Senyuman Ibu, Semangatku Melangkah Raih Mimpi dengan Kaki Palsu

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Selalu ada cerita di balik setiap senyuman, terutama senyuman seorang ibu. Dalam hidup, kita pasti punya cerita yang berkesan tentang ibu kita tercinta. Bagi yang saat ini sudah menjadi ibu, kita pun punya pengalaman tersendiri terkait senyuman yang kita berikan untuk orang-orang tersayang kita. Menceritakan sosok ibu selalu menghadirkan sesuatu yang istimewa di hati kita bersama. Seperti tulisan yang dikirimkan Sahabat Fimela dalam Lomba Cerita Senyum Ibu berikut ini.

***

Oleh: Febrianti Syafitri

Di sini aku akan menceritakan betapa berharganya seorang ibu bagiku. Diawali dengan aku dan ibu yang mengalami kecelakaan pada 1 Januari 2012. Kaki kiriku harus diamputasi karena sudah tidak bisa dipertahankan lagi dan kaki kiri ibu patah sehingga harus dipasang pen.

Kami dirawat di rumah sakit selama 3 bulan penuh, dari awal Januari hingga akhir Maret 2012. Rasa sakit luar biasa aku rasakan selama itu. Perasaanku sedih, hancur, dan bingung memikirkan bagaimana kehidupanku kedepan nantinya.

Aku masih ingat dengan sangat jelas, saat itu aku terbaring lemah tak berdaya sambil menahan rasa sakit. Ibu juga masih dalam keadaan lemah, tapi ibu berusaha sekuat tenaga menghampiriku ke tempat tidur. Beliau memeluk, mencium, dan menyuapiku makan meski waktu itu ibu juga masih merasakan sakit akibat luka operasi di betis kirinya. Ibu berkata agar aku tidak boleh menyerah, harus semangat, dan selalu tersenyum bagaimanapun keadaannya. Aku sangat bangga punya seorang ibu seperti ibuku. Inilah momen yang paling berkesan buatku meskipun saat itu kami sedang berada di situasi yang sangat sulit.

Setelah aku mulai pulih, aku belajar berjalan menggunakan kaki palsu. Kedua orang tuaku, khususnya ibu setia menemaniku saat aku belajar berjalan lagi. Ibu memberiku semangat setiap aku lelah dan ingin menyerah.

Hingga sekarang aku sudah bisa beraktivitas kembali dengan menggunakan kaki palsu. Ya, semenjak kecelakan itu aku menjadi seorang penyandang disabilitas. Ibu adalah semangat bagiku. Beliau sangat berharga dan berjasa dalam hidupku. Ibu adalah alasan utamaku agar aku tetap bersemangat menjadi seorang yang sukses. Keinginan terbesarku adalah aku ingin membuat ibu bangga padaku suatu hari nanti. Aku tidak bisa membayangkan betapa gelapnya duniaku jika ibu tidak berada di sisiku.

Ibu Selalu Ada Untukku

Senyuman ibu./Copyright Febrianti Syafitri
Senyuman ibu./Copyright Febrianti Syafitri

Saat ini, aku adalah seorang mahasiswi semester akhir di salah satu universitas negeri ternama di Indonesia. Pada bulan Juli 2019 lalu, aku melaksanakan program KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang menjadi salah satu mata kuliah wajib di kampusku. Kegiatan ini dilakukan selama 40 hari dan aku mendapatkan lokasi KKN di salah satu desa kecil di Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Lokasi ini berjarak sekitar 5 jam perjalanan darat dari rumahku yang berada di Kota Padang. Jujur, ini merupakan pertama kalinya aku tinggal terpisah dari ibu dalam waktu yang cukup lama. Aku tahu ibu sangat mengkhawatikan aku apakah aku bisa menjalani kegiatan itu selama 40 hari, mengingat lokasinya yang cukup jauh, daerah yang jauh dari pusat kota, serta 26 orang teman KKN lainnya yang sama sekali sebelumnya tidak aku kenal karena kami berasal dari jurusan yang berbeda. Aku selalu meyakinkan ibu bahwa aku akan baik baik saja dan bisa menjadi seorang anak yang mandiri.

Di sana terkadang aku mengalami cukup kesulitan tetapi aku tidak pernah menceritakannya pada ibu saat beliau menghubungi lewat telepon selama aku berada disana. Aku takut jika ibu akan mengkhawatirkan diriku.

Setelah melewati 40 hari lamanya dan aku juga telah melaksanakan banyak kegiatan di sana, waktunya aku dan 26 orang mahasiswa lainnya untuk pulang ke rumah masing-masing. Saat itu aku tiba dirumah saat maghrib dan aku melihat ibu menantiku di depan pintu. Aku bersalaman dengan ibu dan menciummya. Ibu memelukku dan mengatakan bahwa ibu banggaku. I love you, Ibu.

#ElevateWomen