Serangan Balik Jenderal Dudung Balas Cibiran Effendi Simbolon

Merdeka.com - Merdeka.com - Pernyataan Anggota Komisi I DPR Effendi Simbolon di rapat dengan Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa pekan lalu menuai kecaman dari prajurit TNI. Gara-garanya Effendi mengungkapkan, ada disharmoni hubungan antara Panlima TNI Jenderal Andika Perkasa dengan Kasad Jenderal Dudung Abdurachman.

Bahkan, politikus PDIP itu menyamakan TNI sebagai gerombolan organisasi masyarakat (Ormas). Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Dudung Abdurachman dibuat meradang akibat ucapan Effendi. Diikuti perwira-perwira TNI di sejumlah daerah. Mereka tidak terima dan mengecam Effendi.

Puncaknya beredar video berdurasi 2 menit 45 detik yang memperlihatkan Dudung meminta prajurit TNI tak diam saja atas pernyataan Effendi. Dia meminta prajurit TNI membalas ucapan Effendi.

"Jangan kita diam saja, dia itu siapa? Gak berpengaruh. Harga diri, kehormatan kita, kok diinjak-injak sama dia," kata Dudung dalam video berdurasi 2 menit 45 detik dilihat merdeka.com, Rabu (14/6).

Dudung memberikan dukungan penuh bagi prajurit TNI yang tidak terima dan hendak protes terhadap Effendi. Dalam video tersebut, Dudung tak ingin harkat dan martabat TNI AD yang diinjak-injak oleh mereka yang tidak berwenang. Dudung lantas meminta jangan ada pihak yang menyalahkan prajurit TNI yang mengamuk.

"Jangan salahkan nanti prajurit kita ngamuk gitu lho," wanti Dudung.

Awal Mula Kisruh Effendi dan TNI

Panas cibiran Effendi Simbolon dengan TNI bermula saat rapat Komisi I DPR terkait Rapat Pembahasan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) 2023 dan isu-isu lainnya. Mitra Komisi I DPR yang hadir yakni Menhan Prabowo, panglima TNI Jenderal Andika Perkasa, dan para kepala staf di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (5/9). Pada rapat tersebut, anggota Komisi I ini mengucapkan sejumlah pernyataan menyinggung institusi TNI.

Pertama, Effendi mengungkapkan adanya disharmoni antara Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa dengan Kasad Jenderal Dudung Abdurrachman.

"Ini semua menjadi rahasia umum pak, rahasia umum Jenderal Andika. Di mana ada Jenderal Andika, tidak ada Kasad. Jenderal Andika membuat Super Shield, tidak ada Kasad di situ," ucap Effendi.

Ego tersebut bisa merusak jalin hubungan antara senior dan junior di institusi TNI. "Ego bapak berdua itu merusak tatanan hubungan junior dan senior, pak. Dengan segala hormat saya, pak, saya dekat dengan Pak Andika, saya dekat dengan Pak Dudung," kata dia.

Anggota DPR RI tiga periode ini turut membahas kabar putra Kasad Dudung dinyatakan tidak lulus dari Akademi Militer (Akmil). Dia mengatakan, anak Dudung gagal masuk Akmil lantaran faktor usia dan tinggi badan.

Tak hanya itu lontaran dengan nada memojokkan TNI terucap dari mulut Effendi. Dia juga sempat menyamakan TNI seperti gerombolan yang tidak punya kepatuhan. Bahkan, dia membandingkan TNI dengan ormas.

"Tidak ada kepatuhan," kata Effendi.

Isu disharmonisasi telah dibantah Jenderal Andika Perkasa. Andika menepis kabar tak akur antara dirinya dengan Kasad. Selain itu, Andika juga menyebut putra Dudung sudah masuk Akmil.

"Ya dari saya tidak ada, karena semua yang berlaku sesuai dengan peraturan perundang-perundangan, tetap berlaku selama ini, jadi tidak ada kemudian yang berbeda," ujar Andika.

