Sepakat Damai, Kelenteng Kwan Sing Tio Tuban Dibuka Lagi

Syahdan Nurdin
·Bacaan 2 menit

VIVA – Konflik kepengurusan Tempat Ibadah Tri Darma (TITD) Kelenteng Kwan Sing Tio Tuban, Jawa Timur, segera akan berakhir. Hal ini tidak luput dari doa umat khonghucu yang selalu berdoa untuk perdamaian seluruh umat, baik budha, konghucu dan aliran Tao.

Ketua penilik (Demisioner) Alim Sugiantoro, mengatakan, Kelenteng Kwan Sing Bio dijadwalkan dibuka lagi pada 25 Oktober 2020. Ketua Penilik (Demisioner) Alim Sugiantoro mengatakan, "Tuhan mengetuk hati tiga tokoh nasional di Jatim untuk menyelesaikan konflik dan sengketa salah satu klenteng termegah di Indonesia tersebut".

Kwan Sing Bio merupakan kelenteng terbesar di Asia Tenggara. Nama tempat ibadah ini juga sudah dikenal di seluruh dunia.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada tiga tokoh yang bersedia mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran untuk kepentingan umat di seluruh Indonesia,” tutur Alim.

“Konflik akan diselesaikan dengan kepala dingin dan damai. Jangan coba-coba menghalangi umat beribadah demi kepentingan pribadi. Yang harus dijunjung tinggi adalah menghormati kebebasan umat beragama,” tandas Alim sugiantoro yang juga pengusaha properti ini.

Seperti diketahui, konflik Kelenteng Tuban terjadi karena adanya kepengurusan baru yang dibentuk dan dinilai melanggar angaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART), sesuai keputusan Pengadilan Negeri No 11/Pdt.G/PN Tbn tanggal 15 Juni 2020 dan No 11/Pdt.G/PN Tbn tanggal 30 Juli 2020.

BACA JUGA: Kepiting Raksasa di Kelenteng Kwan Sing Bio

Keputusan dari pengadilan itu menurut Alim harus dipatuhi. Terjadi konflik antara pengurus demisioner dan pengurus baru yang mengakibatkan kelenteng digembok dari luar, sehingga umat tidak bisa beribadah.

Langkah perdamaian ini diupayakan oleh Agun sebagai fasilitator.

Menurut Alim, Agun seperti diutus oleh kebesaran KongCo Kwan Sing Tee Koen untuk menyelesaikan konflik yang telah berjalan bertahun-tahun dan kelenteng dikunci tiga bulan.

“Perdamaian ini akan bisa terwujud atas restu Yang Mulia KongCo Kwan Sing Tee Koen, dan Tuhan Yang Maha Esa,” ujarnya.

Selama dalam masa konflik, Alim bersama pengurus demisioner dan umat TITD selalu berdoa pada hari Tiong Dju (sembahyang besar Zhong Qiu/sembahyang Chang/sembahyang pertengahan musim gugur).

Sembahyang Zhi Sheng Dan pada hari lahir Nabi KhongZi juga dilantunkan.

“Makna doa-doa itu terkabul dan diteruskan dengan ritual tolak balak melepaskan sembilan bulus untuk membuang sial dan mendatangkan panjang umur,” pungkas Alim Sugiantoro penuh semangat.