Sepekan, Gunung Merapi Luncurkan 122 Kali Guguran Lava

Lis Yuliawati, Cahyo Edi (Yogyakarta)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta terus melakukan pengamatan terhadap aktivitas Gunung Merapi. Dari hasil pengamatan selama sepekan sejak 2 hingga 8 April 2021, BPPTKG Yogyakarta mencatat Gunung Merapi mengeluarkan 13 kali awan panas guguran dan 122 kali guguran lava.

"Awan panas guguran terjadi sebanyak 13 kali dengan jarak luncur teramati sejauh 1.500 meter ke arah barat daya dan terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimal 59 mm dan durasi 141 detik," ujar Kepala BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida, Jumat, 9 April 2021.

Hanik menjabarkan, guguran lava terjadi sebanyak 122 kali. Hanik menjelaskan dari 122 kali ini, 119 kali guguran lava mengarah ke barat daya dan 3 kali ke sisi tenggara.

"Guguran lava teramati sebanyak 119 kali dengan jarak luncur maksimal 1.100 meter ke arah barat daya dan 3 kali ke arah tenggara dengan jarak luncur 300 meter," ujar Hanik.

Hanik menuturkan hujan abu tipis pun sempat dilaporkan terjadi di area sekitar Gunung Merapi pada 3 April 2021 lalu. Tiga daerah yaitu Ngipiksari, Klangon dan Deles merasakan hujan abu tipis ini.

Hanik menjabarkan, dari analisis morfologi area puncak berdasarkan foto dari sektor barat daya tanggal 7 April terhadap tanggal 1 April 2021 menunjukkan adanya perubahan morfologi area puncak karena aktivitas guguran dan pertumbuhan kubah.

"Volume kubah lava di sektor barat daya sebesar 1.098.000 meter kubik dengan laju pertumbuhan 12.800 meter kubik/hari. Analisis morfologi area puncak berdasarkan foto dari sektor tenggara tanggal 8 April terhadap tanggal 1 April 2021 menunjukkan ketinggian kubah tengah yaitu sebesar 75 meter," ujar Hanik.

Sementara untuk laporan kegempaan Gunung Merapi, Hanik menyebut dalam minggu ini kegempaan Gunung Merapi tercatat 13 kali Awan panas guguran (AP), 16 kali gempa Fase Banyak (MP), 1.042 kali gempa Guguran (RF), 8 kali gempa Hembusan (DG) dan 6 kali gempa Tektonik (TT). "Intensitas kegempaan pada minggu ini lebih rendah dibandingkan minggu lalu," ujar Hanik.

Hanik menerangkan untuk penggembungan badan (deformasi) Gunung Merapi, jarak tunjam EDM di sektor barat laut dari titik tetap BAB ke reflektor RB1 berkisar pada jarak 4.035,091 m hingga 4.035,098 m; dan dari BAB ke reflektor RB2 pada kisaran 3.849,700 m hingga 3.849,709 m. Baseline GPS Klatakan–Plawangan berkisar pada 6.164,05 m hingga 6.164,06 m.

"Deformasi Gunung Merapi yang dipantau dengan menggunakan EDM dan GPS pada minggu ini tidak menunjukkan adanya perubahan yang signifikan," ujar Hanik.

Hanik menambahkan berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental maka disimpulkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi berupa aktivitas erupsi efusif. Status aktivitas ditetapkan dalam tingkat Siaga. Status Siaga ini sudah ditetapkan BPPTKG Yogyakarta sejak 5 November 2020.

"Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor Selatan–Barat Daya meliputi sungai Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 km dan pada sektor tenggara yaitu sungai Gendol sejauh 3 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak," ujar Hanik.