Emosi Prajurit TNI

Tanggapan Andika itu ternyata tidak bisa meredam emosi anak buahnya. Komandan Kodim (Dandim) 0623/Cilegon, Letkol Inf Ari Widyo Prasetyo menilai pernyataan Effendi telah melukai para serdadu TNI.

Ari geram lantaran Effendi sempat menyebut dan mengibaratkan TNI layaknya gerombolan ormas. Sambil menggebrak meja, Ari pun kemudian menuntut permintaan maaf secara terbuka dari Effendi kepada keluarga besar TNI.

"Saya Dandim 0623 Cilegon bersama seluruh prajurit keluarga besar Kodim 0623 Cilegon tidak terima ucapanmu. Kami di sini dari unsur paling rendah sampai paling tinggi unsur-unsur TNI. Kami di sini kompak jangan kau ganggu kami, jangan kau rusak kami dengan pernyataanmu. (Brakk) Kami tunggu permintaan maaf kamu secara terbuka," kata Ari dikutip dari Instagram @jktnewss (14/9).

Turut pula Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Muhammad Saleh Mustafa memberikan respons. Dia menegaskan, jajaran Kodam patuh kepada kepada Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa.

"Saya sampaikan kepada prajurit saya, terkait adanya komentar bahwa prajurit TNI adalah gerombolan ormas. Bahwasannya prajurit Kodam XVII/Cenderawasih sejatinya punya satu komando, yaitu asas komando dalam operasi penggunaan kekuatan, kita loyal pada bapak Panglima TNI," kata Saleh Mustafa.

Effendi Simbolon Minta Maaf

Effendi Simbolon menyampaikan klarifikasi terkait pernyataannya yang menyebut TNI gerombolan dan berujung menjadi polemik. Politikus PDIP itu mengaku tidak ada niat tidak menghormati TNI.

“Sejatinya, sejujurnya saya tidak pernah menstigma TNI gerombolan, tapi lebih kepada kalau tidak ada kepatuhan itu sepeti gerombolan,” kata Effendi saat konferensi pers di Fraksi PDIP.

Effendi lantas menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh prajurit TNI hingga Punawirawan. "Dari lubuk hari terdalam saya mohon maaf atas apapun perkataan saya yang menyingung, meyakiti, tidaknyaman di hati para prajurit. Dari mulai tamtama hingga perwira bahkan hingga sesepuh yang tidak nyaman," kata dia.

Effendi juga menyampaikan permintaan maaf pada Kasad Dudung hingga panglima TNI Jenderal Andika Perkasa terkait pernyataannya yang menuai protes.

"Sekali lagi saya mohon maaf, kepada selurub prajurit baik yang bertugas maupun purna, juga pada panglima saya minta maaf, juga kepada Kasad saya mohon maaf, juga Kasal," kata dia.

Respons Dudung Abdurachman

Jenderal Dudung Abdurachman memerintahkan anak buahnya di seluruh Tanah Air untuk berhenti marah ke anggota DPR RI Effendi Simbolon. Sebab, Effendi telah meminta maaf ke TNI karena ucapannya beberapa waktu lalu.

"Saya dengar hari ini pak Effendi Simbolon meminta maaf. Artinya menurut saya memang beliau punya hak konstitusional sebagai anggota dewan, tapi kami TNI, khususnya TNI Angkatan Darat punya kehormatan dan harga diri," ujar Dudung saat kunjungan ke Riau

Menurut Dudung, kehormatan dan harga diri TNI tidak boleh diganggu oleh siapapun. Apalagi, kata Dudung, TNI disibukkan dengan kegiatan operasi di daerah dan membantu rakyat.

"Ini yang tidak boleh diganggu, kami TNI AD melaksanakan tugas-tugas. Baik di daerah operasi maupun tugas-tugas lainnya untuk membantu rakyat ini luar biasa. Kasihan prajurit-prajurit kita," jelasnya. [ray]