Serangan Mengganas Belalang Kembara di Sumba Tengah, Ini Tips Bagi Petani

Merdeka.com - Merdeka.com - Tidak kurang dari 30 hektare lahan pertanian di Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur (NTT) diserang belalang kumbara. Hama bernama latin locusta migratoria itu merusak tanaman pertanian di sana.

Belalang tersebut dikenal sebagai jenis yang persebarannya paling luas di dunia. Panjang tubuh antara 3,5 hingga 5,5 cm. Sayapnya berwarna kusam. Warna tubuh secara keseluruhan bervariasi. Ada hijau, cokelat, hijau kekuning-kuningan dan abu-abu.

Serangga pemakan rumput ini berada di banyak tempat, mulai dari sungai, stepa, lingkungan danau hingga gurun. Apabila menyerang suatu wilayah, maka tanaman di wilayah tersebut akan terancam.

Belalang bisa membahayakan sawah padi, kapas, gandum, gandum hitam, jelai, oat, sorgum, hop, kedelai, kentang, tembakau, kubis, timun, semangka, melon, bunga matahari, hingga buah-buahan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan), Dedi Nursyamsi prihatin atas kondisi tersebut, dengan meninjau langsung salah satu lahan persawahan di Desa Wailawa, Kecamatan Katikutana Selatan.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menangani serangan belalang adalah memanfaatkannya sebagai pakan ternak. Hal ini lantaran belalang kembara tinggi protein.

"Hewan ini bisa dimakan manusia. Belalang biasa dimakan di Gunung Kidul, Yogyakarta. Selain itu, hama ini tinggi proteinnya, sehingga sangat cocok untuk pakan ternak seperti bebek, itik, ayam," kata Dedi Nursyamsi dalam keterangannya kepada wartawan, Senin (30/5).

Dia pun mengurai kajian nutrisinya, dalam 100 gram belalang kering mengandung protein kasar 2 persen; lemak kasar 0,8 persen; karbohidrat 0,74 persen; serat kasar 1,7 persen.

Sehingga dapat disimpulkan belalang kembara, nutrisinya tinggi," lanjutnya.

Dedi Nursyamsi mengingatkan, saat terjadi serangan belalang seperti saat ini maka mustahil untuk memakan belalang itu semuanya, karena populasinya datang terlalu banyak maka perlu antisipasi lebih awal.

Kementan, menurutnya, telah memiliki Gugus Tugas Pengendalian Belalang atas bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Udayana Denpasar (Undana) serta beberapa perguruan tinggi mitra lainnya.

"Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk mengatasi hama belalang ini, antara lain melakukan biocontrol, dengan menyemprotkan penyakit (patogen insect) pada serangga di lahan yang terserang hama," tuturnya.

Dia kembali mengingatkan untuk mengenali karekteristik lahan diikuti langkah monitoring dan evaluasi (Monev) secara ketat, sehingga daerah yang belum terdampak akan aman. Langkah konkret yang mudah dilakukan adalah mengolah belalang sebagai sumber protein yang dapat dikonsumsi masyarakat selain untuk pakan ternak.

Dedi Nursyamsi akan mengerahkan penyuluh pertanian, petani dan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) dan mahasiswa Polbangtan untuk bersama-sama masyarakat mengatasi masalah ini.

Dia pun mengajak seluruh insan pertanian di Kepulauan Sumba untuk mengambil peluang dari wabah ini dengan menjadikan belalang sebagai peluang usaha.

"Ini peluang usaha. Petani dapat memanfaatkan untuk menjadi ladang penghasilan. Libatkan petani milenial untuk memanfaatkan peluang ini," ajak Dedi Nursyamsi.

Sumba Tengah masuk dalam program perluasan kawasan Food Estate di NTT. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menegaskan bahwa Food Estate adalah implementasi arahan Presiden Joko Widodo sebagai lumbung pangan baru di luar Jawa, untuk mendukung ketersediaan pangan bagi 273 juta rakyat Indonesia.

Kawasan Food Estate Sumba Tengah diresmikan Presiden Jokowi pada Februari 2021 didukung luas lahan 11 ribu hektare, terdiri atas lahan yang telah ditanami padi seluas 5.400 hektare. Sementara 5.600 hektare ditanami jagung dan palawija.

"Dengan segala upaya, kita bersama yakinkan bahwa Sumba Tengah dan NTT tidak main-main mengubah kehidupan dan peradaban. Saya datang menangkap keseriusan. Sumba Tengah jangan mau kalah dengan daerah lain, apalagi dengan sesama daerah di NTT," kata Syahrul.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Pemerintah (Pemkab) Sumba Tengah, Umbu Kalikut Pari mengatakan bahwa hasil panen dari kawasan Food Estate sangat menggembirakan.

Umbu KP menambahkan bahwa kehadiran Food Estate berdampak positif terhadap pembangunan sektor pertanian, karena meningkatkan produktivitas dan menambah frekuensi panen tanaman pangan menjadi dua kali dalam setahun.

"Petani di Sumba Tengah sudah memanen jagung dan sedang mempersiapkan lahan untuk menanam padi dan palawija," tutur Umbu. [cob]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel