Senjakala Penjahit Tua Pantura di Tengah Pagebluk Corona

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Demak - Bagi para pegawai atau karyawan, usia 60 tahun adalah masa yang tepat untuk pensiun dan memperbanyak istirahat. Tapi kondisi tersebut tidak berlaku bagi Rohani (63) penjahit serabutan yang setiap hari mangkal di depan pintu masuk Pasar Buyaran, Demak, Jawa Tengah.

Kotak kayu usang bertuliskan 'permak jeans dll' setia menemani perjalanan panjangnya selama puluhan tahun mengais rezeki dari para pelanggan yang ingin membongkar atau memperbaiki pakaian mereka.

Satu hal yang patut diacungi jempol adalah pandangannya yang belum kabur pada usia setua itu. Matanya masih awas memasang benang ke jarum di mesin jahit usang yang tiap hari digenjot tanpa henti. Hanya saja pendengarannya yang mulai kurang peka sehingga pelanggan harus mengeraskan suara ketika berkomunikasi dengan pria berusia senja ini.

"Belum pernah pakai kacamata. Masih jelas kok," ungkap pria yang mulai menjahit sejak usianya menginjak 22 tahun.

Ia tak pernah mengeluhkan nasib. Justru dengan ceria ia selalu menyampaikan kabar-kabar baik dan cerita-cerita positif. Menurutnya, hidup berkualitas adalah ketika manusia selalu berbaik sangka.

Pikiran dan perilaku positif juga lah yang membuatnya selalu dilancarkan urusan dan dimudahkan rezeki. Pandemi Covid-19 tak terlalu memengaruhi kesehariannya.

"Alhamdulillah, rezeki sedikit atau banyak harus selalu disyukuri supaya ditambahkan nikmatnya," kata penjahit berusia senja ini, dengan muka berseri-seri saat diwawancarai Liputan6.com, Sabtu (4/9/2021).

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Masker Sebelum Pandemi

Rohani (63) tukang permak pakaian berbagi rejeki pada peminta-minta. Sabtu (4/9/2021). (Foto: Liputan6.com/KusfitriaMarstyasih)
Rohani (63) tukang permak pakaian berbagi rejeki pada peminta-minta. Sabtu (4/9/2021). (Foto: Liputan6.com/KusfitriaMarstyasih)

Ia juga mengaku tidak kaget ketika pemerintah menggembar-gemborkan protokol kesehatan yang di antaranya wajib bermasker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas atau biasa dikenal sebagai kampanye 5 M.

"Sebelum ada corona tiap hari saya pakai masker soalnya kerjanya kan di pinggir jalan pantura. Banyak debu,"ungkap Rohani.

Ia juga menambahkan, dirinya tidak terlalu menyukai kerumunan sehingga pelanggan yang datang biasanya hanya menyerahkan pakaian dan menyampaikan instruksi perbaikan. Pakaian diambil kembali sesuai perjanjian waktu perbaikan.

Tetapi Rohani juga mendoakan agar pandemi Covid-19 segera berlalu supaya usaha rekan-rekannya seperti kuli panggul pasar dan para pedagang bisa beraktivitas kembali secara normal dan rejeki kembali mengalir seperti sediakala.

Simak Video Pilihan Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel