Sepinya Perayaan Imlek 2572 di Vihara Avalokitesvara Banten Lama

Syahrul Ansyari, Yandi Deslatama (Serang)
·Bacaan 2 menit

VIVA - Suasana Imlek 2021 tampak berbeda di Vihara Avalokitesvara di Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten. Perayaan Imlek 2572 dengan Shio Kerbau Logam terpantau sepi, tidak semeriah tahun sebelumnya.

Masyarakat Budha dan etnis Tionghoa hanya terlihat beberapa orang saja yang beribadah. Mereka terlihat menggunakan masker dan menjaga jarak saat beribadah.

"Situasi sampai saat ini masih akan terkendali, kita monitor kegiatan di Vihara ini masih berjalan dengan lancar. Tidak terlalu ramai, secara bergantian, satu keluarga beribadah di vihara ini lalu kembali," kata Kapolres Serang Kota, AKBP Yunus Hadit Pranoto, di lokasi, Kamis, 11 Februari 2021.

Meski terpantau sepi, beberapa personil Brimob berjaga di vihara yang berdiri sekitar tahun 1759 ini.

Baca juga: Ajak Masyarakat Patuh, Polisi Siapkan Pengamanan Perayaan Imlek

Masyarakat diimbau tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes) COVID-19, untuk mencegah penularannya.

"Kami imbau untuk masyarakat yang merayakan imlek, mungkin bisa membatasi kegiatannya, supaya bisa menjaga protokol kesehatan," kata Yunus.

Vihara Avalokitesvara lokasinya berdekatan dengan Masjid Agung Banten, keduanya berdiri hampir bersamaan. Selain itu, di dalam vihara jiga terdapat bedug khas Islam. Tanda toleransi keberagamaan di Banten terjalin ratusan tahun silam.

Banten yang saat itu sebuah kesultanan besar dengan Pelabuhan Karangantu yang mendunia, membuat seorang putri bernama Ong Tin Nio bersama Anak Buah Kapal (ABK), dalam perjalanan dari China menuju Surabaya, memutuskan bermalam di Pamarican, daerah itu merupakan penghasil merica.

Putri Ong pun merasa betah tinggal di Banten dan mendirikan wihara yang awalnya berada di bekas kantor bea (douane). Namun kehadirannya oleh masyarakat sekitar dianggap dapat merusak akidah dan kebudayaan mereka.

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah pun menegur keras masyarakat Banten dan memediasi antara kedua belah pihak. Sunan Gunung Jati menjelaskan tidak ada paksaan untuk memeluk agama dalam Islam.

Setelah masalah dapat diselesaikan, Sunan Gunung Jati menawarkan kepada sang putri dan pengikutnya untuk memeluk Islam tanpa adanya paksaan. Hingga akhirnya, sang putri yang cantik jelita beserta pengikutnya menjadi mualaf.

Kedatangan masyarakat Tiongkok ke Banten memiliki banyak versi. Ada yang menyebutkan, masyarakat China datang ke Kesultanan Banten sekitar abad 17 masehi dengan bukti banyak ditemukan perahu China yang berlabuh di Banten dengan tujuan berdagang dan barter dengan lada pada abad itu.

Berdasarkan catatan sejarah dari JP Coen, banyak perahu China yang membawa dagangan senilai 300 ribu real. Di mana, dalam kelanjutannya, masyarakat China tak hanya berdagang, tapi bermukim di Banten dengan jumlah lebih dari 1.300 kepala keluarga (KK).