Serangan Teror di Nice Prancis Menuai Kecaman Para Pemimpin Dunia

·Bacaan 3 menit

Jakarta - Teror penikaman mematikan terjadi di Nice, Prancis, pada Kamis 29 Oktober, yang menewaskan tiga orang. Serangan yang disebut para penyidik Prancis sebagai aksi terorisme itu dikutuk keras para pemimpin dari seluruh dunia.

Serangan penikaman itu terjadi pada peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ini merupakan serangan teror ketiga yang terjadi dalam dua bulan di Prancis menyusul kritik keras umat Muslim atas karikatur Nabi Muhammad yang dicetak ulang majalah satir Prancis Charlie Hebdo pada September 2020.

Presiden Prancis Emmanuel Macron selama ini menegaskan akan tetap berpegang teguh pada tradisi dan hukum sekuler Prancis, yang menjamin kebebasan berbicara yang memungkinkan publikasi seperti Charlie Hebdo dapat dilakukan. Macron juga mengatakan agama Islam tengah mengalami krisis di seluruh dunia dan meminta warga muslim Prancis agar bersikap loyal kepada konstitusi republik.

Di bawah prinsip-prinsip sekularisme Prancis atau laïcité, institusi keagamaan tidak memiliki pengaruh atas kebijakan publik yang diemban pemerintah. Idenya adalah untuk menjamin kesetaraan semua kelompok agama dan keyakinan di mata hukum. Macron menuduh minoritas muslim Prancis sedang mengalami “separatisme Islam,” di mana warga lebih menaati hukum Syariah ketimbang konstitusi negara.

Namun, para pemimpin negara mayoritas Muslim, seperti Turki dan Pakistan, menuduh Macron “Islamophobia”.

Solidaritas EropaKanselir Jerman Angela Merkel mengatakan dia “sangat terguncang” oleh “pembunuhan mengerikan” di gereja di Nice, dan menyatakan rasa berdukanya bagi kerabat korban yang terbunuh.

“Bangsa Prancis memiliki solidaritas Jerman di saat-saat sulit ini,” kata Merkel melalui juru bicaranya Steffan Seibart di Twitter.

Negara-negara Muslim Mengutuk Serangan

Polisi menyisir area lapangan Esplanade du Trocadero dekat Menara Eiffel saat lockdown di Paris, Prancis, Rabu (18/3/2020). Sampai Selasa (17/3/2020), Prancis memiliki 6.633 kasus virus corona COVID-19 dengan 148 kematian. (Ludovic MARIN/AFP)
Polisi menyisir area lapangan Esplanade du Trocadero dekat Menara Eiffel saat lockdown di Paris, Prancis, Rabu (18/3/2020). Sampai Selasa (17/3/2020), Prancis memiliki 6.633 kasus virus corona COVID-19 dengan 148 kematian. (Ludovic MARIN/AFP)

Terlepas dari pertengkaran diplomatik antara kedua negara, Turki adalah salah satu negara yang pertama kali menyampaikan rasa belasungkawa kepada para korban.

“Kami berdiri dalam solidaritas dengan rakyat Prancis melawan teror dan kekerasan,” kata pernyataan kementerian luar negeri Turki, seperti dilansir DW, Jumat (30/10/2020).

Juru bicara kepresidenan Turki, Ibrahim Kalin, menuliskan cuitan dalam bahasa Turki dan Prancis: ‘Kami akan memerangi semua jenis teror dan ekstremisme dengan tekad dan solidaritas.”

Arab Saudi juga mengeluarkan pernyataan yang mengutuk “tindakan ekstremis” yang “bertentangan dengan semua agama,” seraya menambahkan bahwa penting untuk menghindari “semua praktik yang menghasilkan kekerasan karena kebencian dan ekstremisme.”

Menteri Luar Negeri Pakistan, Shah Mahmood Qureshi, mengatakan kepada wartawan bahwa Pakistan “mengutuk kekerasan dimanapun itu terjadi.”

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menuliskan cuitan dalam Bahasa Inggris bahwa “lingkaran setan” dari ujaran kebencian, provokasi dan kekerasan harus “diganti dengan akal dan kewarasan”.

“Kita harus menyadari bahwa radikalisme menghasilkan lebih banyak radikalisme, dan perdamaian tidak dapat dicapai dengan provokasi yang buruk,” tambahnya.

Tunisia, negara asal tersangka pembunuhan juga mengeluarkan pernyataan yang mengatakan “mengutuk keras insiden teroris di Nice” dan menyatakan “solidaritas dengan rakyat dan pemerintah Prancis.”

Negara Afrika Utara itu juga menolak “semua bentuk terorisme dan ekstremisme,” seraya menyatakan penolakan atas “ekploitasi iedologis dan politik terhadap agama,” demikian menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri.

Paus Kecam Terorisme

Polisi berpatroli di Lille, Prancis, Jumat (16/10/2020). Prancis mengerahkan 12.000 polisi untuk memberlakukan jam malam baru mulai Jumat malam hingga bulan depan untuk memperlambat penyebaran COVID-19. (AP Photo/Michel Spingler)
Polisi berpatroli di Lille, Prancis, Jumat (16/10/2020). Prancis mengerahkan 12.000 polisi untuk memberlakukan jam malam baru mulai Jumat malam hingga bulan depan untuk memperlambat penyebaran COVID-19. (AP Photo/Michel Spingler)

Paus Francis, pemimpin Gereja Katolik mengatakan bahwa dia berdoa untuk keluarga mereka yang terbunuh di Katedral Notre Dame Nice, seraya menambahkan bahwa “terorisme dan kekerasan tidak akan pernah bisa diterima.”

“Serangan hari ini telah menabur kematian di tempat penuh cinta dan pelipur lara. Paus menyadari situasi ini dan ikut berduka dengan komunitas Katolik,” kata juru bicara Vatikan Matteo Bruni.

Paus mengatakan dia mendesak orang-orang di Prancis untuk “bersatu memerangi kejahatan dengan kebaikan.”

Saksikan video pilihan di bawah ini: