Seorang Demonstran Anti-Kudeta Militer Tewas, Rakyat Myanmar Marah

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Naypyidaw - Seorang wanita muda yang merupakan pengunjuk rasa anti-kudeta militer Myanmar tewas pada Jumat 18 Februari 2021 waktu setempat.

Ia tewas beberapa hari setelah diduga tertembak di kepala dengan peluru tajam aparat yang mencoba membubarkan demonstran pada unjuk rasa 9 Februari 2021 lalu.

Luka yang diderita Mya Thwe Thwe Khaing (20), konsisten dengan satu dari amunisi hidup yang digunakan oleh aparat, kata kelompok-kelompok hak asasi seperti dikutip dari BBC, Sabtu (20/2/2021).

Video pengunjuk rasa yang panik merespons setelah perempuan itu ditembak dibagikan secara luas, dan kematiannya telah memicu kemarahan lebih lanjut rakyat Myanmar terhadap pihak berwenang.

Protes telah berlangsung berhari-hari di Myanmar menyusul kudeta militer yang menggulingkan pemerintahan sipil terpilih Aung San Suu Kyi.

Polisi telah membantah menggunakan kekuatan mematikan pada unjuk rasa di ibukota Naypyidaw pada 9 Februari, tetapi dokter pro-demonstran telah mengatakan dua pengunjuk rasa lainnya juga disambar oleh peluru tajam.

Upacara pemakaman untuk Mya Thwe Khaing akan diadakan pada Minggu 19 Februari 2021.

"Saya ingin mendorong semua warga untuk bergabung dengan protes sampai kita bisa menyingkirkan sistem ini," kata adiknya, Mya Tha Toe Nwe, kepada wartawan. "Hanya itu yang ingin kukatakan."

Pihak berwenang mengatakan mereka akan menyelidiki kasus ini.

Video yang beredar luas tentang penembakan menunjukkan Khaing hanya berdiri beberapa jarak dari polisi sebelum disambar peluru tajam.

"Kami akan mencari keadilan dan bergerak maju," kata dokter pro-demonstran tersebut kepada kantor berita AFP, menambahkan bahwa staf telah menghadapi tekanan besar sejak dia dibawa ke unit perawatan intensif mereka.

Keluarga Mya Thwe Thwe Khaing semuanya adalah pendukung Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) Aung San Suu Kyi. Saudaranya mengatakan bahwa perempuan muda itu menggunakan hak pilih untuk pertama kalinya dalam pemilihan umum November 2020, yang dimenangkan telak oleh NLD.

Khaing disebut rela pergi dari desanya di Yezin, timur laut ibukota Myanmar, untuk bergabung dalam demonstrasi 9 Februari. Kakaknya memperingatkannya untuk tinggal di belakang jika polisi mulai menembak.

Polisi dilaporkan sempat menggunakan meriam air, sebelum kemudian muncul tuduhan bahwa mereka beralih ke senjata api berpeluru tajam untuk membubarkan demonstran --kata kelompok-kelompok pengunjuk rasa.

Sekilas Situasi di Myanmar

Demonstran duduk di rel kereta api setelah memblokir rel kereta api selama protes terhadap kudeta militer di Mandalay, Myanmar (17/2/2021). Aksi protes tersebut menghentikan layanan kereta api antara Yangon dan kota selatan Mawlamyine. (AP Photo)
Demonstran duduk di rel kereta api setelah memblokir rel kereta api selama protes terhadap kudeta militer di Mandalay, Myanmar (17/2/2021). Aksi protes tersebut menghentikan layanan kereta api antara Yangon dan kota selatan Mawlamyine. (AP Photo)

Myanmar dalam keadaan darurat selama setahun setelah militer merebut kekuasaan melalui kudeta pada 1 Februari 2021. Mereka mengklaim hasil pemilu November 2020 curang tetapi belum memberikan bukti itu.

Kekuasaan telah diserahkan kepada Panglima Min Aung Hlaing. Aung San Suu Kyi kini berada di bawah tahanan rumah, dan dijerat dengan tuduhan mengimpor walkie-talkie ilegal dan melanggar Hukum Bencana Alam negara itu.

Pengunjuk rasa menyerukan pembebasannya, bersama dengan pembebasan anggota NLD lainnya. Negara ini sekarang melihat beberapa demonstrasi terbesar sejak apa yang disebut Revolusi Saffron pada tahun 2007, ketika ribuan biksu negara itu bangkit melawan rezim militer.

Bentrokan telah terjadi antara petugas keamanan dan pengunjuk rasa, dan militer juga telah memblokir internet dalam upaya untuk menahan perbedaan pendapat.

Simak video pilihan berikut: