu. Dia tak yakin apakah atap seng rumahnya bakal mampu menanggung berat juga.

Hampir 44.000 orang telah menjauhi zona bahaya 14 km (sembilan mil) di sekitar Taal, tempat para vulkanolog memperingatkan letusan dahsyat bisa menghujankan bebatuan dan magma serta memicu tsunami dari danau tempat gunung berapi itu berada.

Pada Selasa, lebih dari 1.100 pengungsi mengungsi ke ruang olah raga itu dan ruang-ruang kuliah di universitas negeri di kota Santo Tomas, sekitar 20 km timur laut tempat Taal terus mengepulkan awan abu dan uap melalui retakan-retakan lama dan baru.

Getaran-getaran gempa yang sesekali terjadi menunjukkan kekuatan bergemuruh di bawah bumi dan membuat jantung berdebar kencang.

"Jangan bilang kamu berani. Saat bencana melanda, kamu akan menyeru semua orang suci, besar atau kecil," kata Obet Dionglay (61) yang telah berjalan melewati jalan-jalan yang tertutup abu demi mencari perlindungan.


Hancur

Gubuk Dionglay telah dihancurkan oleh rangkaian pohon bambu yang tertekuk oleh beratnya abu dan dia hanya punya sedikit harapan karena tiga babi dan selusin ayamnya selamat.

Dionglay mengenang letusan terakhir Taal pada 1977 ketika kota kelahirannya Talisay sebagian besar selamat tanpa cedera.

Meskipun Taal menjadi alah satu gunung berapi aktif terkecil di dunia yang hanya setinggi 311 meter (1.020 kaki), tapi gunung api ini bisa mematikan: letusannya pada 1911 telah menewaskan lebih dari 1.300 orang.