Seperti Apa Rumah Zaman Mesir Kuno? Begini Wujudnya

Merdeka.com - Merdeka.com - Mesir Kuno adalah salah satu peradaban tertua di dunia. Berbagai temuan artefak dan reruntuhan kota memberikan wawasan pada kita bagaimana orang Mesir kuno hidup ribuan tahun lalu.

Bagaimana bentuk rumah orang-orang ini? Apakah seperti rumah tinggal sebagaimana yang ditempati manusia modern?

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi bentuk rumah orang Mesir Kuno. Salah satu faktor terpentung adalah iklim, mengingat Mesir Kuno berada di gurun pasir, gersang dan kering.

Dikutip dari laman History Defined, warga Mesir Kuno disebut sederhana dan mereka membangun rumah dari berbagai material seperti lumpur dan papirus atau semacam kertas. Kayu merupakan barang langka di kawasan itu dan utamanya digunakan untuk pintu dan jendela.

Budak dan anak-anak ditugaskan untuk membuat batu bata dari lumpur. Mereka mencampur tanah liat dengan air serta jerami, lalu membentuknya menjadi batu bata. Batu bata lalu dikeringkan di bawah sinar matahari. Setelah kering, digunakan untuk membuat tembok.

Atap rumah orang Mesir Kuno terbuat dari daun palem, alang-alang, dan tikar. Material untuk atap ini selalu tersedia dan mudah diganti jika kehabisan bahan.

Bahan-bahan tersebut dinilai bisa membuat rumah dingin dan hangat di malam hari.

Saat membangun rumah, biasanya mereka membuat atap yang datar untuk menghindari sengatan matahari. Kadang-kadang mereka bersantai dan tidur di atap rumah mereka.

Namun keadaan lingkungan juga memaksa mereka mempertimbangkan kembali metode konstruksi. Salah satunya karena sungai Nil biasanya meluap setiap tahun selama tiga bulan, karena itu mereka mengganti bahan dari batu bata menjadi batu.

Batu merupakan material yang lebih mahal. Sedangkan batu bata cukup terjangkau bagi warga saat itu.

Orang Mesir Kuno juga lebih memperhatikan fungsi daripada bentuk rumah. Rumah mereka harus praktis dan memberikan perlindungan dari cuaca ekstrem.

Faktor lain yang menjadi pertimbangan dalam membangun rumah adalah harta benda dan jumlah penghuni.

Tata letak rumah juga tergantung dari status keluarga tersebut. Biasanya sebagian besar rumah memiliki sedikitnya tiga kamar dengan dua lantai. Di lantai bawah digunakan untuk menyimpan hasil panen atau persediaan makanan.

Karena lingkungan, debu dan puing-puing kerap menjadi masalah, warga biasanya membuat pintu setinggi 4 kaki atau 1 meter lebih dari tanah, akan ada semacam undakan yang mengarah ke pintu masuk yang tersisa dari lantai.

Keluarga yang lebih kaya akan menggunakan bagian undakan yang lebih rendah ini untuk membangun halaman. Akhirnya, tanjakan akan mengarah ke alun-alun, di mana mereka akan membuat taman yang indah.

Perabot rumah

Perabot rumah tangga termasuk barang mewah yang hanya bisa dijangkau orang-orang kaya. Sebagian besar keluarga Mesir Kuno duduk di lantai dengan menggelar tikar atau karpet. Sedangkan orang kaya biasanya memiliki kursi dan meja yang terbuat dari kayu.

Ranjang juga tergolong barang mewah. Keluarga miskin biasanya tidur di lantai dengan matras. Sedangkan orang kaya membuat ranjang dari kayu.

Orang kaya menggunakan alat masak terbuat dari perunggu dan tembaga. Sedangkan keluarga miskin biasanya menggunakan alat masak dari tanah liat.

Keluarga menengah ke bawah tidak punya air mengalir atau toilet di rumah. Mereka mengambil air ke sungai untuk mandi dan masak.

Mereka juga biasanya memiliki kakus di rumah.

Keluarga yang lebih miskin sering tinggal di rumah yang dibangun di atas satu sama lain. Tujuannya untuk menghemat ruang karena rumah bata lumpur tidak kokoh. [pan]