Serat Pisang Abaka, Andalan Baru Produk Ekspor Sulut ke Inggris dan Jepang

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Manado - Karantina Pertanian Manado terus mengeksplorasi wilayah Sulut untuk mengupayakan penambahan volume ekspor maupun jenis komoditas ekspor baru. Salah satu target eksplorasi Karantina Pertanian Manado adalah serat pisang Abaka di Desa Tarun, Kabupaten Kepulauan Talaud.

Berdasarkan data IQFAST Karantina Pertanian Manado, tahun 2019 serat Abaka sudah pernah diekspor ke Inggris dan di tahun 2020 juga masuk pasar Jepang. Diharapkan serat pisang Abaka bisa menjadi salah satu andalan ekspor Sulut.

“Pekan lalu kami lakukan kunjungan lapangan ke kebun pisang abaka untuk melihat langsung budidaya pisang abaka dan menggali informasi kendala-kendala yang dihadapi petani pisang abaka," ujar Kepala Karantina Pertanian Manado Donni Muksydayan, Kamis (29/4/2021).

Donni mengatakan, Abaka merupakan tanaman endemik yang tumbuh liar di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulut, namun sekarang sudah mulai dibudidayakan. Tanaman dengan nama latin Musa textilis termasuk dalam famili Musaceae atau jenis pisang-pisangan.

“Bentuknya menyerupai pohon pisang, namun buahnya sangat kecil serta memiliki serat yang sangat kuat di bagian pelepahnya,” ungkap Donni.

Kekuatan serat abaka inilah yang dapat menjadi nilai tambah karena setelah diolah dapat dijadikan bahan baku untuk pembuatan tali tambang kapal, karpet, maupun barang-barang souvenir seperti tas, sandal atau topi.

Konon, serat dari batang pisang ini juga digunakan sebagai bahan baku kertas uang dengan kualitas terbaik, sehingga dipakai untuk mencetak dolar Amerika dan euro.

“Serat Abaka merupakan salah satu produk unggulan dari Talaud selain kelapa, kopra, cengkih, dan pala," tambah dia.

Donni berharap melalui kunjungan lapangan itu mampu menggali potensi-potensi ekspor yang berasal dari komoditas pertanian seperti di wilayah Kepulauan Talaud, Sulut.

Simak juga video pilihan berikut: