Sentuhan tangan Ramainis jadikan sandal jepit naik kelas

Nusarina Yuliastuti


Bagi sebagian orang sandal jepit identik dengan alas kaki yang digunakan untuk ke toilet, kamar mandi, dan dapur.

Tarompa Japang demikian sebutan orang Minang terhadap sandal yang dipastikan ada pada setiap rumah warga.

Namun bagi Ramainis, sandal jepit menjadi peluang usaha yang tidak hanya mengangkat harkat sandal jepit namun juga menjadi pemasukan yang membantu ekonomi rumah tangga.

Awal mulanya usaha yang diberi nama Keisya Shop ini dirintis saat Ramainis masih bekerja di salah satu perusahaan swasta di Riau pada 2012.

Saat bekerja di kantor tersebut salah satu kebiasaan karyawan adalah menggunakan sandal jepit saat berada di kantor.

Baca juga: Berkah dari rawa gambut untuk mereka yang kreatif

Walau pun saat hendak berangkat dan jika ada kunjungan ke luar memakai sepatu hak tinggi namun para karyawan memilih bersandal jepit ria saat di kantor.

Namun kondisi sendal jepit tersebut sudah tak sedap lagi di pandang mata karena kotor dan lusuh.

Bertepatan dengan itu ia kebetulan menemukan sebuah buku berjudul mengolah barang bekas jadi bahan kerajinan di salah satu toko buku.

Terbersit ide untuk menghias sandal jepit dengan kain perca sehingga menjadi lebih bagus.

Tidak disangka kreativitasnya mendapat pujian sampai akhirnya satu kantor memakai sandal jepit hasil karyanya.

"Awalnya minder, tapi karena diakui akhirnya jadi bangga," kata dia.

Setelah itu pesanan mengalir untuk membuat sandal jepit berhias sehingga ia mulai memproduksi dalam jumlah yang lebih banyak.

Setelah itu ia mulai mengumpulkan modal dengan menyisihkan gaji dari kantor untuk terus berinovasi dalam membuat sandal.

Jika sebelumnya ia menggunakan kain perca, Ramainis pun beralih sengaja membeli kain secara meteran.

Baca juga: Perajin Kalsel ubah eceng gondok jadi barang mahal

Produk yang diciptakan Ramainis adalah sandal jepit yang dilapis dengan kain perca sehingga menjadi terlihat manis dan elegan serta dihias mutiara.

Dalam perjalanan usahanya ia juga kerap menerima cemooh karena sandal jepit yang ia jual dianggap terlalu mahal.

"Saya jual sepasang Rp50 ribu, orang bilang masak sih sandal jepit saja harganya segitu dibeli Rp10 ribu, dijual Rp50 ribu, saya dituduh ambil untung besar," kata dia.

Padahal dalam produksi ia membeli bahan baku sandal jepit, kain perca, dan lem.

Ramainis memperlihatkan sandal jepit hasil kreasi Ramainis (Antara/Ikhwan Wahyudi)

Pada 2015 ia berkesempatan mengikuti pameran Padang Fair dan di situ ia memperkenalkan produknya sehingga mulai dikenal publik lebih luas.

Untuk mengerjakan sepasang sandal mulai dari menggunting pola, menjahit hingga membuat aksesoris butuh waktu dua jam.

Ia pun terus berinovasi dan memberi busa pada pijakan sehingga konsumen lebih nyaman memakainya.

"Ada ibu-ibu yang kena rematik akhirnya membeli sandal ini karena nyaman dipakai," kata dia.

Ramainis pun terus melakukan inovasi dengan belajar lewat internet mencari pola baru hiasan di sandal jepitnya.

Ia juga berkreasi membuat sandal hotel dengan hiasan rajutan.

Baca juga: Para lansia kreasikan sampah plastik jadi kerajinan tangan

Menggunakan media sosial ia pun memasarkan produknya dan mendapat sambutan hangat karena di pesan oleh pembeli dari Bogor.

Ia pun pernah mengalami cobaan akun media sosial diretas sehingga ada pihak lain yang mengaku menjual produknya namun dengan harga jauh lebih murah.

"Ada yang melapor ini kok dijual Rp30 ribu, padahal produk saya dijual Rp50 ribu," kata dia.

Ramainis juga berkesempatan bertemu dengan Rumah Kreatif BNI dan diundang untuk membawa contoh produk.

