Senandung Rindu dalam Alunan Keroncong di Tengah Pegebluk

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Demak - Gita Citra Alam, sebuah komunitas keroncong asal Kota Wali, Demak menggelar halalbihalal pada bulan Syawal 1442 H, Minggu (23/5/2021) di Hotel Citra Alam Demak. Sesuai dengan anjuran pemerintah, komunitas yang tetap berkarya di tengah pandemi Covid-19 ini tetap mematuhi protokol kesehatan secara ketat.

Pengunjung yang menonton pertunjukan musik keroncong secara langsung pun sudah dibatasi sesuai kuota yang tertuang dalam peraturan perundangan pada situasi pandemi Covid-19 ini. Tak lupa, pihak penyelenggara juga menyiapkan tempat cuci tangan berupa air dan sabun cair serta gel pembersih kuman.

Selain itu, dalam undangan yang disampaikan, semua penonton wajib mengenakan masker dari rumah meski panitia sudah berjaga-jaga menyediakan kain penutup mulut dan hidung itu sebagai cadangan.

Ketua Komunitas Gita Citra Alam (GCA) Demak, Prilastono Nugroho (55) mengatakan acara ini dihelat setelah hampir dua tahun tidak ada pertunjukan musik keroncong bagi khalayak.

"Ajang silaturahmi, obat rindu setelah dua tahun terakhir ini tidak membuat pertunjukan untuk pecinta keroncong," ucap Prilastono.

Komunitas keroncong GCA Demak juga mengakui bahwa seharusnya di masa pandemi, anggotanya tetap giat berlatih. Namun sepinya order pentas turut berpengaruh terhadap animo latihan. Sehingga latihan rutin pun sangat jarang dilakukan.

**Ingat #PesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Tjong Young

Komunitas Keroncong GCA Demak menyuguhkan lagu keroncong pesisiran pada halalbihalal secara blended di Demak. (Foto: Liputan6.com/Kusfitria Marstyasih)
Komunitas Keroncong GCA Demak menyuguhkan lagu keroncong pesisiran pada halalbihalal secara blended di Demak. (Foto: Liputan6.com/Kusfitria Marstyasih)

Meski musik keroncong penikmatnya tak sebesar musik dangdut ataupun pop, hal itu tak membuat GCA Demak patah semangat. Untuk tetap melestarikan musik yang ciri khasnya ada pada cuk atau keroncong yang dipadukan secara harmoni dengan biola, flute, cak, gitar, cello dan bass, maka GCA pun mengkader anak anak muda yang mereka beri julukan 'Tjong Young' alias keroncong muda.

Komunitas keroncong GCA mengklaim bahwa musik keroncong mereka sedikit berbeda dengan musik keroncong pada umumnya. GCA Demak mengusung keroncong khas pesisiran yang iramanya lebih rancak dibandingkan musik keroncong lain.

Pada kegiatan halalbihalal yang digelar di ruang terbuka ini, GCA maupun Tjong Young sama sama menunjukkan kebolehan dalam menyuguhkan pertunjukan bagi penonton baik yang datang secara langsung maupun netizen yang menyaksikan melalui media sosial.

Selain mendapatkan respons dari para penikmat musik keroncong di Kota Wali, acara keroncong GCA Demak ini juga didukung oleh Singgih Sanjaya dosen musik ISI Jogjakarta serta Andi Prih salah satu anggota Orkes Sinten Remen bentukan seniman gaek Djaduk Ferianto yang meninggal pada tahun 2019 lalu.

Melalui video conference, kedua seniman asala Jogjakarta tersebut berpesan kepada GCA Demak agar tetap produktif menghasilkan karya baru meski di tengah badai corona.

Simak Video Pilihan Berikut Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel