Sengketa Rumah Warisan, Satu Keluarga di Jakarta Dikepung Preman

Liputan6.com, Jakarta: Gara-gara masalah rumah warisan, satu keluarga yang tinggal di Utan Kayu Jakarta Timur tersandera di rumahnya oleh anak angkatnya dan sekelompok preman. 

Keluarga Ibu Aryuni (55 tahun) yang tinggal di Jl Gang Sekip Ujung RT 06 RW 07 Kelurahan Utan Kayu Selatan Matraman Jakarta Timur terkepung tak bisa keluar masuk rumah sejak Minggu 11 November 2012.

"Di dalam rumah tersebut terdapat 7 orang, 5 orang dewasa dan 2 anak balita usia 2 dan 4 tahun. Mereka tidak bisa keluar masuk karena halaman rumahnya digembok dan dijaga 5 orang preman. Listrik juga dimatikan," kata Agus Dwiyono yang merupakan kakak dari menantu Ibu Aryuni saat berbincang dengan Liputan6.com, Selasa (13/11/2012).

Pihak keluarga menyesalkan pengepungan ini karena pihak yang mengepung juga dinilai tidak mempunyai dasar hukum yang kuat soal sengketa rumah seluas 380 meter persegi tersebut. Tapi langsung dengan cara kekerasan dan perbuatan tidak menyenangkan.

Pihak pengepung adalah sepupu dari Ibu Aryuni yang bernama Bapak Taufiq. Bapak Taufik ini merasa ada hak dia dalam rumah tersebut. Pihak pengepung ini mengatasnamakan Yayasan Bunaya yang menaungi keuarga bekas narapidana.

Diceritakan Agus, rumah tersebut adalah warisan yang kini kepemilikannya atas nama Aryuni. Tidak terima dengan penguasaan rumah oleh Ibu Aryuni, pihak Bapak Taufiq pernah menggugat perdata di Pengadilan tahun 2006. Namun karena dokumennya tidak lengkap gugatan tersebut ditolak pengadilan.

Karena sering merasa mendapat perlakuan tidak menyenangkan, pihak Ibu Aryuni juga melakukan gugatan pidana tahun 2006 yang keputusannya keluar pada 2007 dengan vonis bersalah pada Bapak Taufiq dan dikenai hukuman 6 bulan penjara.

Lama setelah kasus tersebut, pada Minggu 11 Nopember, pihak Taufiq secara tiba-tiba mengepung dengan membawa 5 preman dan 10 keluarganya untuk mendatangi keluarga Aryuni.

"Pihak keuarga Aryuni tidak mau keluar karena kalau tidak bertahan mereka akan terusir selamanya. Biarlah pengadilan yang memutuskan tapi jangan melakukan pengepungan seperti ini," kata Agus yang mewakili pihak keuarga.

Pihak keluarga sendiri mengaku sudah melaporkan ke pihak kepolisian. Namun tidak ada respons dan polisi membiarkan masalah pengepungan preman tersebut.  

Mengenai kasus ini, Kapolsek Matraman, Komisaris Polisi Djoko Santoso, menyatakan persoalan tersebut masalah internal keluarga. Laporan sudah diterima Polsek Matraman dan Polres Jakarta Timur. "Yang memagar keluarga itu adalah anak angkatnya, ini persoalan keluarga," kata Kompol Djoko saat dihubungi Liputan6.com.

Namun, Djoko mengaku belum mengetahui apakah pihak penyandera itu membawa-bawa preman dalam masalah itu. "Kalau benar bawa preman, kami akan langsung ke TKP dan mengimbau agar preman itu keluar karena tidak ada urusan mereka di situ," ujarnya. (ARY)