Serba Mahal Usai Harga BBM Naik

Merdeka.com - Merdeka.com - Hari Sabtu (3/9) menjadi hari yang cukup mengejutkan bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Pemerintah tiba-tiba mengumumkan kenaikan harga BBM jenis pertalite, solar, dan pertamax dengan persentase penyesuaian harga berkisar 16 persen sampai 32 persen.

Pemerintah memutuskan menaikkan harga pertalite sebesar Rp2.350 per liter atau setara 30,7 persen dari sebelumnya Rp7.650 per liter menjadi Rp10.000 per liter.

Sedangkan harga solar naik sebesar Rp1.650 per liter atau setara 32 persen dari sebelumnya Rp5.150 per liter menjadi Rp6.800 per liter. Sedangkan penyesuaian pertamax adalah yang paling kecil, naik Rp2.000 per liter atau setara 16 persen dari sebelumnya Rp12.500 per liter menjadi Rp14.500 per liter.

Keputusan pemerintah menaikkan harga BBM membawa dampak cukup signifikan di kehidupan masyarakat. Harga beberapa kebutuhan, baik barang maupun jasa mengalami kenaikan.

Menteri Perhubungan (Menhub,) Budi Karya Sumadi merespons dampak kenaikan harga BBM dengan penyesuaian tarif di sektor transportasi.

"Besaran tarif akan ditentukan oleh kajian yang tengah kami lakukan, dan hasilnya akan kami sampaikan dalam waktu dekat," kata Menhub di Jakarta.

Dia menjelaskan, Kemenhub telah melakukan koordinasi dengan Kementerian/Lembaga, termasuk dengan pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan, serta mendengarkan saran dan masukan dari berbagai pihak. Menurut dia, komponen bahan bakar menjadi faktor yang cukup besar pada operasional layanan transportasi yaitu berkisar antara 11 hingga 40 persen, sehingga berbagai penyesuaian pun harus dilakukan.

Anggota Fraksi PKS DPR RI Syahrul Aidi Maazat menilai kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) justru semakin menekan ekonomi masyarakat kecil. Karena itu dia meminta pemerintah cari opsi lain untuk mempertahankan neraca keuangan saat ini.

"Kita menyayangkan tindakan pemerintah yang secara tiba-tiba menaikkan harga BBM. Saat ini kondisi ekonomi tidak stabil, sekecil apapun kebijakan mempengaruhi ekonomi masyarakat." kata Syahrul Aidi di Jakarta, Senin (6/9).

Tak Hanya Transportasi, Ini Dampak Kenaikan Harga BBM yang membuat jadi serba mahal:

Tarif Rental Mobil

Asosiasi Pengusaha Rental Mobil Banda Aceh-Aceh Besar (Asperba) menaikkan biaya rental mobil di wilayah setempat sebesar Rp50.000 per hari untuk setiap jenis mobil dari harga sewa normal sebelumnya.

"Kita sudah sepakat untuk menaikkan harga baik itu untuk mobil Avanza, Innova reborn, Brio, Pajero dan Fortune," kata Ketua Asperba Irham, dikutip dari Antara Banda Aceh, Selasa (6/9).

Irham mengatakan, perubahan harga tersebut menyusul naiknya harga BBM bersubsidi jenis Pertalite, Solar dan Pertamax, sehingga mereka sepakat menaikkan tarif.

Irham menyampaikan, harga rental mobil dinaikkan selain karena kebutuhan minyak yang tinggi, juga disebabkan sudah mahalnya ban mobil dan suku cadang lainnya.

"Maka dari itu mau tidak mau harus kita naikkan harganya dan ini kesepakatan bersama dari pengusaha rental di Banda Aceh dan Aceh Besar," ujarnya.

Setelah ini, kata Irham, pihaknya segera membuat badan hukum baru terhadap kenaikan tarif sehingga ketika ada permasalahan ke depannya sudah memiliki payung hukum.

Harga Sembako Bakal Lebih Mahal

Ketua Bidang Penguatan Usaha dan Investasi Dewan Pengurus Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (DPP IKAPPI) khawatir kenaikan harga BBM akan berdampak besar ke banyak sektor. Salah satunya bagi pedagang pasar. Dia memperkirakan kenaikan harga BBM bisa mengkerek kenaikan harga-harga sembako yang menjadi kebutuhan masyarakat.

"Mungkin hari ini masih belum terlalu terlihat, karena masih penyesuaian harga, namun kenaikan harga sembako itu pasti," kata Choirul dalam keterangan resminya, Jakarta, Selasa (6/9).

Dia menuturkan kenaikan harga BBM ini akan memberikan efek domino terhadap kehidupan masyarakat, seperti inflasi, biaya transportasi, hingga lonjakan harga pangan. Dia memperkirakan kenaikan harga BBM ini bisa berbuah inflasi hingga 8 persen. Apalagi per Agustus, tingkat inflasi sudah ada di level 4,69 persen.

"Ada kemungkinan pasca kenaikan harga BBM analisa dari perbankan dan ekonom menyebutkan paling buruk yaitu 6 hingga 8 persen," kata dia.

Meski kenaikan harga BBM belum genap sepekan, Choirul mengatakan dampaknya sudah mulai terasa di tingkat pedagang pasar. Terlihat dengan naiknya harga daging ayam dan cabai di sejumlah daerah.

"Dampak kenaikan harga BBM untuk awal saja sudah terlihat sekali. Baru berapa hari naik, harga daging ayam di wilayah Singaparna sudah mulai naik, harga cabai di Tasikmalaya sudah naik," kata dia.

"Jangan sampai nanti ketika harga sembako sudah mulai naik malah saling menyalahkan. Pasalnya saling menyalahkan ini sudah pernah terjadi saat kenaikan harga cabai beberapa waktu lalu," imbuh Choirul.

Tarif Angkutan Umum Sudah Naik

Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sepakat menaikkan tarif angkutan umum secara beragam, sesuai jarak tempuh mulai dari Rp1.000 hingga Rp2.000.

Sekretaris Organda Kabupaten Bogor, Haryandi menerangkan bahwa tarif jarak dekat naik sebesar Rp1.000, jarak sedang naik Rp1.500 dan tarif jarak jauh naik Rp2.000.

Menurutnya, Organda Kabupaten Bogor terpaksa ikut menaikkan tarif angkutan umum karena adanya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada 3 September lalu.

"Kami dengan beberapa pertimbangan, di samping pelayanan kepada masyarakat tidak boleh berhenti atas kebutuhan angkutan umum dan harus kondusif, sehingga kami memutuskan menaikkan tarif meskipun dengan kondisi terpaksa," terangnya.

Haryandi menyebutkan, kenaikan tarif tersebut berlaku baik bagi Angkutan Perkotaan Lokal Kabupaten Bogor maupun Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) di seluruh wilayah Kabupaten Bogor.

Penyesuaian tarif itu, kata Haryandi, berlaku di sekitar 30 trayek angkutan umum yang ada di Kabupaten Bogor.

"Seketika itu juga kita bangun komunikasi di lapangan agar tidak ada gap waktu sehingga kebingungan dan akhirnya mengambil kebijakan kenaikan harga yang tidak realistis seperti yang kita arahkan," kata Haryandi. [idr]