Senang Tantangan Baru, Rendra Kusuma Jadi Wartawan tvOne

Syahdan Nurdin
·Bacaan 2 menit

VIVA – Senang tantangan dan sesuatu yang baru mendorong Rendra Kusuma menjadi wartawan. Ia kini menjadi presenter tvOne.

Sosok Rendra Kusuma ini unik. Orangnya tidak banyak bicara. Tapi malah jadi wartawan. Bahkan, orangtuanya sempat tidak percaya pada dirinya bisa menjadi jurnalis dan presenter.

Sebelum menjadi wartawan, pria lulusan Sastra Indonesia, Universitas Indonesia 2008 ini pernah bekerja sebagai editor buku. Bekerja duduk di belakang meja ini membosankan dan kurang menantang. Ia alami selama 1 tahun.

"Itulah mengapa saya pindah masuk tvOne. Berarti ada peluang besar buat bertemu dan mempelajari hal-hal baru," jelas pria penyuka wisata kuliner, Kamis, pekan ini.

Pada 2009, Rendra menjadi wartawan tvOne. Sebelum jadi jurnalis tvOne, ia ikut dan seleksi di Kampus One Batch 2. Setelah dinyatakan lulus, ia langsung jadi reporter tvOne.

Selama menjadi reporter, ia dikenal sebagai reporter bencana dan konflik. Bukan konflik sesama teman ya. Tapi reporter yang liputannya banyak di medan bencana dan konflik.

Di antaranya, liputan peristiwa gempa Padang 2009, konflik etnis Tarakan 2010, demo buruh Freeport 2011, bentrok warga di Bima 2012, pesawat Sukhoi jatuh di Bogor 2012, dan longsor Aceh 2013.

"Nah, di profesi inilah, saya bisa bepergian ke tempat-tempat yang baru. Bertemu dengan orang-orang baru, Ini tantangan semua," jelas pria kelahiran Bogor, 18 Maret 1985 ini.

Setelah 5 tahun sebagai reporter, pada 2014 Rendra memulai debutnya menjadi presenter. Ia mengawali menjadi presenter program Kabar Dunia dan Kabar Pagi.

Kemudian jadi presenter program Kabar Siang, Kabar Petang, hingga Apa Kabar Indonesia Pagi.

Sekarang kembali lagi di program Kabar Pagi, sekaligus merangkap sebagai asisten produser.

Baginya menjadi jurnalis dan presenter tvOne adalah sebuah kebanggaan. Tantangan hampir setiap hari terjadi. Kadang sering merasa larut dalam perasaan yang dimiliki narasumber, tapi tetap harus netral dalam memberitakannya.

"Kita harus selalu kritis terhadap setiap peristiwa. Selalu berusaha netral dan terbiasa berpikir cover both side," ujar Fans fanatik FC Internazionale ini.