Seorang Pria Jepang Punya Cara Mengerikan untuk Protes Pemakaman Shinzo Abe

Merdeka.com - Merdeka.com - Seorang pria Jepang berumur sekitar 70 tahun nekat membakar dirinya di dekat kantor perdana menteri (PM) Jepang hari ini.

Aksi membakar diri itu diyakini sebagai bentuk protesnya pada pemerintah Jepang yang akan mengadakan pemakaman kenegaraan untuk mantan PM Jepang terlama, Shinzo Abe.

Api yang berkobar pada tubuh pria itu berhasil dipadamkan polisi setempat. Pria itu segera dibawa ke rumah sakit dengan luka bakar di sekujur tubuhnya.

Kalimat mengenai pemakaman kenegaraan Abe dan kata-kata "saya sangat menentangnya," ditemukan di dekatnya. Polisi jelaskan pria itu sengaja menyiram badannya dengan minyak dan membakar dirinya.

"Saya telah mendengar polisi menemukan seorang pria yang menderita luka bakar di dekat kantor pemerintah, dan saya mengetahui bahwa polisi sedang menyelidiki," ujar kepala sekretaris kabinet, Hirokazu Matsuno, seperti dikutip Reuters, Rabu (21/9).

Sebelumnya Abe mengundurkan diri pada 2020 karena penyakit yang dideritanya. Abe tewas ditembak pada 8 Juli lalu saat berkampanye di Kota Nara.

Pemerintah Jepang merencanakan pemakaman kenegaraan Abe yang akan dilaksanakan pada 27 September nanti. Diperkirakan 6 ribu orang dari dalam dan luar negeri akan hadir di pemakaman itu.

Rencana pemakaman kenegaraan itu kerap ditentang sebab hubungan kontroversial antara Partai Demokrat Liberal (LDP) dengan Gereja Unifikasi yang membuat Abe terbunuh.

Tersangka pembunuh, Tetsuya Yamagami mengatakan gereja itu membuat bangkrut ibunya dan dia merasa Abe turut ambil bagian.

Akibat peristiwa tersebut Gereja Unifikasi yang didirikan di Korea Selatan pada 1950-an itu akhirnya menjadi masalah besar bagi PM yang menjabat sekarang, Fumio Kishida. Bahkan hampir setengah dari 379 anggota parlemen LDP setidaknya memiliki interaksi dengan gereja itu.

Sebelumnya masyarakat Jepang setuju agar Abe dimakamkan secara kenegaraan. Namun karena terkuaknya hubungan Abe dengan Gereja Unifikasi, mayoritas masyarakat Jepang menentang pemakaman kenegaraan.

Bahkan hubungan dengan Gereja Unifikasi turut menurunkan dukungan masyarakat kepada PM Kishida.

Jajak pendapat yang dilakukan kantor berita Mainichi Daily menunjukkan dukungan kepada Kishida berada di angka 29 persen atau turun 6 poin dari Agustus lalu.

Laporan itu juga menunjukkan dukungan masyarakat kepada partai LDP turun sebesar 6 poin menjadi 23 persen.

Namun di tengah semua itu, Kishida tetap mempertahankan keputusannya agar Abe dimakamkan secara kenegaraan. Tetapi sebagian masyarakat mempertanyakan keputusan Kishida di saat meningkatnya kesulitan ekonomi Jepang.

Jepang sendiri diperkirakan akan mengeluarkan uang sebesar USD 12 juta atau Rp 180,1 miliar yang mencakup keamanan dan resepsi acara.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]