"Produk saya diminta untuk dipajang di galeri BNI," kata ibu dua anak ini.

Kini ia lebih banyak melayani pesanan dari luar dan angka rata-rata penjualan hingga tiga kodi per bulan.

Ramainis juga melibatkan keluarga dan mahasiswa jika pesanan sedang banyak.

Ia tengah merancang kerja sama dengan sejumlah hotel di Padang untuk membuat sandal hotel dengan rajutan dan motif khas Minangkabau.

Ekonomi Kreatif

Pemerintah Kota Padang telah membentuk Komite Ekonomi Kreatif untuk mengungkit daya saing pertumbuhan ekonomi di daerah itu.

Wali Kota Padang Mahyeldi menyampaikan pada 2017 Kota Padang telah ditetapkan oleh Badan Ekonomi Kreatif sebagai kota kreatif di bidang seni pertunjukan yang didukung oleh subsektor fesyen, kuliner, kriya dan aplikasi.

"Untuk itu, Kota Padang sebagai kota kreatif harus menggerakkan partisipasi dan berkolaborasi bersama semua pemangku kepentingan untuk mengembangkan potensi ekonomi yang berkelanjutan," ujarnya.

Wali Kota menyampaikan Pemko Padang mengupayakan jumlah pelaku usaha di bidang ekonomi kreatif terus meningkat.

Baca juga: Bottega Veneta rilis sandal mirip mie instan

Upaya ini ditindaklanjuti dengan kegiatan pembinaan dan promosi melalui pelatihan dan pameran sebagai wadah untuk memasarkan produk.

“Selain itu, Pemkot Padang juga membangun komitmen, membenahi regulasi dan mengaktualisasikan berbagai kebijakan pendukung sehingga pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan masyarakat,” katanya.

Sebelumnya Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Padang Syuhandra mengatakan peningkatan kemudahan berusaha yang menjadi prioritas Pemkot Padang lima tahun ke depan dalam rangka pencapaian pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Pertumbuhan ekonomi inklusif mengandung makna pertumbuhan yang merata di semua sektor dan juga di semua klaster pelaku ekonomi sehingga tidak saja dirasakan oleh pelaku usaha besar, katanya.

"Ini menjadi tantangan bagi kita semua bagaimana pertumbuhan ekonomi di usaha mikro bisa dominan kontribusinya dalam pertumbuhan ekonomi Kota Padang," tuturnya.

Sejalan dengan itu Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Padang menilai daerah itu potensial bagi pengembangan ekonomi kreatif karena berdasarkan riset yang dilakukan memiliki sejumlah potensi yang menjanjikan.

Tenaga kreatif erat kaitannya dengan sumber daya manusia, saat ini di Padang tersedia 38 SMK, 48 SMA dan 60 perguruan tinggi, kata Kepala Bappeda Kota Padang Medi Iswandi.

Menurut Medi masyarakat Kota Padang memiliki jiwa kewirausahaan yang dominan dan menyukai tantangan.

"Hal ini dapat dilihat dari penyebaran suku Minangkabau yang ada di seluruh Indonesia," ujarnya.

Kemudian jumlah usaha mikro,kecil dan menengah di Padang mencapai 95 persen dan hanya lima persen usaha dengan skala besar.

Ia juga menemukan masih banyak masyarakat yang bekerja di industri kerajinan yang mencintai pekerjaan yang dilakukan.

Mereka juga memiliki kemampuan komunikasi dan jaringan kerja sama usaha yang baik, kata dia.

Tidak hanya itu hal ini juga didukung oleh jalur distribusi barang yang baik karena adanya bandara dan pelabuhan yang kondisinya relatif baik, kata dia.

Selanjutnya Padang juga memiliki potensi aset dan budaya yang melimpah ditandai dengan maraknya industri perfilman yang mengangkat tema budaya dan lokasi pengambilan gambar di Padang.

Pada sisi lain ia melihat saat ini industri perhotelan, pasar modern, tradisional galeri oleh-oleh juga terus berkembang di Padang serta menjadi pusat meeting, incentive, convention dan exhibition.

Semua itu juga didukung oleh akses pembiayaan bagi UKM karena tersedia Koperasi Jasa Keuangan Syariah di 104 kelurahan yang ada, ujarnya.