Seorang Anak Meninggal karena Virus Marburg di Ghana

Merdeka.com - Merdeka.com - Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan seorang anak yang tertular virus Marburg di Ghana telah meninggal. Virus mirip Ebola ini sangat menular.

Dilansir dari Aljazeera, Rabu (2/8), kematian anak itu kemarin menambahkan jumlah kematian di Ghana menjadi 3 kasus, semenjak virus ini mewabah di negara itu bulan lalu. Wabah virus Marburg di Ghana merupakan kasus virus ke-2 yang ditemukan di Afrika setelah Guinea.

Anak yang meninggal, yang jenis kelamin atau usianya tidak diungkapkan, adalah satu dari dua kasus baru yang dilaporkan pekan lalu oleh WHO.

"Minggu lalu saya menyebutkan dua kasus tambahan. Salah satunya adalah istri dan yang lainnya adalah seorang anak dari kasus indeks yang sama. Sayangnya anaknya meninggal, tetapi sang istri masih hidup dan membaik," kata dokter WHO Ibrahima Soce Fall.

Virus ini ditularkan ke manusia dari kelelawar buah dan menyebar di antara manusia melalui kontak langsung dengan cairan tubuh, permukaan dan benda lainnya, kata WHO.

Sejauh ini, kementerian kesehatan Ghana melaporkan tiga kasus yang dikonfirmasi. Pengujian lebih lanjut masih harus dilakukan pada kasus dugaan keempat, kata Fall.

Pada dua kasus awal, di wilayah Ashanti Ghana selatan, kedua kasus memiliki gejala di antaranya diare, demam, mual dan muntah, sebelum meninggal di rumah sakit, sebut WHO.

Apa itu virus Marburg?

virus marburg
virus marburg.jpg

Penyakit yang sangat menular ini menyebabkan demam, nyeri otot, muntah-muntah, diare, dan dalam beberapa kasus, bisa menyebabkan kematian karena kehilangan darah.

Di masa lalu, ratusan orang meninggal karena virus ini, sebagian besar di Afrika.

Virus ini mirip dengan virus Ebola yang mematikan. Menurut WHO, virus Marburg pertama kali teridentifikasi setelah 31 orang tertular dan tujuh orang meninggal dalam wabah berkelanjutan pada 1967 di sejumlah negara yaitu Marburg dan Frankfurt (Jerman) dan Belgrade (Serbia).

Setelah dilacak, wabah ini pertama kali berasal dari kera hijau Afrika yang diimpor dari Uganda. Tapi sejak saat itu, virus Marburg juga dikaitkan dengan hewan lainnya.

Pada manusia, virus ini disebarkan sebagian besar oleh orang yang lama berada di gua dan pertambangan yang dihuni oleh kelelawar.

Dua kasus di Ghana ini merupakan wabah pertama di negara tersebut, tapi sejumlah negara Eropa sebelumnya telah mencatat kasus virus Marburg di antaranya; Republik Demokratik Kongo, Kenya, Uganda, Afrika Selatan, dan Zimbabwe.

Lebih dari 300 orang tewas karena wabah Marburg di Angola pada 2005.

Tapi di Eropa, hanya satu orang yang tewas dalam 40 tahun terakhir dan satu korban lainnya di Amerika Serikat (AS) setelah pulang dari ekspedisi gua di Uganda.

Berikut wabah besar Marburg menurut data WHO, dikutip dari BBC, Selasa (19/7):

- 2017, Uganda: tiga kasus, tiga kematian
- 2012, Uganda: 15 kasus, empat kematian
- 2005, Angola: 374 kasus, 329 kematian
- 1998-2000, Republik Demokratik Kongo: 154 kasus, 128 kematian
- 1967, Jerman: 29 kasus, tujuh kematian.

Virus ini menyebabkan sejumlah penyakit. Pertama, orang yang terinfeksi merasakan demam, sakit kepala luar biasa, dan nyeri otot. Tiga hari kemudian, gejala tersebut seringkali disusul dengan diare atau mencret, sakit perut, mual, dan muntah-muntah.

"Penampakan pasien pada fase ini digambarkan seperti menunjukkan fitur gambar 'seperti hantu', mata cekung, wajah tanpa ekspresi, dan kelesuan ekstrem," jelas WHO.

Banyak orang kemudian mengalami pendarahan dari berbagai bagian tubuhnya dan meninggal delapan sampai sembilan hari setelah sakit parah karena kehilangan darah dan syok.

WHO mengatakan, rata-rata virus ini membunuh setengah dari mereka yang terinfeksi, tapi varian virus yang paling berbahaya bisa menyebabkan kematian sampai 88 persen.

Sampai saat ini belum ada obat khusus atau vaksin untuk menangkal virus ini. Namun menurut WHO, beragam jenis pengobatan mulai dari obat untuk pendarahan, obat-obatan lain, serta terapi imun sedang dikembangkan.

Dokter di rumah sakit bisa meringankan gejala yang dialami pasien dengan memberikan pasien cairan dan transfusi darah jika pasien mengalami pendarahan.

Bagaimana virus menyebar dan cara mengatasinya?

Kelelawar buah rousette Mesir bisa membawa virus ini, termasuk kera hijau Afrika dan babi.

Pada manusia, virus ini menyebar melalui cairan tubuh dan kontak dengan tempat tidur atau permukaan yang pernah disentuh atau digunakan orang yang terinfeksi.

Bahkan setelah seseorang sembuh dari virus Marburg, darah atau air maninya bisa menginfeksi orang lain berbulan-bulan setelah terinfeksi.

Agar terhindar dari penularan, Gavi (organisasi internasional yang mendukung akses vaksin) menyarankan orang-orang di Afrika menghindari konsumsi daging hewan liar.

Sedangkan WHO meminta masyarakat menghindari kontak dengan babi di daerah yang terserang wabah.

Pria yang terinfeksi virus ini harus menggunakan kondom selama setahun setelah timbulnya gejala atau sampai hasil tes air mani mereka negatif selama dua kali.

Mereka yang memakamkan korban virus Marburg juga diminta jangan menyentuh jasad korban.

Reporter Magang: Gracia Irene [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel