Senjata Rahasia Pembunuh Korut: Pulpen Racun & Senter

Liputan6.com, Seoul : Awalnya, terasa seperti tertusuk jarum. Mengagetkan, tapi tak seberapa sakit. Tapi efeknya tak boleh diremehkan. Korban akan mengalami kelumpuhan, diikuti sesak nafas. Lalu, tak berapa lama kemudian nyawa melayang.

Efek mematikan ini hanya sebagian kecil dari senjata mematikan yang terkuak dalam usaha pembunuhan yang gagal oleh para pembunuh Korea Utara tahun lalu. Mereka beroperasi di jalanan yang sibuk, Seoul, Korea Selatan.

Seperti dimuat CNN, Senin (26/12/2012) salah satu senjata mirip pulpen merek Parker. Dilengkapi jarum beracun. Parahnya, dengan bentuknya itu, ia nyaris tak mungkin diidentifikasi sebagai senjata.

Variasi lain, pulpen diisi peluru penuh racun yang bisa menembus kulit lalu melepaskan racun ke dalam tubuh. Senjata ketiga berupa senter yang ternyata berisi lebih dari tiga peluru. Semuanya nampak tak berbahaya, tapi mampu merampas nyawa.

Seorang pejabat intelijen Korsel yang namanya tak disebut menunjukkan senjata-senjata itu pada CNN. Ia menganggap, senjata berbentuk senter itu sebagai temuan signifikan. "Model terbaru," kata dia.

"Aku tak pernah melihat senjata ini. Jika dilihat dari depan, ada tiga lubang di sana, masing-masing berisi satu peluru. Dan ini pemicunya," kata dia, sembari sibuk menunjukkan detil alat pembunuh itu.

Hanya ada dua peluru yang tersisa di senter itu, satu lainnya telah ditembakkan sebagai bagian dari investigasi aparat Korsel. Sementara, pembunuh yang gagal melaksanakan misinya telah ditahan. Vonis empat tahun bui dijatuhkan padanya April lalu.

Aktivis jadi target

Target dari pembunuhan menggunakan senter itu ternyata adalah aktivis asal Korea Utara, Park Sang-hak, yang membelot dan kini berada dalam perlindungan aparat Korsel.

Saat senjata itu ditunjukkan padanya, Park luar biasa terkejut. "Anda menyebut ini senjata, tapi sama sekali di luar perkiraan. Dengan itu, seseorang bisa dengan mudah membunuh. Aku bisa saja mati dalam waktu singkat," kata dia.

Meski ancaman di depan mata, Park mengaku tak jera. Ia bersikukuh tetap menjalankan aksinya, mengirim selebaran anti-Pyongyang menyeberangi perbatasan dengan menggunakan balon. Tindakan yang membuat rezim Kim Jong-un murka luar biasa. Membuatnya ada di daftar teratas musuh yang harus dihabisi.

Sebelumnya, Park mengaku dikontak seseorang bernama Ahn. Calon pembunuhnya. Pelaku mengaku memberi iming-iming akan mengucurkan uang untuk mendukung aksinya itu.

Park sedang dalam perjalanan menemui Ahn, ketika Badan Intelijen Nasional Korsel (NIS) turun tangan dan menghentikannya.

Meski beruntung selamat, Park menilai penanganan badan intelijen berlebihan. "Aku tak yakin mereka bernyali menghabisiku di jalanan yang ramai di Seoul. Kupikir reaksi NIS berlebihan," kata dia.

Tapi toh ia mengakui, upaya pembunuhan itu bukan yang terakhir. Nyawanya masih terancam.