Sepakbola Tarkam Tumbuh Subur Saat Liga 1 Mati Suri, Dosa Siapa?

Robbi Yanto
·Bacaan 3 menit

VIVA – Fenomena sepakbola antar kampung atau tarikan kampung (tarkam) menjadi buah bibir saat ini, karena ramai diikuti pemain Liga 1 hingga berlabel Timnas Indonesia.

Menjaga kondisi kebugaran menjadi dalih utama para pelakunya, di samping tambahan pemasukan dari juragan (pemilik tim tarkam).

Baru-baru ini, dua pemain Bhayangkara, Sadil Ramdani dan Indra Kahfi menjadi sorotan netizen lantaran terekam mengenakan jersey berwarna hijau muda dan berjalan di lapangan penuh genangan air di tengah kumpulan warga. Diduga keduanya main tarkam di Kab. Bogor.

Begitu juga dengan Kapten Persela Lamongan, Eky Taufik Febrianto. Menariknya, bukan cuma pemain lokal yang terjun ke tarkam.

Pemain asing Guilherme Batata dan Yevhen Bokhashvili (PSS Sleman), baru-baru ini tampil dalam laga amal di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah.

Sementara, kisah mengerikan harus dialami pemain PSM Makassar, Bayu Gatra. Laga tarkam yang dijalaninya di Jawa Timur berujung rusuh. Suporter masuk ke lapangan dan berakhir rusuh hingga terjadi pemukulan.

Sebenarnya, pemain yang main tarmak tak bisa disalahkan sepenuhnya. Pasalnya, sudah sejak Maret 2020 lalu, mereka tak berkompetisi.

Baru berjalan tiga pekan, Liga 1 sudah ditunda dua kali. Pertama terjadi pada September 2020. PSSI dan Liga Indonesia Baru selaku operator kompetisi memutuskan kompetisi berlanjut.

Namun, izin dari pihak kepolisian tak keluar karena kasus virus Corona yang masih tinggi di Indonesia. Alhasil, rencana itu berantakan.

Kedua, rencana PSSI dan LIB melanjutkan kompetisi pada Oktober 2020. Lagi-lagi kendalanya sama, Polisi tak memberikan izin terkait situasi pandemi COVID-19.

Mantan pemain Timnas Indonesia dan legenda Manstrans Bandung Raya, Peri Sandria punya pandangan sendiri terkait fenomena ini.

Peri menilai para pemain profesional sebaiknya tidak bermain tarkam meski saat ini sedang dalam kondisi sulit karena gaji mereka hanya dibayar 25 persen dari klub masing-masing.

Menurut Peri, tampil di tarkam lebih banyak bahayanya daripada keuntungannya. Oleh karena itu, Peri meminta para pemain profesional berpikir panjang sebelum memutuskan untuk bermain tarkam

"Kalau sekarang ini mereka main tarkam, lebih bagus jangan. Apalagi mereka pemain profesional. Kalau gaji pemain saat ini bisa dikatakan sudah cukup. Beda dengan pemain dulu," kata Peri kepada VIVA, Kamis 19 November 2020.

"Mungkin tarkam paling besar 3-4 juta sekali main. Kalau bicara cuma menjaga kondisi bukan kesitu arahnya. Kira harus berpikir bagaimana kalau cedera, siapa yang akan tanggup jawab? Bukankah mereka sendiri yang rugi," ucapnya.

Peri tak memungkiri bahwa dirinya juga pernah bermain tarkam. Namun, posisinya tak bisa disamakan dengan pemain-pemain saat ini. Sebab, pada masa Galatama, pemain hanya dibayar kisaran 200 ribu per bulan.

"Kalau soal mengalami tarkam, dikatakan jarang ya sering. Dulu itu kebutuhan, karena zaman Galatama gajinya berbeda. Zaman dulu saya dapat cuma Rp200 ribu. Mulai dapat banyak saat di Bandung Raya," ucapnya.

Peri berpendapat kompetisi seharusnya cepat dilanjutkan. Dia mengambil contoh kompetisi-kompetisi Eropa yang sudah berlanjut dan memulai musim baru.

Bahkan, di kompetisi-kompetisi elite Eropa sejumlah negara juga terdapat kasus COVID-19 yang cukup besar. Namun, kompetisi bisa dilanjutkan dengan protokol kesehatan yang ketat.

Di samping itu, kerja sama antar suporter tim masing-masing juga dibutuhkan demi keberlangsungan dan keselamatan banyak orang.

"Sebagai mantan pemain, saya menilai kita ikuti saja seperti liga di Eropa. Lanjutkan tapi tetap protokol dijaga. Liga di Eropa kan tanpa penonton. Sampai kapan ini mau ditunda? Tentang wabah ini kita tidak tahu sampai kapan," ucapnya.

Sementara itu, pelatih Madura United, Rahmad Darmawan mengatakan sangat melarang para pemainnya main tarkam. Rahmad menegaskan, pemain masih menerima gaji dari dan punya tanggung jawab kepada klub.

"Mereka tidak saya izinkan main tarkam. Makanya, sampai sekarang tidak ada laporan pemain Madura United main tarkam. Kalau mereka sudah lepas dari tim baru boleh," kata Rahmad.