Seniman Surabaya dorong pemerintah daftarkan kesenian Reog ke UNESCO

·Bacaan 2 menit

Sejumlah seniman di Surabaya menggalang dukungan agar pemerintah memprioritaskan kesenian tradisional Reog untuk didaftarkan ke Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-bangsa (Unesco) sebagai warisan budaya tak benda.

Aksi penggalangan dukungan digelar di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Timur (DPRD Jatim), Jalan Indrapura Surabaya, Senin.

Ketua Paguyuban Reog Ponorogo Surabaya (Purbaya) Siswandi, saat dikonfirmasi di sela aksi mengatakan, aksi dilakukan dengan membentangkan kain putih panjang untuk ditandatangani oleh siapapun yang peduli dengan kesenian tradisional asal Ponorogo, Jawa Timur, tersebut.

"Tadi kami sudah ditemui anggota dewan. Nanti perwakilan dari mereka akan turun ke sini untuk ikut membubuhkan tanda tangan dukungan," katanya.

Baca juga: Bupati Ponorogo optimistis reog segera jadi warisan budaya tak benda

Baca juga: Gubernur Jatim tegaskan Reog layak warisan budaya tak benda ke UNESCO

Mereka berharap, aspirasi mereka disampaikan melalui DPRD Provinsi Jawa Timur ke pemerintah pusat.

Siswandi mengatakan, bersama sejumlah seniman sepakat menggelar aksi setelah mendengar informasi bahwa kesenian reog sampai tahun ini bukan menjadi prioritas di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk didaftarkan ke Unesco sebagai warisan budaya tak benda.

Para seniman khawatir, jika tidak segera didaftarkan, kesenian reog akan dicaplok menjadi milik negara tetangga Malaysia.

"Kesenian Reog sudah jadi rebutan dengan negara Malaysia. Ini menyangkut harga diri bangsa, jangan sampai kebudayaan kita direbut asing," tuturnya.

Siswandi mengenang, Malaysia pernah merebut dua pulau, Sipadan dan Ligitan.

Salah satu peserta aksi, Sifa Alin Salsadila, mengaku tidak rela jika kesenian tradisional Reog diklaim sebagai milik Malaysia.

"Sebagai warga negara Indonesia, saya berpartisipasi melestarikan kebudayaan. Saya tidak mau kebudayaan kita diklaim oleh Malaysia. Kita harus melestarikan," kata penari berusia 19 tahun asal Kampung Sememi Jaya Surabaya itu.

Baca juga: Menko PMK dukung Reog Ponorogo jadi warisan budaya tak benda ke UNESCO

Baca juga: KSP kawal pengajuan Reog Ponorogo sebagai WBTB Indonesia ke UNESCO

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel