Seniman jadikan pandemi sebagai momentum refleksi dan adaptasi

Alviansyah Pasaribu
·Bacaan 2 menit

Seni pertunjukan, termasuk teater, merupakan salah satu sektor yang paling terdampak pandemi COVID-19, yang memaksa para seniman dan ekosistem di dalamnya melakukan refleksi dan beradaptasi demi tetap memproduksi karya.

Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Danton Sihombing, mengatakan, pegiat maupun penikmat seni harus beradaptasi atas pergeseran pengalaman sensorik, yang semula dilakukan dan dinikmati melalui pertemuan fisik, kini menjadi serba daring dan virtual.

"Pengalaman sensoriknya bergeser. Sekarang adalah bagaimana kita menyikapi dan menyesuaikan diri. Dan yang penting terus berupaya dan tidak putus asa," kata Danton melalui konferensi pers virtual, Jumat.

"Sekarang kita sudah terbiasa dengan berbagi layar juga, hal itu lumayan menolong. Walau memang tidak ideal, tapi at least ada yang bisa kita lakukan untuk engage di wilayah itu," imbuhnya.

Baca juga: Menilik makna "Jeda" di Djakarta Teater Platform 2020

Baca juga: "Padusi", pementasan dengan unsur kebudayaan Minang

Di sisi lain, Sutradara Teater Garasi, Yudi Ahmad Tajudin melihat pandemi COVID-19 sebagai sebuah refleksi bagi para seniman. Refleksi untuk melihat ulang pikiran, gagasan, dan praktik serta karya yang sebelumnya telah dilakukan.

Selain itu, Yudi juga melihat pandemi sebagai pembuka peluang untuk kemungkinan penyampaian karya, tak terkecuali pemanfaatan teknologi seperti layanan daring sebagai ruang baru untuk mempresentasikan seni.

"Untuk alih wahana ke online ini, pelaku harus jadi dipaksa untuk bergaul dengan media yang sebelumnya tidak familiar. Hal ini akhirnya membuat kita belajar hal baru," kata Yudi.

"Nanti, entah wabah ini segera selesai atau tidak, pergaulan dengan media baru ini memberi perluasan kepekaan tertentu untuk seniman," imbuhnya.

Ia pun mengapresiasi para seniman yang berkarya dengan bentuk dan media lain di masa pandemi, seperti misalnya pentas drama dari dua tempat berbeda, hingga menghidupkan kembali teater radio.

"Misalnya teater radio, bagaimana kita melihat dari perspektif bunyi, ada potensi dramatis juga di dalamnya. Bagaimana pendengar membayangkan peristiwa dramatis melalui olah bunyi. Itu kemungkinan lain yang saya sangat senang bisa kita coba lakukan," kata Yudi.

Lebih lanjut, ia berpendapat bahwa pandemi membuka kemungkinan lain; seperti percobaan baru yang akan membuat "kaya" seniman dan penontonnya.

"Seniman dan penonton belajar kemungkinan baru, medefinisikan ulang soal liveness, hubungan langsung seni pertunjukan, yang bisa diupayakan dari media atau teknik baru," pungkasnya.

Baca juga: Menghidupkan kembali Chrisye lewat drama musikal "Lirih"

Baca juga: Pentas teater "Tabib dari Timur" hadir secara virtual di akhir pekan

Baca juga: Olivia Zalianty mengaku "gaptek" latihan musikal secara daring